SEPENGGAL RINDU DI BAIT-BAIT PUISI
SEPENGGAL RINDU DI BAIT-BAIT PUISI
"Dri, ibu sudah sepuh. Sering sakit-sakitan. Entah berapa kali kamu bertanya tentang ayah. Ibu selalu menyembunyikan. Ibu kira sekarang sudah waktunya." Ibu menyerahkan sebuah kotak berisi lembaran tulisan tangan yang tidak aku kenal.
"Ini kotak kenangan ayah. Semua tentang ayahmu ada di dalamnya. Sepenggal kenangan yang sebenarnya ibu harap mampu ibu hapus dari ingatan." Ibu menghela napas.
"Ayahmu tidak bertanggungjawab. Ia pergi dari rumah ketika kamu masih balita. Tak ada kabar berita hingga detik ini." Sorot mata ibu nanar.
"Hanya lembar-lembar puisi ini warisannya. Jika kamu penasaran dengan ayahmu. Di sini juga ada alamat keluarga ayah. Silahkan jika mau mencari tahu. Itu hakmu." Ibu mendengus. Ada amarah di nada suaranya.
Mataku memejam. Mendengar gemuruh di dada. Merasakan hingga buku-buku jari perasaan yang tercipta. Perlahan bulir bening terbit di sudut kelopak.
Bergetar tanganku membaca sepenggal puisi yang ayah tulis.
SEPUCUK PUISI
:Untuk Indriani Cahyati
Hari ini tak akan aku hadiahkan boneka untukmu anakku ... aku kan tulis sepucuk puisi untukmu
Di perjalanan hari yang kau jalani. Ada pendar pelangi dan juga pekat gerhana matahari. Ada jalan berbatu ada jalan lurus tanpa paku. Ada mentari berseri ada pula beliung tanpa henti.
Tak ada satu pun yang mampu mengatur itu.. mengendalikan apa yang ada di luar dirimu. Rasanya sebuah kemustahilan.
Angin bisa berembus ke 8 mata penjuru. Maka yang bisa kalian lakukan adalah membuat kapal yang kuat, mengamati arah angin dan mengendalikan layar hingga kapalmu bisa melaju
Sering, arah angin tak sesuai yang kau tuju...ikutilah itu dahulu. Kau tak pernah tahu sebenar-benarnya tujuan tanpa melalui jalan yang salah. Bertanyalah, lihat peta kembali
Hidup adalah labirin, hanya yang terus berjalan dan mencari yang akan sampai pintu keluar
Bandung, 2001
***
Rahmat menjejakkan lagi kakinya di Bandung. Setelah hampir 20 tahun mengembara di negeri asing. Menjadi gembel di Berlin hingga berakhir menjadi dosen seni di salah satu universitas terkemuka di Eropa.
Hidupnya kini memang sudah mapan. Sungguh jauh dibandingkan hari-hari di kota ini.
Rahmat mengedarkan pandangannya mencari petugas travel yang bertugas menjemputnya. "Maaf, Pak Rahmat?" Seorang pemuda tersenyum ramah langsung mengambil kopernya.
Mobil melaju membelah Kota Kembang. Rahmat memutar otak, bagaimana ia bisa bertemu anaknya.
Hampir setiap malam, Rahmat bermimpi tentang Indri. Cinta ayah pada putrinya menembus benua, melintasi samudra. Apalagi pernikahannya dengan Clare tidak dikaruniai buah hati.
Rahmat memandang gawai. Alisnya berkerut. Detik kemudian benaknya bercahaya. Jarinya mengetik Indriani Cahyati di Google.
Rahmat menahan napas mengetahui hasilnya. Penelusuran teratas ia klik. Matanya membelalak. Ratusan puisi yang pernah ia tulis memenuhi layar gawai.
MELALAIKAN PUISI
Beranjak waktu menjadi renta
Keriput, ringkih serta pikun
Beranjak waktu menjadi senja
Kerja, gegas lalu tiada
Beranjak waktu menjadi hilang
Palung paling dalam aku tenggelam
Bandung, 2001
Rahmat tak bisa menahan tangis membaca kalimat pengantar blog milik putrinya itu.
Hanya lewat puisi aku mengenalmu, yah. Aku puisi tak bermakna tanpa kehadiranmu. Setiap malam kutenggelam di larik-larik puisimu. Aku baca sebagai pengobat rindu.
Aku sebenarnya marah atas kepergianmu. Namun, rinduku samudra sedang marahku hanya setetes air. Maka, pulanglah ... pulanglah ayah segera. Aku menanti ...
Penuh haru biru aku membacanya . Bikin larut
BalasHapusPuisi adalah media mencurahkan segala rasa, yang disampaikan dengan bungkus yang indah
BalasHapusjadi ikutan melow bacanya, untaian kata yang indah. Namun, jika diperlakukan seperti itu tentunya siapapun akan marah
BalasHapusLuar biasa karyanya, aku jd kangen ibuku. Bgmnpun slhnya seorg bpk, dia adalah orgtua kita
BalasHapusMelampiaskan kerinduan dengan anggun.
BalasHapusSaya turut hanyut dalam tulisannya, Mba.
Makin keren, tulisannya :)
keren kak tulisannya, penafsirannya itu loh buat q terhanyut bacanya.
BalasHapusPuisi nya bagus banget kak, maknanya dalam..
BalasHapusBetul, hidup itu labirin
BalasHapusTulisan dan puisinya keren sekali kak.
BalasHapusDuh...terharu bacanya
BalasHapuspanas hidung dan pelupuk mata aku bacanya, gimana endingnya ya?
BalasHapus