SAYUR LODEH IBU
SAYUR LODEH IBU
Saya gak suka daging sapi. Sejak kecil sudah gak suka. Kalau kerasa makanan yang ada anyir daging sapi, saya merasa mual. Bakso, sosis atau irisan kecil di nasi goreng pasti saya bisa rasa. Kemudian memuntahkannya karena merasa anyir.
Alhamdulillah keluarga toleran mengenai ini. Jadi kalau lebaran ibu selalu memasak khusus yang versi tanpa daging untuk saya Teman-teman juga kalau ngajak ngebaso, mengerti kalau saya pesannya menu lain yang tanpa daging sapi.
Kemarin ibu saya memasak sayur lodeh untuk makan siang. Pas saya coba, wiih ini enak! Rasanya berbeda dengan sayur lodeh yang biasanya ibu masak. Saya sampai bilang, "Bu, sayur lodehnya enak!"
Ibu saya menanggapi, "Ah, biasa aja," dengan nada datar.
Hari ini ketika sarapan, saya makan lagi sayur lodeh itu. Saya siram nasi putih dengan kuah yang banyak. Terbayang nikmatnya sayur lodeh di lidah seperti kemarin. Ibu saya menatap dari arah dapur ketika saya akan makan di ruang tengah. Rautnya berbeda.
Ketika akan menyuap sarapan, terdengar suara ibu dari arah dapur. "Itu, sebenarnya pakai paru lho. Ada sedikit paru sapi sisa idul Adha kemarin di freezer. Ibu potong kecil-kecil. Beri bumbu yang banyak. Enak kan?"
Mata saya membelalak mendengar kalimat itu. Lodeh dalam mulut yang awalnya terasa lezat berubah anyir. Alis saya berkerut merasa tak berselera. Awalnya begitu semangat sarapan jadi terdiam. Sungguh merasa berat menghabiskan satu mangkuk lodeh.
"Wah, tahu teteh bakal gitu. Ibu gak akan kasih tahu," ibuku berseloroh dari arah dapur kala melihat saya berhenti menikmati sayur lodeh.
Alis saya berkerut dangan bibir cemberut terpaksa menghabiskan sayur lodeh. Rasa mual perlahan memenuhi rongga mulut. Benak mencoba mengingat kembali betapa nikmat sarapan sayur lodeh ini ketika makan siang kemarin. Ah, tapi itu tak banyak berpengaruh. Tetap saya kehilangan selera.
Dari kejadian itu, saya menyadari suatu bukti pernyataan yang telah lama diketahui. Benarlah pikiran yang muncul menentukan bagaimana perasaan.
Komentar
Posting Komentar