Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2022

CATATAN DI TANTANGAN TERAKHIR

 CATATAN DI TANTANGAN TERAKHIR  Bismillahhirahmanirahim. Semoga saya bisa menyelesaikan tulisan ini sampai rampung 600 kata. Badan sedang kurang fit. Adaptasi mengajar dari daring ke luring memang luar biasa. Nampaknya tubuh shock dengan perubahannya. Sudahlah curhatnya. Mari kita mulai essaynya. Hm, sebenarnya dari dua tahun yang lalu saya ingin bergabung dengan ODOP. Namun entah mengapa gak jadi saja. Maka, Alhamdulilllah 🤲🏻 di tahun ini bisa ikut seleksi. Yang ternyata sebuah seleksi ya ng tak main-main. Hal yang paling "mengerikan" ada dua. Pertama adalah syarat jumlah kata yang terus meningkat setiap pekannya. Weleh-weleh saya yang biasanya ikut challenge menulis puisi yang hanya beberapa bait. Kini harus putar otak agar tulisan bisa sesuai syarat. Namun Alhamdulilllahnya sampai sekarang masih bisa berjalan. Yang ke dua adalah panjangnya waktu challenge. Saya sampai lupa apa 2 bulan atau 3 bulan ya? Bisa konsisten selama itu sungguh membutuhkan perjuangan. Apalagi kala...

SARAH DAN DONI

  SARAH DAN DONI "Sar, maafkan saya ya..." Doni mengulurkan tangannya. Sarah hanya diam menunduk masih terisak sakit hati. "Saya janji gak akan mengejek nama ayahmu lagi." Doni meyakinkan Sarah. Sarah mengangguk terpaksa karena sorot mata Bu guru dan teman-teman memberi tatapan harap itu yang harus ia lakukan. "Doni, ingat jangan diulangi lagi!" Bu Arini dengan tegas memperingati Doni. Lima detik kemudian kerumunan bubar. Teman-temannya kembali bermain dan pergi ke kantin. Bu Arini meninggalkan ruang kelas menuju ruang guru. Sedang Sarah duduk di bangkunya masih menunduk. Jelas anggukan kepalanya tadi bukan berasal dari hatinya.  *** "Teh, ini titip fotokopi kartu keluarga. Berikan pada bu guru." Kata mamah waktu Sarah berangkat sekolah. "Iya, Mah!" jawab Sarah sambil memasukan lembar itu ke dalam tasnya. Berjalan menuju sekolah seperti biasa. Ketika sampai ruang kelas ternyata teman-temannya belum ada yang datang. Ia duduk di bangkunya...

JODOH PASTI BERTEMU

 JODOH PASTI BERTEMU Gedung pencakar langit POISE Cosmetic menjulang tinggi di awan. Gedung dengan perpaduan kecanggihan teknologi dan keindahan alam. Di sampingnya terdapat danau buatan dengan pepohonan rindang. Sebuah tempat yang sengaja dibangun agar karyawannya dapat sejenak menghilangkan penat. Ahmad menatap lekat-lekat gedung di hadapannya.  Ahmad memegang map laporan rekapitulasi penjualan pekan terakhir. Ia masuk ke dalam lift lalu memencet tombol 15. Ruangan Renata sangat nyaman dengan rak sepanjang dinding memajang seluruh produk POISE. Ahmad mengetuk "Mbak, ini laporan ..." Kaki Ahmad mengayun masuk.  "Eh, maaf saya kira tidak ada tamu." Ahmad mengayun langkah mundur keluar pintu. "Gak papa, sini masuk. Perkenalkan ini Dikta." Mata Renata gemintang dengan senyum canggung. Ahmad dan Dikta saling berjabat "Saya Ahmad." Dikta membuka gawai "Maaf, saya pamit dulu. Ada rapat mendadak." Renata mengangguk lalu tersenyum. "Jadi,...

HILANGNYA SUARA RAKYAT

HILANGNYA SUARA RAKYAT Pada zaman dahulu kala terjadi gelombang protes besar-besaran di kerajaan Sriwedari.  Dari atas balkon Sang raja bergidik melihat ribuan rakyat berderap mendatangi istana.  Pekik riuh memekakan telinga. Meneriakan kalimat yang sama “Wahai Raja, turunkan pajak sekarang juga!” Kalimat itu menggetarkan dinding istana. Sebuah getaran yang akan meluluhlantakkan istana. Protes ini berawal dari keputusan Sang Raja yang menaikan pajak hingga dua kali lipat. Awalnya tak ada yang berani menolak, namun itu tak bertahan lama. Sesuatu yang tidak seimbang perlahan akan mencari keseimbangannya. Gelombang protes mendera istana. Dipimpin oleh pemuda gagah berani bernama Rengga. Ratusan rakyat kerajaan Sriwedari turun ke jalan. Mengular menuju istana memprotes kebijakan Sang Raja. Raja mondar-mandir di depan singgasananya. Alisnya berkerut dengan tangan memegang dagu. Mencari jalan keluar dari persoalannya. Benaknya terus berputar. Aha!! “Pengawal, panggil penyihir istana...

TAMU SELEPAS ISYA

 TAMU SELEPAS ISYA "De, Om Alif ternyata ada tugas mendadak. Jadi besok gak bisa ikut acara "Ayahku Pahlawanku". Besok Dede di rumah aja ya. Gak usah ke sekolah," ucapku pada Dede. "Maah ..., Dede ingin ikut atuh. Kata Bu guru wajib," wajah Dede cemberut. Aku menatap Dede. Wajahnya begitu mirip dengan Akang Ridwan. Air mataku mulai menggenang di pelupuk. Ah, kang tak kusangka akang pergi begitu cepat. Dede duduk di pangkuanku. Matanya begitu jernih. Menatap penuh harap agar aku mengabulkan permintaannya. "De ..., Mamah dah berusaha minta Om Alif  adik ayah almarhum buat ikut acara Dede di sekolah tapi ternyata gak bisa. Gak apa-apa ya?" Aku menjelaskan kembali. Kali ini Dede tidak menjawab apa-apa. Ia langsung memeluk lalu terisak di pangkuanku.  *** "Mah, tau gak? Besok ada yang bisa temeni Dede ke acara "Ayahku Pahlawanku" di sekolah," mata Dede gemintang sepulang mengaji sore. Alisku berkerut lalu mendekati Dede. "Apa ...

MELANGITKAN SYUKUR

 MELANGITKAN SYUKUR Satu Setiap melakukan perjalanan, kita sering melihat orang gila di jalan. Kita menatapnya nanar lalu berkelebat dipikir. Bagaimana kalau kita jadi orang gila? Sekerejap..hati hangat dan mendapat jawabnya. Pernahkah kita bersyukur atas nikmat Allah bahwa masih diberi kesadaran? Dua Malam ini sayup terdengar, dari layar kaca. Pengungsi tidur di emperan jalan.. anak-anak bermata kejora memeluk boneka kumal. Sorot matanya nanar. Tubuhnya banjir oleh peluh. Nafasnya tersengal debu polusi. Entah kapan terakhir mereka bisa menikmati segarnya air mandi. Dari negaranya mereka dianiaya. Puluhan hari mereka berjalan kaki lalu mempertaruhkan nyawa dengan perahu seadanya lintasi samudra, berharap ada negara yang mengakui mereka sebagai warganya. Sang wartawan bertanya apa harapan mereka. Sang pengungsi menjawab mereka berharap dapat hidup aman dan tentram. Lalu ada negara yang memberi mereka kewarganegaraan.  Basah hati mendengar itu.. lalu bertanya pernahkah kita bers...

SEPULANG SEKOLAH

 SEPULANG SEKOLAH Rusdi merogoh saku celana merah. Diambilnya segenggam gundu dengan rona bahagia. Senyum kemenangan jelas terlukis di wajahnya. Istirahat kali ia jadi raja lapangan. Tak ada satu pun yang mampu mengalahkannya dalam beradu gundu. "Ajarin lah, gimana caranya!" Nanang teman sebangkunya menyenggolkan sikunya ke tubuh Rusdi.  Rusdi mengangkat lehernya lalu menepuk dada. Wajahnya tersenyum jahil. "Itu mah gampang ...! Nanti pulang sekolah ke rumah yuk. Aku ajarin!"  "Baik anak-anak jangan lupa kerjakan PR ya!" Suara bu guru mengakhiri pelajaran kelas 3C. Selepas selesai berdoa tanpa komando, seluruh siswa melipat tangannya di depan dada, tubuhnya sikap sempurna dengan wajah kaku seperti menahan napas. "Baik, barisan Rusdi boleh pulang duluan!" suara sorak sorai jelas terdengar. Nanang dan Rusdi jalan beriringan keluar pintu kelas. "Rus, aku bilang dulu kakakku ya!" Nanang berjalan ke kelas 5 mau bilang dulu ke kakaknya bahwa ...

KESEBELASAN JUARA

 KESEBELASAN JAWARA "Triiit..." Pertandingan selesai. Margo merunduk. Rautnya kesal. Matanya memejam dengan nafas naik turun. Tangannya mengepal kencang. Ini kekalahan ketiga kalinya. Membayang di imaji benak kemarahan Tuan Ridwan pelatihnya. Margo berjalan melalui lorong stadion. Riuh keramaian pertandingan telah selesai. Margo memilih menenangkan diri. Selain itu, ia menghindari wartawan yang pasti mengerubunginya. Derap langkahnya bergaung ... Margo melihat sebuah pintu terbuka. Sebelumnya ia tak tahu ada ruangan ini. Ada sinar aneh memancar. Sebuah kekuatan besar menarik langkahnya ke dalam. Sebuah ruang kosong di sana. Berpendar tali sepatu di lantai. Berkilau tulisan scarab di ujungnya. Ketika Margo menyentuhnya. Ada kekuatan yang mengalir di sekujur tubuh. Dari ujung kepala hingga kaki.  Margo memejam mata. Film hitam putih memutar di benaknya. Adegan masa kecil. Ia bermain bola bersama ayahnya. Betapa ia bahagia. Bermain di lapangan belakang rumah. Mereka berkejaran b...

MENGULIK KONFLIK CERPEN SETELAH TIGA WINDU

MENGULIK KONFLIK CERPEN SETELAH TIGA WINDU https://www.ngodop.com/2022/01/cerpen-setelah-tiga-windu.html?m=1 Cerpen ini begitu menarik perhatian saya bukan karena sesuatu yang wah. Justru sebaliknya cerpen ini begitu menarik karena kesederhanaan Lidwina Ro (sang penulis) mengangkat konflik sang tokoh utama.  Ada tiga alasan saya memilih cerpen ini untuk tugas mengulik konflik. Pertama, cerpen ini mengangkat konflik batin yang tak mendidih atau bergolak namun tetap menarik untuk diangkat. Kedua, adalah tema yang diangkat merupakan peristiwa keseharian yang sering kali luput diangkat dalam cerita. Ketiga adalah sudut pandang orang pertama yang dipilih penulis untuk menceritakan konflik sangat tepat. Saya rasa jika menggunakan sudut pandang yang lain cerita ini akan begitu biasa tak terasa hikmahnya. Pembuka cerpen ini tak ada gebrakan yang menghentak namun sebaliknya begitu mendayu namun tetap membuat pembaca penasaran. Aku sebenarnya selalu diam-diam menyimak setiap kali orang-o...

KEKUATAN BERSIN

 KEKUATAN BERSIN "Haaachiiw" hembus kencang angin seketika melemparkan meja dan kursi-kursi. "Astagfirullah, Rohtoar hati-hati dengan bersinmu!" ucap ibu. Kami adalah keluarga super Hero. Ayahku mampu mengangkat mobil dengan satu lengan. Ibuku teriaknya menghancurkan dinding. Kakak sulungku, Amala mampu membaca pikiran orang lain. Kakak keduaku, Sendaka mampu mengerti bahasa binatang. Sedang aku yang paling bungsu, kalau bersin dapat melemparkan apa pun yang ada di depanku. Suatu hari keluarga kami mendapat tugas membantu polisi hutan dalam kasus penyelundupan hewan liar di Hutan Swalana. Perjalanan kesana awalnya menggunakan mobil jeep sampai Desa Hulala. Lalu diteruskan dengan jalan kaki. Menuju kaki Gunung Haromba letak Hutan Swalana. Dari keterangan polisi hutan, di sini terdapat puluhan pemburu liar yang menjadi supplier hewan liar khas Hutan Swalana. Hewan yang paling banyak diminati adalah rakiki sejenis tupai namun lebih menggemaskan dari tupai biasa. Warnan...

TAK ADA SARAPAN LAGI

 TAK ADA SARAPAN LAGI Aku berguling di lantai. Menguap lebar lalu memejam mata. Lelaki penjaga pagar  masih mendendangkan suara berisik. Malam telah tua. Embus angin menggoyangkan pohon palem di beranda sekolah. Suara pagar digeser membangunkanku. Aku menguap sambil meregangkan keempat kakiku. Lelaki penjaga pagar sudah siap dengan peluit serta tongkat pendek di tangannya.  Anak-anak berseragam datang satu persatu. Aku berbaring malas masih di beranda. Berkawan paving block abu menanti tuanku datang.  Suara derit motor dan wangi khas menyerbu cepat. Aku terkesiap. Mendongkakan kepala dengan sorot mata waspada. Motor diparkir di tempat biasa.  Aku berlari menujunya. Mengeong manja. Ia lalu sejenak menatapku. Lalu berkata, "Iya, sayang sebentar." Ia menurunkan banyak barang. Lalu mengangkatnya masuk ke kantin sekolah. Aku melangkah ringan tepat di belakangnya.  Sejenak ia akan menaruh barang-barang di posisi yang sama. Sedang aku kembali berbaring manja di ko...

INI SAMA SEKALI BUKAN KOMEDI

 INI SAMA SEKALI BUKAN KOMEDI Di sebuah komplek penjara bernama Lapas Tebing Tinggi. Terbentang lahan seluas 5 hektar, penjara tua ini berusia lebih dari 100 tahun. Angker, kelam, menyimpan sejuta cerita seram.  Ada 190 napi perempuan dikurung di dalamnya. Mereka terbagi ke dalam 6 blok, yang masing-masing dipimpin oleh seorang komandan. Di salah satu sel, Rina menatap nanar jeruji besi di hadapnya. Merembes air matanya kala ingat suami dan anaknya di rumah. Sebuah alasan yang konyol mungkin kata banyak orang. Ia bisa terkurung di sini sebagai pelaku penyebar berita hoaks Covid-19.  Kisah ini bermula dari kejadian sepele. Sesuatu yang sebelumnya tak terbayang di benaknya. Hanya masalah praduga yang berkelindan tak terkendali berujung petaka ini. Benaknya kembali memutar ketika ia berbelanja ke pasar. Deru sirine ambulans mengiang keras bersaing dengan riuhnya pasar. Rina melihatnya lalu iseng merekam video ambulans lewat.  Sambil menunggu pesanan ojol untuk pulang ke...

ADA APA DENGAN RENGGA

  ADA APA DENGAN RENGGA? "Ngga jadi nonton Coldplay di Singapura?" tanya Ivan membuyarkan lekat sorot Rengga di laptop. "Eh, iya kasian Canti dah nungguin di sana"   Ivan mendekati Rengga."Terus, kenapa lu masih disini?"  Rengga menghela nafas. "Tulisan ini harus selesai. Gak kebayang kalau tulisan ini gak jadi terbit"  Ivan mengambil tasnya lalu melangkah ke pintu keluar. "Oke, kalau gitu gue pulang duluan ya!" Rengga mengangguk masih tetap lekat memandang laptop. "Sayang, dah boarding?" Suara Canti mengalun di gawai Rengga. Rengga menarik koper menuju bagian pemeriksaan paspor. "Iya, sebentar lagi" Rengga duduk di ruang tunggu boarding. Binar matanya gemintang. Ini tahun ke tiga pernikahan mereka. Kehadiran Canti  membuat hidupnya yang dulu hitam putih kini penuh warna. Lengan Rengga menggores sepucuk puisi. Cintaku, Tiga puluh enam purnama Di langit-langit rumah kita Berpendar penuh nuansa Hadirmu di hidupku Gemin...

SEPENGGAL RINDU DI BAIT-BAIT PUISI

SEPENGGAL RINDU DI BAIT-BAIT PUISI "Dri, ibu sudah sepuh. Sering sakit-sakitan. Entah berapa kali kamu bertanya tentang ayah. Ibu selalu menyembunyikan. Ibu kira sekarang sudah waktunya." Ibu menyerahkan sebuah kotak berisi lembaran tulisan tangan yang tidak aku kenal. "Ini kotak kenangan ayah. Semua tentang ayahmu ada di dalamnya. Sepenggal kenangan yang sebenarnya ibu harap mampu ibu hapus dari ingatan." Ibu menghela napas.  "Ayahmu tidak bertanggungjawab. Ia pergi dari rumah ketika kamu masih balita. Tak ada kabar berita hingga detik ini." Sorot mata ibu nanar.  "Hanya lembar-lembar puisi ini warisannya. Jika kamu penasaran dengan ayahmu. Di sini juga ada alamat keluarga ayah. Silahkan jika mau mencari tahu. Itu hakmu." Ibu mendengus. Ada amarah di nada suaranya. Mataku memejam. Mendengar gemuruh di dada. Merasakan hingga buku-buku jari perasaan yang tercipta. Perlahan bulir bening terbit di sudut kelopak.  Bergetar tanganku membaca sepenggal ...

RIMA DAN RAHMAN (5)

 RIMA DAN RAHMAN (5) "Wah! Kayaknya kalau Rahman tahu nama lengkapmu. Dia pasti makin cinta deh!" Tanti menggoda sahabatnya. Rima mendelik sebal ke arah Tanti. Rima baru tahu ternyata Rahman adalah penggemar raja dangdut Rhoma Irama. Sungguh berbeda dengan dirinya yang begitu keki dengan nama itu.  Entah mengapa orang tuanya memberikan nama Rima Irama untuk dirinya. Hingga sejak SD sampai kuliah setiap yang tahu nama lengkapnya pasti menggodanya. "Tenang, nanti kalau dah naik pelaminan namanya jadi Rima Rahman." Tanti kembali menggoda. Rima tersenyum pendar gemintang di matanya. Tanti ikut tersenyum hatinya sungguh bahagia sahabatnya bisa kembali jatuh cinta. Sayup mengalun reff lagu Syahdu. Bila kamu di sisiku hati rasa syahdu Satu hari tak bertemu hati rasa rindu ‘Ku yakin ini semua perasaan cinta Tetapi hatiku malu untuk menyatakannya "Ya! Sudah siap semua." Tanti mengacungkan jempol. Sepanci sayur sop dan sepiring ayam goreng siap disantap. Tanti kelua...

RIMA DAN RAHMAN (4)

 RIMA DAN RAHMAN (4) "Assalamualaikum ..." Tanti berdiri di depan pagar sedang Rima berdiri tepat di belakang Tanti seperti bersembunyi. "Waalaikumsalam." Tak lama kemudian ada yang menyahut dari dalam. Terlihat Rahman menggunakan kaos oblong dan sarung membuka pintu. Wajahnya jelas kaget. Sorot matanya berbicara "Kenapa gak ngasih tahu dulu." Namun kemudian ia tersenyum. "Duh maaf saya pakai sarung. Belum bisa pakai celana. Betisnya bengkak jadi sudah pakainya." Ia berjalan menyeret kaki sebelah kanan untuk membuka pagar. Di depan rumah Rahman terparkir 3 sepeda dalam keadaan rusak. Sebelum masuk ke ruang tamu terdapat ruang bengkel sepeda. Tiga buah lemari menempel di dinding berisi berbagai baut, kunci, tang, gegep dan peralatan lain. Menggantung juga dua buah speaker berwarna hitam. Dua buah pelek sepeda tergeletak di lantai. Ruang tamu rumah Rahman berisi 1 sofa usang yang kulitnya terkelupas dan 2 kursi plastik berwarna hijau. Di tengahnya ...

RIMA DAN RAHMAN (3)

 RIMA DAN RAHMAN (3) "Gimana?" Wajah Tanti begitu penasaran. Sehari selepas Rahman memperbaiki Cakrawala, Tanti berkunjung ke rumah Rima. Rima tak bisa menyembunyikan perasaannya. Reaksi Rima begitu berbeda dibandingkan pertemuan terakhir mereka. Rima senyum sumigrah dengan sipu malu mendengar pertanyaan Tanti. "Sorot matanya teduh. Ayah ibu langsung klop dengan Rahman." Rima menjawab dengan raut bahagia. Tanti senyum-senyum melihat pemandangan ini. Ia tak ingat kapan terakhir sahabatnya itu tersenyum seperti ini. Jelas terpancar pendar bahagia di wajahnya. "Tapi, Tan aku sama sekali belum mengenalnya." Dalam kecepatan cahaya wajah Rima berubah kelabu. "Sebenarnya, tumbuh rasa di hati tapi aku takut seperti yang lalu-lalu." Suara Rima bergetar mengeluarkan semua kekhawatirannya. Tanti menggenggam tangan Rima mencoba menenangkan. "Sepertinya masih perlu waktu ya?" Rima tertunduk air matanya mulai mengalir. Tiba-tiba suara ayah Rima terde...

Rima dan Rahman (2)

RIMA DAN RAHMAN (2) Setelah pembicaraan singkat yang menguras jiwa Tanti pamit. Rima mengantar ke beranda rumah. Ayah Rima tampak sibuk  mengotak-atik sepeda.  "Duh, kemana sekarang service Cakrawala?" Terdengar Ayah Rima bicara sendiri. "Eh, Tanti sudah ketemu sama Rimanya?" Ayah Rima menyapa ramah. Tanti mengangguk sambil tersenyum. "Ini sepeda om, Cakrawala namanya. Lumayan jadi kesibukan di hari tua." Ayah Rima membuka pembicaraan. Tanti yang awalnya akan berjalan pulang jadi duduk kembali. Ayah Rima mulai bercerita tentang Cakrawala.  "Tapi, sayang montir sepeda langganan sekarang sudah pindah kota. Jadi, Cakrawala hanya diam di garasi." Itu kalimat terakhir kisahnya. Mata Tanti membesar, tersungging senyum penuh makna di bibirnya. Tanti menatap Rima. Mata Rima melotot sambil menggeleng kepala. "Jangan!" Rima berkata tanpa suara. "Kebetulan om, saya punya teman montir sepeda andal." Sorot mata Tanti jahil.  Rima kemudian ...

RIMA DAN RAHMAN (1)

 RIMA DAN RAHMAN (1) Rima menatap nanar undangan pernikahan di tangannya. Ia mengusap air mata di pipinya. Biarkan air matanya menetes sekarang nanti ketika saudara-saudara mulai berdatangan ia harus menyungging senyum termanis. Merasa semua baik-baik saja. "Rim, kebayanya sudah digantung ya!" Rima mengangguk memberikan ulas senyum.  "Terima kasih mbak." Rima melihat sekilas kebaya yang harus ia kenakan di pernikahan adiknya. Semua seremoni berlangsung sangat meriah. Beberapa saudara menjaga perasaannya tak bertanya tentang jodoh namun yang lain terang-terangan bertanya kapan nyusul.  Kalimat-kalimat itu seperti desing peluru di telinganya. Peluru itu menancap tepat di dada. Ia paksakan menyungging senyum dengan pola kalimat yang sama. "Iya, belum. Doakan ya!" *** Waktu mengubah warna hijau daun menjadi kuning lalu mengering. Waktu mengubah cucian basah menjadi kering. Namun tak mampu mengubah luka di hati Rima. Adiknya kini telah memiliki tiga anak. Enam ...