RIMA DAN RAHMAN (3)
RIMA DAN RAHMAN (3)
"Gimana?" Wajah Tanti begitu penasaran. Sehari selepas Rahman memperbaiki Cakrawala, Tanti berkunjung ke rumah Rima.
Rima tak bisa menyembunyikan perasaannya. Reaksi Rima begitu berbeda dibandingkan pertemuan terakhir mereka. Rima senyum sumigrah dengan sipu malu mendengar pertanyaan Tanti.
"Sorot matanya teduh. Ayah ibu langsung klop dengan Rahman." Rima menjawab dengan raut bahagia.
Tanti senyum-senyum melihat pemandangan ini. Ia tak ingat kapan terakhir sahabatnya itu tersenyum seperti ini. Jelas terpancar pendar bahagia di wajahnya.
"Tapi, Tan aku sama sekali belum mengenalnya." Dalam kecepatan cahaya wajah Rima berubah kelabu.
"Sebenarnya, tumbuh rasa di hati tapi aku takut seperti yang lalu-lalu." Suara Rima bergetar mengeluarkan semua kekhawatirannya.
Tanti menggenggam tangan Rima mencoba menenangkan. "Sepertinya masih perlu waktu ya?" Rima tertunduk air matanya mulai mengalir.
Tiba-tiba suara ayah Rima terdengar dari balik pintu kamar. "Ada Tanti ya?"
"Iya Om!" Tanti menjawab dari balik pintu.
Segera Rima menyusut air matanya tak memperlihatkan wajah sedih.
Pintu kamar terbuka. "Kemarin, kata Rahman biaya perbaiki Cakrawala tanyakan ke Tanti." Ayah Rima mendekati mereka.
"Oh, sebentar saya lupa jumlahnya. Saya izin telepon sebentar ya Om." Tanti berdiri lalu berjalan menjauhi ayah Rima menelepon Rahman.
Lama telepon berdering hampir Tanti menutup telepon. "Assalamualaikum ..." Suara lemah Rahman menjawab.
"Waalaikumsalam, maaf Rahman saya mengganggu?" Tanti merasa tak enak mendengar suara Rahman baru bangun tidur.
"Gak apa-apa. Ini kayaknya pengaruh obat." Rahman kemudian menjawab.
"Eh, emangnya kenapa?" Tanti heran.
Ternyata sepulang dari rumah Rima, Rahman jatuh dari motor. Kakinya sekarang bengkak dan kini sedang beristirahat.
Rima mencuri dengar percakapan Tanti dan Rahman. Rautnya memantulkan kekhawatiran. Dalam hati ia bertanya, mengapa ia sangat khawatir kepada Rahman? Ia kan bukan siapa-siapa.
Terdengar Tanti mengakhiri pembicaraan telepon dengan Rahman.
"Rim, ayo siap-siap. Kita jenguk Rahman!" Tanti berkata sambil mengambil tasnya.
"Lho? Ini gimana jadi berapa biaya servisnya?" Ayah Rima terlihat kebingungan.
"Oh iya, maaf Om nanti saya beri tahu Rima ya!" Tanti menjawab tergesa.
Raut Rima bingung sambil buru-buru memasang bergo cokelat namun pasrah mengikuti Rima menuju halaman.
"Eh, ini mau kemana?" Ibu Rima kebingungan di beranda.
"Maaf tante, kami akan menjenguk Rahman dulu." Mata Tanti mengerling pada ibu Rima.
Ibu Rima tersenyum mengangguk. Terbit haru di hatinya. Sudah sekian lama anak sulungnya itu tenggelam dalam luka masa lalu. Melihat bagaimana rona malu-malu Rima Rahman kemarin. Ia tahu hati Rima mulai terbuka.
Ibu Rima menatap Tanti dan Rima menjauhi rumah. Hatinya berdoa, "Ya Rabb, semoga ini jalannya."
***
"Bener kita kirim ini?" Rima mengerutkan alis saat melihat Tanti menggantung sayur mayur dan daging ayam mentah di motor.
"Iya! Nanti kita masak di sana." Tanti menjawab sambil memasang helm.
Rima melongo mendengar jawaban Tanti.
Dalam hatinya baru mengerti pantesan pas keluar rumah langsung tanya dimana warung yang jualan sayur.
"Eh, bukannya Rahman di rawat di rumah sakit?" Rima kebingungan.
"Enggak, kita sekarang ke rumahnya!" Jawab Tanti sambil memasukan kunci motor.
"Ayo buruan naik!" Tanti mengagetkan Rima yang masih bingung dengan keadaan.
"Iya... Iya." Rima naik ke motor matic dengan perasaan campur aduk.
Selama perjalanan ke rumah Rahman benak Rima memutar kenangan kemarin ketika Rahman datang ke rumahnya. Tiba-tiba ada yang hangat di hatinya. Rima menatap langit biru matanya memantul lukisan yang begitu indah.
Perjalanan ke rumah Rahman memakan waktu sekitar 30 menit. Tanti berbelok masuk sebuah gang kecil kemudian berhenti di depan rumah bercat biru.
"Kita sudah sampai." Tanti mematikan mesin plang "Servis Sepeda Rahman" dengan tagline "Cahaya Kasih Sayang" di depan pagar.
Rima dan Tanti membaca kalimat itu. Mereka saling pandang kemudian tertawa geli.
Bersambung...
Komentar
Posting Komentar