MENJADI BERBEDA
ELANG TAK BISA MENGAUM
SINGA PUN TAK BISA TERBANG
Waktu menggilas segalanya. Pagi hari terbangun buru-buru sarapan dengan 5 kunyahan. Pamit tanpa kecup anak dan istri. Berlari bagai setan ke tempat kerja.
Dari rapat ke rapat. Semua dilakukan dengan kilat. Makan siang di restoran cepat saji. Tanpa sempat melihat keliling. Hanya detik bundar yang lekat ditatap lagi dan lagi.
Semua berlari bagai chetah, lupa betapa indahnya padang savana. Betapa wangi, bunga yang baru dilewati. Hanya menjadi budak-budak waktu. Tanpa bisa mengambil hikmah dan makna dari perjalanannya.
Begitulah yang saya rasakan atas keadaan kini. Semua serba ingin cepat. Semua ingin serba cepat selesai. Sang cepatlah yang pasti jadi pemenang.
Memang wacana ini klasik. Pembahasan dari generasi ke generasi tentang cepat vs lambat. Hingga fabel kura-kura dan kelinci begitu melegenda. Hmm namun pernahkah kita renungkan, mengapa di fabel tersebut pemenangnya kura-kura bukan kelinci?
Saya merasakan ketidakadilan ketika saya sang kura-kura dipandang sebelah mata oleh individu yang gesit dan jago multitasking.
Maka, ketika orang lain greget melihat kinerja saya yang begitu lambat. Saya merasakan ada penghakiman di sana, ada ketidakpercayaan dan underestimate. Ah, tangan ini mengelus dada merasa minder.
Namun di balik rasa tak enak itu, saya memilih untuk menjadikan jalan introspeksi diri. Saya tahu kok bagi orang yang telah mengenal saya bertahun-tahun, sifat itu hanya satu kekurangan dari beberapa kelebihan.
Di balik alon-alon asal kelakon yang ada di dalam diri saya, saya adalah pribadi yang konsisten, tenang, dan sabar. Maka, saya rasa tidak adil menilai individu hanya dari cepat atau tidaknya mengerjakan sesuatu.
Saya rasa pemenang adalah individu yang mampu menyerap hikmah dan selalu bersyukur atas perjalanan waktu yang menghinggapinya. Terlepas ia cepat atau lambat.
Ketika hidup dipandang sebagai kompetisi bukan sebuah kolaborasi maka rasanya harmonisasi tak akan tercipta. Ingatlah bagaimana alat musik memiliki suara yang berlainan namun mampu menampilkan sebuah komposisi yang begitu menawan.
Ketika semua mampu menampilkan diri yang terbaik tanpa perlu mengkultuskan suara mana yang paling merdu, paling keras atau paling mewah. Maka harmonislah yang akan bergaung.
Bandung, 24 Juni 2022
Komentar
Posting Komentar