PADUKA RAJA TELAH TIADA
PADUKA RAJA TELAH TIADA
Ia menatap ke arahku. Lalu menghentakkan tongkat kebesarannya. Melangkah angkuh tiga ayunan. Menyibak jubah kumal yang terikat di lehernya. Lalu kemudian berkata, "Duhai ratuku! Aku mencintaimu."
Aku bergidik lalu ambil jurus seribu langkah. Kadang ia mengejar sering juga hanya terdiam lalu menangis pilu. Sesenggukan di trotoar sambil mengulang-ulang "Ratuku, jangan pergi. Sungguh aku mencintaimu."
"Rin, gimana Paduka hari ini mengejar lagi gak?" tanya Hani saat aku duduk di sampingnya.
"Untungnya enggak. Dia cuma menangis di pinggir trotoar," jawabku sekarang sudah lebih terbiasa.
Hani tahu sekali, setiap masuk sekolah adalah perjuangan sendiri buatku. Selama satu bulan ke belakang ada orang gila baru dekat sekolah yang naksir. Setiap hari ia selalu menungguku di seberang sekolah.
Semua murid SMA Pelita menjulukinya Paduka Raja karena memakai mahkota mainan, tongkat kebesaran dan jubah kumal terikat di leher. Anehnya, ia tak pernah mengganggu orang lain. Hanya aku, yang selalu menjadi target incarannya.
***
Mungkin ini sudah berjalan bulan kedua paduka selalu "menyapa" di seberang sekolah. Aku sudah mulai terbiasa tak terlalu ketakutan seperti kala awal-awal.
Telah kupahami polanya. Ketika aku turun angkot, ia akan tersenyum malu-malu menatapku. Kala aku lewat ia akan berkata, "Ratuku, aku mencintaimu!" sambil berlutut. Lalu ketika aku menyeberang jalan menuju gerbang sekolah kalimat penutup ia teriakan, "Ratuku, jangan tinggalkan aku!" Kadang sambil menangis sesenggukan kadang pula hanya ekspresi datar.
Beberapa kali aku memberikan makanan untuk Paduka. Setiap aku mengulur makanan, wajah Paduka bersinar. Ia menerima dengan senyum tulus serta kalimat yang persis sama, "Ratuku kau memang yang terbaik!" Aku lalu mengangguk dengan seulas senyum berjalan menuju gerbang sekolah. Sayup terdengar "Ratuku, jangan tinggalkan aku!"
Sadar tidak sadar kehadiran Paduka memberi warna tersendiri di hidupku. Semua tingkahnya tulus tanpa pura-pura. Sekarang, aku usahakan setiap hari memberikan makanan untuknya. Kadang nasi bungkus, sepotong roti atau minimal satu gelas air mineral.
***
"Rin, nasi bungkus dan air minum untuk Paduka sudah ibu masukan ke dalam tas ya!" Ibuku berseru kala aku bergegas ke sekolah. Hari ini tak terasa hari pertama UN. Berarti sudah sekitar 6 bulan Paduka menyapa.
Turun dari angkot, aku sudah keluarkan nasi bungkus titipan ibu. Benakku sudah mempersiapkan gambar senyum malu-malu Paduka. Namun ... kini gambar itu tak ada.
Aku mangu. Diam menggenggam nasi bungkus untuk Paduka.
Aku melangkah melewati tempat ia biasa menerima makanan lalu berkata, "Ratuku kau memang yang terbaik!" Itu pun tak ada. Dalam kecepatan cahaya, dadaku terasa kosong. Aku berjalan lunglai menuju gerbang sekolah.
Komentar
Posting Komentar