IMPIAN AHMAD
IMPIAN AHMAD
Langit membentang biru. Rentang tali kenur menghiasi angkasa. Beberapa kepala mendongak menatap layangan menari. Bentang kenur dan gelasan beradu di langit. Ahmad diantara mereka. Matanya cermat memperhatikan gerakan menarik dan mengulur benang layangan. "Eeeeh, jangan di sini. Ganggu aja." kata Roni. Ahmad mundur 3 langkah namun tetap melihat gerakan Roni bermain layangan.
Sampai rumah, Ahmad menurunkan celengan dari atas lemari. "Bu, Ahmad mau beli layangan dulu ya" sahut Ahmad. Wajahnya gembira membayangkan layangan yang sudah lama diincarnya.
"Ron, lihat yang aku bawa" Ahmad memperlihatkan layangan dan kenur yang baru saja dibelinya. Roni melihat sekilas
lalu menurunkan jempol ke arah bawah.
Ahmad melihat sekilas. Diambil layangan dengan tangan kirinya. Matanya mencari tempat tanpa kabel listrik dan pepohonan. Embus angin kencang di tempat itu, Ahmad segera mengambil ancang-ancang.
Angin berembus terlalu kencang. Aduh, Ahmad jadi susah mengendalikan layangan. Lihat, langit mulai mendung. "Ayo kita pulang," kata teman-temannya.
Sekarang Ahmad mengaji. Ketika mengaji dimulai. Alis Ahmad berkerut. Pikirannya dipenuhi banyak rencana agar layangannya dapat terbang. "Mad, perhatikan penjelasan bapak!" Suara pak ustadz membuyarkan lamunan Ahmad.
Sepulang mengaji, rona wajah Ahmad gembira. Ia telah menemukan rencana hebat agar bisa menerbangkan layangan. "Ayah, besok antar Ahmad ke bukit belakang ya!!" Seru Ahmad. "Wah, ada rencana apa nih?" Tanya ayah. "Stt...rahasia" jawab Ahmad sambil menaruh telunjuk di bibirnya.
"Ahmad, ayo tidur! Ini sudah jam 10" Suara ibu mengagetkan Ahmad. "Iya Bu, sebentar lagi" mata Ahmad mencermati lebih teliti gerak gerik orang yang main layangan dari layar laptop.
Pagi ini ayah dan Ahmad pergi ke bukit belakang. "Disini ayah tempatnya. Persis seperti bayanganku!" Jantung Ahmad berdebar membayangkan apa yang akan ia lakukan. Ahmad mengeluarkan layangan dan kenur. "Ayah pegang layangannya..!" Lengan Ahmad mengulur kenur. Mundur 4 langkah dan mulai menarik-narik kenur.
Layangan meliuk di langit. Tangan Ahmad berkeringat menarik dan mengulur kenur. Pandangannya terpaku pada layangan. Otaknya berpikir keras mengingat kembali gerakan orang yang ia lihat di YouTube semalam. "Bagus Ahmad!!" Ayahnya bersorak mengacungkan 2 jempol. Ahmad melirik sekilas lalu tersenyum puas.
Tak lama kemudian hal yang tidak diharapkan datang. Dahan dan dedaunan di sekitar bergoyang-goyang. Pegangan kenurnya melonggar akibat angin yang terlalu kencang. Ahmad terus mencengkeram kuat, badannya ia tarik ke belakang namun angin tak bisa dilawannya.
Pegangannya lepas. Kenur dan layangan terbang lepas di langit.
Melihat layangannya putus, sebagian diri Ahmad merasa kesal, namun sebagiannya lagi merasa tertantang. "Yah, kita pindah tempat saja yuk" Ahmad memikirkan sebuah rencana baru. Ayah melihat lalu mengangguk "Mau pindah kemana?" Tanya ayah. "Kita ke lapangan. Lagian, aku harus beli layangan baru" langkah kaki Ahmad menjauhi Bukit Belakang.
Di lapangan komplek sungguh ramai dengan anak-anak yang bermain layangan. "Eh, datang lagi? Mau nantang aku?" Ucap Roni dengan nada sinis. Ahmad Melawati Roni tanpa menoleh sedikitpun. Ia langsung mengambil layangan dan kenurnya. Mengamati angin dan mulai menarik layangan.
Ini angin yang cocok hati Ahmad berseru. Segera ia mengulur dan menarik kenur dengan lincah. Dadanya membusung penuh percaya diri. Sekarang aku sudah tahu caranya gumamnya dalam hati, sambil melirik Roni yang mulai kewalahan dengan angin.
"Wah! Layangan Roni putus" beberapa anak berlari mengejar layangan Roni. Melihat layangannya kalah Roni segera berjalan ke tepi lapangan. Layangan Ahmad makin meninggi. "Wuih, Ahmad sekarang dah jago euy!" Beberapa teman Ahmad berkomentar. Satu persatu pemain layangan di lapangan itu kalah. Ahmad melihat sekitar hanya dirinya yang bermain layangan.
Sore itu, Ahmad menggulung kenur dan membereskan layangannya. Roni berjalan ke arahnya "Bagaimana caranya layanganmu bisa bertahan?" Ahmad tersenyum ramah "Begini caranya, pertama pastikan layanganmu tidak melawan angin. Kedua tali layangan harus panjang sempurna, jangan sampai ada sambungan. Nah, yang ketiga ini rahasianya" Tubuh Roni mendekati Ahmad, penasaran akan rahasianya. "Besok ya, aku kasih tahu. Sekarang aku harus ngaji dulu. Daah!" Tangan Ahmad melambai pamit pada Roni.
Komentar
Posting Komentar