NANA DAN AKU
NANA DAN AKU
Menulis merupakan sesuatu yang sudah mendarah daging dalam diriku. Terutama menulis buku harian. Walau di zaman milenial ini terdengar jadul. Namun bagiku menulis diary merupakan sesuatu yang tak akan lekang oleh waktu. Sesuatu yang akan selalu manjadi karib untuk diri. Walau telah mengenal Wattpad, Blog atau Instagram, itu tetap tak tergantikan.
Sebuah rasa puas dan legalah yang tak bisa tertandingi oleh format menulis apapun. Dengan menulis diary saya bebas menulis apapun. Sering diantara baris-baris kalimatnya hujan turun dari mataku. Ketika merasa bahagia bisa sampai 10 lembar menulis tanpa ada perasaan lengan pegal. Entah... ada perasaan bunga-bunga indah taman surga di sana. Sangat akrab dan lekat dengan pena dan buku.
Awal mula perkenalanku dengan diari adalah kelas 8 SMP. Waktu itu ada teman sekelasku yang datang ke rumah ketika magrib. Aku mendengar ketuk pintunya. Aku singkap gordeng. Ketika melihat sosoknya langsung gordengnya kututup. Aku langsung berlari ke kamar. Setelahnya tak ada lagi suara ketukan.
Waktu itu bagiku itu merupakan sebuah rahasia yang tidak bisa aku bagi dengan orang lain.. maka langsung saya tulis di secarik kertas dan ketagihan sampai sekarang.
Buku harianku. Punya nama lho. Namanya Nana. Hmm ia yang tahu semua isi dalam diriku. Ia tak pernah bawel walau dengan berbisik. Ia siap kapan pun kala aku ingin bercerita. Ia tak pernah menghakimi walau kalimat ngeyel yang aku gores. Ia akan setia sampai mentari tenggelam di usiaku. Terima kasih telah menemani hari-hariku ya Na.. Love you 😍
MENGGORES KATA-KATA
sebaris senyum
pendar di wajah
ratusan kata
kemudian menjelma
hujan jatuh di pelupuk
biar serap ia di kertas lapuk
tentang kecewa
dengan air mata
tentang jatuh
dengan kekuatan baru
tentang duka
yang berujung luka
tentang cinta
mengakar bunga
tentang temu
berujung kamu
gores kata
berbaris ide
menggandeng lupa
menjadi jelma
kuakui debar
di relung ini
kelak jadi pelangi
di ujung nanti
Bandung, 4 Juni 2022
Komentar
Posting Komentar