Kita Hanya Perlu Terus Menulis
KITA HANYA PERLU TERUS MENULIS
Masuk ke komunitas menulis di dunia maya membuat saya menyadari suatu hal yang jleb.
Awalnya, saya mengira tulisan saya itu termasuk bagus 🤭 Tapi ketika kenyataannya tulisan saya tidak pernah direpost. Saya jadi sadar, ternyata saya kepedean he..he.. Hanya karena sudah menulis diari selama belasan tahun. Saya kira, dengan jam terbang setinggi itu otomatis tulisan saya langsung jadi bagus dan disukai banyak orang.
Saya jadi tahu tulisan saya itu hanya sebuah kerlip bintang di angkasa. Bukan sinar bulan apalagi terangnya matahari. Perlahan tapi pasti semangat menulis saya meredup.
Alhamdulillah, keadaan itu nggak berlangsung lama. Dini hari ini, saya menyadari sesuatu yang membuat saya kembali benderang 😁
1. Di Padang bunga literasi ini.. kau akan temukan bertebaran banyak bunga. Dari bunga anggrek yang sangat indah dan mahal sampai bunga rumput yang akan kau injak saja ketika lewat. Tumbuhlah suburlah hey kau bunga bunga.. cantiklah kau.. apapun bunganya kau akan memberikan keindahan di Padang literasi ini. Yang kalah adalah yang memutuskan untuk berhenti memupuk dan menyirami. Karena kau kan gersang dan mati.
2. Jadilah kau diri sendiri. Tak semua bisa jadi anggrek atau mawar. Bukankah Allah menciptakan ribuan jenis bunga? Semua bunga punya keindahan nya masing masing. Hmm yang jadi masalah menurutku ketika kau menjadi anggrek plastik he..he.. jadilah dirimu sendiri walaupun hanya bunga rumput. Percayalah bahkan untuk bunga yang sangat bau pun seperti bunga bangkai. Pasti ada tetap yang menyukai nya. Hmm menurutku semua bunga punya penggemarnya masing-masing.
3.Tak perlu khawatir dan pesimis dengan tulisan orang lain yang lebih bagus he..he.. hmm karena yakinlah, ketika kita konsisten menulis, terus mencari dan mempraktikkan ilmu. Suatu hari nanti juga tulisan kita akan sampai ke jenjang itu 😊
JIKA KAU PENAT MENULIS (ingatlah)
berapa ratus kali
Chairil Anwar...
merevisi
puisi-puisinya?
berapa ribu jam
Andrea Hirata
luangkan waktu
menulis novel-novelnya?
berapa juta puisi
Sapardi Djoko Damono tulis
hingga menjelma legenda?
Maka...
pantaskah,
Jika...
baru sekali, belasan atau puluhan
menggores pena, lalu
lahir maha karya?
Bandung, 1 Juni 2022
Komentar
Posting Komentar