PILIHAN SANG JUTAWAN
PILIHAN SANG JUTAWAN
Dia terdiam. Tanpa senyum yang biasanya merona. Tanpa make up yang biasanya laput memenuhi wajah. Sendu mangu..
"Assalamualaikum" kataku. Ia terhenyak kaget dengan sapaanku. "Eh, iya.." Matanya memandang lekat wajahku. "Rani...?" Aku mengangguk dan membuka lebar tanganku. Ia hempas dalam peluk. Kami sahabat lama yang bertemu kembali.
"Bagaimana kejadiannya?" Tanyaku lembut. Ia terdiam sejenak. Tangannya melipat di dada. Suaranya lirih dengan tangis tertahan.
***
Mutiara adalah pemenang pertama kontes menyanyi di televisi nasional. Wajahnya yang menawan dan suaranya yang mampu meliuk-liuk menjelajahi tangga nada membuatnya menjadi idola dalam jentikan jari.
Entah berapa iklan yang ia bintangi. Lagu yang jadi hits mengiang di pusat perbelanjaan dan cafe-cafe. Tak lupa jutaan follower dan subscribers di media sosialnya. Membuat pundi-pundi kekayaannya gendut dalam waktu singkat.
Keadaan ini membuatnya lupa daratan. Gaya hidup yang tiba-tiba glamor membutuhkan ongkos yang glamor juga. Maka hanya dalam hitungan bulan pundi-pundi uangnya menjadi kerempeng seperti balita malnutrisi di Afrika.
Telah terbiasa dengan keadaan glamor. Membuat Mutiara pontang-panting memenuhi gaya hidupnya yang baru. Apalagi, mulai bermunculan bintang-bintang baru yang lebih cemerlang. Hingga membuatnya jadi pilihan kedua untuk mengisi event-event prestisius.
Sampai, ada cara mudah untuk memenuhi semuanya. Seorang jutawan mendekatinya. Memberikan kode-kode asmara. Tentu tanpa banyak pertimbangan Mutiara menjawab ya atas permintaan menjadi istri kedua.
Tak pusing dengan masalah finansial, masalah lain menderanya. Benih cinta tumbuh di hati Mutiara. Mengakar ke sanubari. Memercikkan api cemburu.
Berkali Mutiara meminta agar suaminya menceraikan istri pertama. Namun, itu hanya hembus angin lalu. Tak secuil pun makna dirinya jika dibandingkan istri pertamanya.
"Benarkah fakta itu, Mut? Anda istri kedua Pak Sasongko?" Majelis Infotainment mengendus fakta baru ini. Mutiara berjalan cepat. Menunduk menghindari serbuan pertanyaan wartawan.
Semua perlahan-lahan terbuka. Siapa yang dapat menyembunyikan bau bangkai? Pak Sasongko tak berkutik, dengan fakta-fakta yang menyeruak.
"Saya sudah menceraikan Mutiara," Pak Sasongko berlalu cepat menjawab riuh pertanyaan wartawan. "Saya memang khilaf. Sudah maaf saya sedang buru-buru" Mengakhiri todongan wartawan.
Kini semua wartawan, menyerbu Mutiara. Mereka ingin tahu bagaimana responnya.
***
"Sudahlah..kau pasti tahu apa yang telah terjadi" Mutiara enggan berbagi kisah perihnya. Diam sejenak. "Aku datang bukan sebagai wartawan. Aku kesini sebagai sahabatmu" Aku menjelaskan. Kembali Mutiara memasang sorot sedih. "Kalau kau mau berbagi. Setidaknya, aku sebagai sahabat mu akan memberikan sudut pandang yang lebih jernih"
Mutiara tergugu, tangisnya pecah. Semua lara dan duka yang telah ia simpan, buncah. Kudiam menyimak semua luncur kata yang keluar dari mulutnya.
Komentar
Posting Komentar