ASA YANG BUNCAH PAGI INI
ASA YANG BUNCAH PAGI INI
Hari ini seperti biasa saya menikmati pagi dengan berjalan pagi di lapangan belakang sekolah. Sedang asyik mengayun langkah, datang beberapa siswa membawa bola basket. Melihat itu, saya langsung berpindah ke samping lapangan yaitu area terbuka yang dahulu sebelum pandemi menjadi kantin.
Beberapa siswa melihat saya dengan alis berkerut. Mungkin mereka heran mengapa gurunya berjalan berputar-putar pakai seragam mengajar? Untuk siswa yang gampang akrab dengan guru, langsunglah ia bertanya. "Bu, sedang ngapain?" Ican siswa kelas 7 berjalan mengiringi langkah saya. "Ibu olahraga pagi," jawab saya Dalam hati terasa agak malu. Hm, mungkin itu terlihat aneh benak saya berbicara. Ican kemudian berkata lagi dengan ringan, "Oh, ibu latihan thawaf ya?" Saya tersenyum mendengar perkataannya.
Datang satu siswa lagi namanya Satria ia berjalan mengiring saya berjalan memutar di samping Ican. Saya tertawa kini. Ya sudah saya bilang saja, "Labaikallah huma labaik ... Doakan ya, ibu bisa thawaf beneran. Bisa naik haji." Tangan mereka menengadah dan mengucap aamiin 🤲🏻
Tak lama mereka ikut memutar, tiga kali saja.
Ketika saya meneruskan jalan pagi ada haru memenuhi dada. Ya Rabb, mungkinkah saya bisa naik haji? Antrean pergi haji kota Bandung sampai 43 tahun. Di usia yang kepala empat begini, rasanya kalau hitungan matematis kecil kemungkinan bisa berangkat. Ah, namun bukankah bagi Allah tak ada yang mustahil. Kita tak pernah tahu, mungkin saja doa yang tadi dipanjatkan murid-murid diijabah Allah.
Mendengar beberapa penulis bisa naik haji sebagai bagian tugas menulis. Mendengar keluarga Ridwan Kamil diundang pemerintah Arab Saudi untuk berhaji tahun ini. Mendengar seorang pedagang kecil bisa berangkat haji karena menabung. Dan banyak kisah-kisah ajaib lain tentang bagaimana seseorang bisa sampai ke tanah suci.
Ah, banyak kemungkinannya. Berhaji itu undangan Allah. Kita tak pernah tahu. Semoga saya dan suami mendapatkan anugerah itu. Aamiin 🤲🏻
Kaki terus saya ayunkan berkeliling di samping lapangan belakang. Suara tawa murid-murid dan pantul bola basket menggema. Mata saya sekejap memejam membayangkan megahnya Ka'bah di depan mata. Dalam kecepatan cahaya ada yang basah menggenangi mata.
Bandung, 15 Juni 2022

Komentar
Posting Komentar