Di Trotoar
DI TROTOAR
Kaka Dede sudah besar. Tahun ini Kaka delapan tahun Dede tujuh tahun sudah seharusnya tidur pisah kamar. Mereka juga bilang mau, namun masalahnya memang gak ada kamar lagi he..he...
Kami satu kasur tidur berempat. Kadang susah juga tidur nyaman karena kaki mereka sudah panjang dan sering mereka tidurnya motah (berpindah tempat ketika tidur).
Dalam benak sering ngelamun semoga bisa punya kamar sendiri. Rumah bisa ditingkat dua. Embus harap bertiup kencang.
Hingga... Suatu pagi ketika saya berangkat sekolah. Di pinggir trotoar ada gerobak terparkir. Saya gak ngeh awalnya, namun lalu saya perhatikan lebih jelas. Ada seorang ibu yang sedang memeluk anaknya yang masih balita.
Mereka menggelar kardus dan beberapa helai kain tertidur di trotoar. Gerobak di samping mereka tempat bapaknya tidur.
Dengan kecepatan cahaya palu memecahkan harapan saya. Posisi tidur ibu dan anaknya itu sama dengan ketika saya ngelonin Kaka Dede tidur.
Basah hati ini, terdiam sudah seharusnya saya bersyukur dengan apa yang saya miliki dan tak mengeluh satu apapun.
LENTERA SYUKUR
mendung
merentang
di langit kelam
tabur rasa
pelangi di mata
gulita dalam gua
hilang pengelihatan
meraba jalan
dua lilin
benderang
lesap jelaga
usai beliung
bukan
taruhan takdir
di meja kehidupan
ini
titian jalan
berujung
lentera syukur
Bandung, 7 Juni 2022
Dalam hidup, banyak hal yang kita lewati hanya menjadi embus angin. Kita merasakan sepoinya menikmati kesegarannya namun lupa makna dan hikmahnya.
Kejadian yang saya tulis ini adalah peristiwa yang biasa dilewati sehari-hari. Sering itu hanya jadi belaian angin lalu terlupakan. Namun, lewat menulislah peristiwa itu menjadi berlian di bulir pasir. Menjadi pemahaman baru yang begitu bermakna di keseharian hidup.
Itulah salah satu alasan mengapa saya merasa menulis begitu berharga dan bermanfaat. Selain itu, dari tulisan ini akan menjadi reminder di masa depan tentang bulir berlian yang ditemukan. Semoga menulis tak hanya memberi manfaat duniawi namun juga menjadi jalan muhasabah diri.
Komentar
Posting Komentar