MENTERI URUSAN PERAIRAN
MENTERI URUSAN PERAIRAN
Ayahku adalah seorang yang sangat concern sama air. Ya! Pokoknya kalau sesuatu yang berhubungan dengan air, ayahku yang mengatur.
Dalam hal air minum. Ayahku punya siklus sendiri mengisi wadah air. Mana yang harus diisi duluan. Ada wadah air di meja makan, wadah air di dapur, termos air panas dan botol-botol di dalam kulkas. Setiap hari ayahku selalu mendidihkan air dan mengisi semua wadah itu.
Untuk air di kamar mandi, ini lebih pelik. Karena ledeng air di rumah ngocornya 2 hari sekali. Jadi, ayahku mengisi penuh semua wadah air yang ada. Jelas semua ember dan toren diisi penuh. Namun tak hanya itu, gayung di kamar mandi sampai panci besar ibuku semua diisi penuh.
Semua memiliki SOP sendiri yang ketat. SOP ini tak hanya disosialisasikan secara lisan (yang sering kami abai). Ayah juga menulis aturan perairan di dinding kamar mandi agar kami ingat.
Aku dan anggota keluarga lain kadang merasa jengah dengan SOP ayahku itu. "Ingat, selama ledeng ngocor kalau pakai air di kamar mandi isi lagi embernya. Jangan sampai waktu terbuang untuk khusus mengisi air. Sambil mandi putar kerannya!" Dan banyak aturan lainya.
Hingga, suatu hari ayahku harus keluar kota beberapa hari karena ada urusan keluarga. Kami yang terbiasa dilayani urusan air oleh ayah nyantai aja.
Setengah hari pertama kami merasa semua baik-baik. Hingga ..., air minum di meja makan kosong. Air di kamar mandi juga sama.
Pertama kali, saya mendidihkan air untuk minum. Mengingat-ingat lagi bagaimana urutan ayah mengisinya. Ternyata tak semudah yang dibayangkan.
Air di kamar mandi ternyata lebih pelik. Ledeng baru ngocor jam 11 malam. Saya mengisi semua penampung air dengan mata mengantuk. Baru terasa, betapa besar pengorbanan ayah untuk kami.
Malam itu dengan mata berlinang, saya baru sadar selama ini ayah mengurus air adalah bentuk cinta dan perhatian untuk kami. Semua jengah dan kesal yang pernah terbersit di hati selama ini berubah menjadi rasa terima kasih yang mendera-dera.
Bandung, 21 Juni 2022
Komentar
Posting Komentar