Mengapa Menulis
MENGAPA MENULIS?
Pertanyaan "Mengapa saya menulis" membuat saya berpikir keras. Sesuatu yang saya kerjakan dengan senang hati pasti memiliki akar yang kuat. Namun mengapanya belum keluar sebagai pikiran sadar.
Setelah merenung beberapa lama lampu ide berderang menyala. Sebenarnya ada dua kategori tulisan yang saya tulis. Pertama adalah tulisan pribadi yang saya gores di buku harian. Kedua adalah tulisan yang saya publish untuk umum di Instagram, blog atau buku. Kedua kategori tersebut memiliki why yang berlainan.
Untuk tulisan pribadi saya menelusuri kenang di masa lalu, apa gerangan yang menjadi pencetus saya mulai menulis buku harian.
Awal mula perkenalan dengan buku harian adalah kelas 8 SMP. Waktu itu ada teman sekelas yang datang ke rumah ketika magrib. Saya mendengar ketuk pintunya. Saya singkap gordeng. Ketika melihat sosoknya langsung gordengnya kututup. Saya langsung berlari ke kamar. Setelahnya tak ada lagi suara ketukan.
Waktu itu, bagi saya itu merupakan sebuah rahasia yang tidak bisa dibagi dengan orang lain.. maka langsung saya tulis di secarik kertas dan ketagihan sampai sekarang.
Jadi menulis buku harian adalah kebutuhan berekspresi untuk saya yang introvert. Menulis buku harian membantu saya menemukan arah ketika merasa bingung dan tersesat. Setiap selesai menulis buku harian ada sesak dada yang melonggar, ada pikir yang menjadi jernih serta syukur yang menjadi raja.
Untuk big why yang ke dua ini memiliki jawaban yang lebih dari satu.
1. Mewujudkan Impian yang Lama Terpendam
Saya memulai menulis di Instagram tahun 2019. Itu ketika saya berusia 39 tahun. Sebelumnya hanya menulis buku harian. Mengapa di usia memasuki kepala 4 saya baru mulai intens menulis karya. Hm, ini karena saya punya mimpi terpendam dari remaja untuk jadi penulis. Ia terkubur lama. Kesadaran menggedor kencang ketika usia tak lagi muda. Maka mari wujudkan mimpi itu sekarang juga. Kala Allah masih memberikan kesempatan lengan menggores karya.
2. Bermimpi Menulis Karya yang Bermanfaat Untuk Masyarakat Luas
Selalu bergetar melihat rak buku best seller di toko buku. Melihat bagaimana novel difilmkan dan mendengar sebuah karya diterbitkan internasional. Wuuih, mungkin gak yah?
Dua impian saya yang lain. Kali ini bersifat personal yaitu membukukan buku harian dan menerbitkan buku cerita anak untuk kedua buah hati saya.
Ya, di balik itu semua. Saya beri tahu alasan sebenarnya. Sini, saya bisikkan: karena menulis membuat saya bahagia. Tak ada sedikit pun paksaan ketika menulis. Walau kadang harus tidur larut karena menyelesaikan tulisan, orang gak ada yang mengapresiasi atau gak dapat bayaran. Ya, karena suka menulis itu tetap buat saya happy ☺️
Bagaimanakah saya mewujudkan impian-impian saya itu? Berikut saya share proses yang saya titi:
• Mengikuti challenge menulis di media sosial Instagram, Facebook dan Blog. Alhamdulillah puluhan challenge konsisten menulis telah saya ikuti. Atas izin Allah semua challenge itu mampu diikuti sampai garis finish.
• Mengikuti beberapa lomba menulis puisi. Ada sekitar belasan lomba saya ikuti. Alhamdulillah pernah juara dua, juara harapan dan finalis. Walau kebanyakan sih kalah he..he..
• Menerbitkan buku. Alhamdulillah belasan buku antologi bersama puisi cerita dan nonfiksi telah terbit. Untuk buku solo sudah terbit tiga buku yaitu:
• Embe-Embe (Sebuah kumpulan cerita pendek berbahasa Sunda) kolaborasi dengan ayah saya. Terbit tahun 2005 di penerbit Imtima Bandung.
• Dari Nol Hingga Ananta (Sebuah kumpulan puisi). Terbit 2020 di penerbit Caraka publishing.
• Sekejap (Sebuah kumpulan puisi). Terbit 2022 di penerbit Brimeta publiser.
Sekarang saya juga sedang proses terbit dua judul buku yaitu sebuah memoar yang diambil dari buku harian, judulnya Kisah Sebuah Hari dan kumpulan puisi berjudul Merendam Kenangan.
• Mengikuti kelas menulis yang dibimbing oleh penulis yang berpengalaman. Belajar menulis cerita anak saya ikut kelas bu Nurhayati Pujiastuti. Menulis puisi saya ikut kelas dengan Agus R Sarjono. Menulis cerpen bersama Gola Gong dan beberapa kelas menulis lain baik yang gratis atau berbayar.
• Mengikuti komunitas menulis yaitu Nulis aja comunity, Nulis aja dulu, Competer dan ODOP.
• Menjadi pemateri di beberapa komunitas menulis diantara Nulis aja comunity dan Readathon.
• dan akhirnya ya menulis, menulis dan menulis saja setiap hari ☺️
Bandung, 6 Juni 2022

wah...mbak laksmi keren....mau dong mbak berbagi tips menulisnya ala mbak.
BalasHapusMasya Allah, luar biasa karya nya sudh banyak ternyata. Sukses terus ya kak
BalasHapusbarakallah, karyanya sudah banyak, terus berkarya kak, sukses ya
BalasHapusAjarin aku dong.. Keren banget mba ... Love love love ❤️
BalasHapusWaw, keren sekali Kak. Aku jumput sedikit semangatnya berkarya, ya Kak. Biar ketularan konsisten menulis dan menelurkan karya nyata. By the way, saya salfok nih sama foto yang dibelakang kakak. Itu yang pakai baju dan topi hitam, penulis Andrea Hirata, ya?
BalasHapusBagus bgt kak tulisannya. Semangat untuk selalu berkarya kak.
BalasHapusMasyaAllah, udah kepala 4 tapi masih saja semangat menorehkan karya. Mantups kak...
BalasHapusSemangat ya semoga impiannya tercapai
BalasHapusJadi teringat buku diary saya zaman SD yang berwarna biru muda dengan gambar putri dan ada gemboknya. Kertasnya wangiii sekali..dari diary itu saya mulai suka nulis nulis waktu kecil dulu
BalasHapusKeren banget kak, jadi pengen ikutan gabung di challenge lainnya🤣
BalasHapus