MENDEKAP SEPI




MENDEKAP SEPI

Karya: Laksmi Purwandita


Jika hari

Bawakan sepi


Ku kan buat meriah

Dengan balon balon

Dan confetti


Jika hari

Bawakan sepi


Ku kan sulut 

Percik kembang api

Meriahkan langit kelabu


Jika hari 

Bawakan sepi


Ku kan lantunkan 

Lagu lagu berirama

Dan menari nari


Kau selalu punya 1001 cara

Tuk hilangkan sepi...

Namun ..

ini bukan tentang 

sepi atau ramai


Ini tentang hati 

yang merasa kosong

Ini tentang hati 

Yang tak tenang


Ini tentang hati

Yang perlu berdamai

Ini tentang hati

Yang perlu mengikhlaskan


Lalu...

Benarkah bisa hilangkan sepi?


Dekaplah sepi

Sepi adalah waktu sendiri

Tuk dengar 

lebih jelas suara nurani..


Rumah, 6 Mei 2019


Puisi ini saya tulis tiga tahun lalu kala ikut challenge menulis puisi 15 hari di sebuah penerbit indie. Hm, ketika membaca ulang puisi ini di tahun 2022 saya mengangguk-ngangguk menyadari betapa kental introvert dalam diri.


Saya seorang yang senang memeluk sepi. Merasakan embus angin. Melihat dedauan yang tertiup angin. Melihat langit biru. Menatap syahdu burung yang hinggap di dahan pohon. Menulis sendiri dan larut di dalamnya. Menarik napas dalam dalam mengayun langkah sendirian. Merasa terhubung dengan diri sendiri adalah sebuah kenikmatan tak terkira untuk saya.


Sebaliknya jika berada di kerumunan hidup terasa terlalu bising. Saya merasa kehilangan diri. Seperti ikan yang megap-megap mencari oksigen bagi saya oksigennya adalah sendiri. Dimana ada ruang luang untuk terkoneksi dengan diri.


Jika hidup terlalu hiruk-pikuk. Waktu mengejar-ngejar tak terkendali. Maka hampa bergaung di lorong dada. Pikiran mulai keruh dan dada terasa sempit. 


Maka, diam sejenak. Hentikan waktu yang memutari kepala. Rasakan diri. Pejamkan mata. Tarik napas dalam-dalam. Temukan sudut tenang. Ambil pena dan gores kata-kata meracau di kepala. 


Bebas lepas apa pun yang muncul tanpa perlawanan. Jika hujan mulai mengguyur di mata. Biarkan ia jatuh. Bukalah jalan agar langit kembali cerah. Karena hanya lewat hujanlah langit yang awalnya kelabu bisa kembali biru.


Bandung, 11 Juni 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENJADI BERBEDA

MENDAMBA

Perjalanan Membingkai Makna