BERANI MENGAYUN LANGKAH
BERANI MENGAYUN LANGKAH
Waktu itu saya masih kelas 3 SD. Pergi bersama keluarga ke Parahiayang Plaza di Alun-alun Kota Bandung. Bangunan bertingkat dengan beberapa tangga berjalan. Ketika akan naik tangga berjalan, ada anak kucing yang kakinya terjepit di sela-sela undakan tangga yang memutar.
Suaranya mengeong parau minta pertolongan. Merah jelas mengalir di pinggir kanan tangga berjalan dekat tempat pemegang tangan pengguna tangga berjalan. Saya memejam mata, namun tetap membayang. Saya mulai menangis. Orang tua saya membawa saya menjauhi tempat itu.
Sejak itulah saya tidak berani naik tangga berjalan. Ketika bersitatap dengan tangga berjalan jantung saya berdegup lebih kencang dan tangan saya menjadi basah karena keringat.
Ketika pergi ke gedung yang bertingkat, saya memilih naik lift atau tangga. Pokoknya gak berani sama sekali naik tangga berjalan.
Hingga, ketika SMA bapak saya bilang, "Teh, besok bapak antar ke Bandung Indah Plaza ya. Kita belajar naik tangga berjalan."
Mata saya membulat ketika mendengarnya. Saya tidak bilang iya atau tidak. Hanya mematung.
Selepas dengar kalimat itu, saya menulis diary. Awalnya nangis bombay namun kemudian dipikir-pikir enak juga diajak bapak ke mall. Jarang-jarang kan? Masa cuma naik tangga berjalan aja. Pasti diajak makan atau dibelikan sesuatu.
Bapak saya bekerja di luar kota, maka ketika bapak pulang ke Bandung kami punya acara khusus ke BIP berlatih naik tangga berjalan.
Hari pertama, saya hanya memandangi saja. Melihatnya seperti monster yang akan menerkam. Bapak sangat sabar, sama sekali tidak memaksa saya langsung naik tangga berjalan apalagi mengejek saya.
Hari kedua, saya berani berdiri di depan tangga berjalan. Melihat undakan tangga pipih yang harus dipilih. Mata saya pusing melihat betapa cepat ia bergerak. Saya tarik nafas dalam. Bapak memegang tangan saya. Beberapa orang mengantre di belakang kami karena lama sekali memilih undakan. Saya belum berani, akhirnya kami menepi. Mempersilahkan yang lain naik tangga berjalan duluan.
Hari ketiga, kami cari tangga berjalan yang paling sepi untuk berlatih. Saya dan bapak berdiri memilih undakan yang berjalan. Saya berusaha mengikuti tempo undakan itu berjalan. Menarik napas dalam dan pertama kalinya saya berani mengayunkan langkah untuk memilih satu undakan. Namun ragu menjelma, dengan cepat target undakan saya sudah menjelma anak tangga. Ingin saya menangis, tapi malu. Bapak masih di samping saya. Mengajak saya menepi untuk menenangkan diri.
Hari keempat, saya pandangi undakan pipih itu lebih lama. Mencari momentum untuk mendaratkan kaki di salah satunya. Bismillah, hari itu kaki saya menapak undakan tangga. Bapak di samping saya tersenyum bangga. Kami naik ke lantai dua. Dalam hitungan detik, menikmati euforia kemenangan namun lalu tersadar ... di ujung tangga berjalan ini saya harus berani melompat turun menuju lantai. Saya gemetar. Ini hal baru bagi saya. Saya kaget. Saya belum siap. Tapi... bagaimana lagi? Di akhir tangga berjalan saya kembali menarik nafas dalam, memejam mata sejenak, menggenggam lebih erat tangan bapak.
"Teh, ayo kakinya melangkah" bapak memberi arahan. Saya tak bisa melangkah tapi saya melompat hehe.... Bapak tersenyum melihat tingkah saya. Selepasnya bapak mengajak saya ke toko buku Gunung Agung.
Sampai rumah, bapak bercerita pada ibu tentang apa yang terjadi. Ibu tertawa mendengarnya. Matanya mengerling ke arah saya.
"Tuh kan, teteh bisa" Saya mengangguk tersipu malu.
Hari kelima, bapak masih mengajak saya berlatih naik tangga berjalan. Kali ini belajar turun dari lantai dua ke lantai satu. Jadi, kami naik ke lantai dua dengan tangga biasa lalu berlatih turun menggunakan tangga berjalan. Wuuih, ini ternyata lebih menakutkan. Tangan saya kembali berkeringat. Awalnya saya dan bapak diam dahulu melihat dari jauh. Sekitar 3-4 meter dari undakan pipih.
"Gimana, teteh berani?" Tanya bapak. Saya mengangguk. Namun ternyata ini tak semudah yang dibayangkan. Berdiri di depan undakan pipih yang terus melaju di tambah pemandangan jelas ke bawah membuat saya merinding. Saya memejam mata, menggeleng kepala.
"Pa, teteh takut..." Bapak lalu mengajak saya menepi.
Setelah saya tenang, bapak bilang "Hari ini kita latihan naik aja yuk!" Saya mengangguk.
Kami turun lewat tangga biasa lalu berlatih naik ke lantai dua dengan tangga berjalan. Alhamdulillah, deg-degannya sudah banyak berkurang. Walau untuk turun tangga berjalan saya masih harus melompat. Hari itu, kami berlatih tiga kali naik tangga berjalan hingga lantai paling atas lalu turun menggunakan lift.
Hari keenam, saya sudah bisa naik tangga berjalan dengan lebih tenang. Sudah bisa mendarat di lantai mall dengan mengayun langkah walau belum bisa luwes.
"Teh, gimana mau coba turun ke lantai satu?" Tanya bapak. Saya mengangguk yakin kali ini. Bapak menggenggam tangan saya melihat saya sejenak. Saya menarik napas dalam mencermati undakan pipih yang memutar. Mencari momentum, hap Alhamdulillah kaki saya bisa menapak di salah satu undakan berjalan. Bapak tak banyak bicara, ia tersenyum menoleh ke arah saya. Di akhir tangga saya sudah mampu mendarat lebih mulus.
Beberapa bulan kemudian saya sudah berani naik tangga berjalan walau harus ditemani. Saya perlu teman untuk mengenggam tangan ketika memilih undakan tangga yang memutar.
Alhamdulillah, kini setelah puluh tahun berlalu saya sudah berani naik tangga berjalan sendiri. Tanpa debar jantung lebih kencang dan tangan berkeringat.
Terima kasih untuk orang tua saya (terutama bapak) yang begitu sabar mendampingi saya berdamai dengan rasa takut yang bersarang lama. Love you so much

Komentar
Posting Komentar