Postingan

MENDESKRIPSIKAN MONSTER

Gambar
  Sebagai guru bahasa Indonesia kala memeriksa tugas siswa sering saya terkesima dengan kejutan yang ditulis mereka. Untuk materi deskripsi di kelas 7 saya memberikan tugas berpasangan membuat deskripsi monster. Satu siswa bertugas menggambar monsternya, siswa yang lainnya mendeskripsikannya.  Menatap satu per satu karya siswa membuat saya tersenyum. Betapa kreativitas dalam belajar selalu menyenangkan. Saya tidak bosan membacanya satu persatu.  Berikut saya bagikan tugas yang menjadi favorit ☺️ terima kasih Raihan dan Gais sudah bekerja keras dan bekerja sama dengan baik 👍🏻 Monster Yang Jahat Adalah monster yang sangat jahat. Ia senang menculik anak kecil. Monster ini kadang ceroboh dalam pekerjaannya. Dia menculik anak kecil untuk dimakan, semakin nakal anaknya. Semakin lezat untuk monster itu. Tapi jika anak itu baik akan tidak semakin enak bagi monster itu. Tempat tinggal monster itu di goa yang sangat gelap. Agar monster itu bisa bersembunyi di kegelapan, terkadang...

BERSAMAMU (2)

 BERSAMAMU (2) Kerlip bintang dan embus dingin menyelimuti malam ini. Dinda mematung di jok belakang mobil melirik sekilas spion depan lalu debar tak terdefinisi tiba-tiba menyergapnya. Sayup suara radio mengalunkan lagu Katon Bagaskara Dinda di manakah kau berada Biar kita isi malam Menangis tertawa Dan sampaikan kepada langit dan bintang Sebentuk cinta yang ada 'Kan tetap terjaga "Wah, ini lagu kamu tuh!" Rahman mencairkan suasana. "Eh, iya...." Dinda menyunggingkan seulas senyum dengan terpaksa.  Rahman memutar kunci kontak mobil lalu menginjak pedal gas. Mobil melaju membelah pekat malam.  "Eh, kamu udah makan belum?" Rahman melirik ke jok belakang menunggu jawaban Dinda. "Belum, nanti makannya pas nyampe rumah aja." Dinda menjawab. Rahman mengulurkan roti sobek dan sebotol air mineral ke jok belakang. "Kalau gitu, makan ini dulu!" Dinda menerimanya dengan wajah senang. Terakhir ia pukul 1. Sekarang sudah jam 9 malam. Pastilah i...

BERSAMAMU (1)

 BERSAMAMU (1) "Din, kamu sudah selesai belum?" Tangan lincah Ratih mengepak pakaian untuk pergi. Dinda terperangah dari lamunannya. "Eh, iya!" Segera tangannya kembali memasukan beberapa potong pakaian ke dalam ransel. "Aku dah atur semua, biar kita bisa lewati check point...." Kata Ratih sambil memperlihatkan surat tugas palsu dari rumah sakit bahwa mereka adalah petugas lab yang akan melakukan pengetesan tes massal swab.  Dinda mengacungkan jempolnya setengah hati. Sebenarnya ia tak ada rencana ikut drama ini. Tapi, terpaksa ia lakukan untuk keluar dari siklus sakit hati dengan Reza.  Ini kelima kalinya Reza berselingkuh, namun tetap saja Dinda menerimanya kembali. Reza selalu tahu cara agar Dinda luluh dan kembali ke pelukannya.  Kali ini Dinda sudah muak. Hanya dengan pergi jauh Reza tak akan mampu memperdayanya lagi. Takdir memberikan jalan untuk ini. Ketika  Dinda sedang bertengkar hebat dengan Reza karena ketahuan selingkuh yang kesekian kali, Rati...

CATATAN DI TANTANGAN TERAKHIR

 CATATAN DI TANTANGAN TERAKHIR  Bismillahhirahmanirahim. Semoga saya bisa menyelesaikan tulisan ini sampai rampung 600 kata. Badan sedang kurang fit. Adaptasi mengajar dari daring ke luring memang luar biasa. Nampaknya tubuh shock dengan perubahannya. Sudahlah curhatnya. Mari kita mulai essaynya. Hm, sebenarnya dari dua tahun yang lalu saya ingin bergabung dengan ODOP. Namun entah mengapa gak jadi saja. Maka, Alhamdulilllah 🤲🏻 di tahun ini bisa ikut seleksi. Yang ternyata sebuah seleksi ya ng tak main-main. Hal yang paling "mengerikan" ada dua. Pertama adalah syarat jumlah kata yang terus meningkat setiap pekannya. Weleh-weleh saya yang biasanya ikut challenge menulis puisi yang hanya beberapa bait. Kini harus putar otak agar tulisan bisa sesuai syarat. Namun Alhamdulilllahnya sampai sekarang masih bisa berjalan. Yang ke dua adalah panjangnya waktu challenge. Saya sampai lupa apa 2 bulan atau 3 bulan ya? Bisa konsisten selama itu sungguh membutuhkan perjuangan. Apalagi kala...

SARAH DAN DONI

  SARAH DAN DONI "Sar, maafkan saya ya..." Doni mengulurkan tangannya. Sarah hanya diam menunduk masih terisak sakit hati. "Saya janji gak akan mengejek nama ayahmu lagi." Doni meyakinkan Sarah. Sarah mengangguk terpaksa karena sorot mata Bu guru dan teman-teman memberi tatapan harap itu yang harus ia lakukan. "Doni, ingat jangan diulangi lagi!" Bu Arini dengan tegas memperingati Doni. Lima detik kemudian kerumunan bubar. Teman-temannya kembali bermain dan pergi ke kantin. Bu Arini meninggalkan ruang kelas menuju ruang guru. Sedang Sarah duduk di bangkunya masih menunduk. Jelas anggukan kepalanya tadi bukan berasal dari hatinya.  *** "Teh, ini titip fotokopi kartu keluarga. Berikan pada bu guru." Kata mamah waktu Sarah berangkat sekolah. "Iya, Mah!" jawab Sarah sambil memasukan lembar itu ke dalam tasnya. Berjalan menuju sekolah seperti biasa. Ketika sampai ruang kelas ternyata teman-temannya belum ada yang datang. Ia duduk di bangkunya...

JODOH PASTI BERTEMU

 JODOH PASTI BERTEMU Gedung pencakar langit POISE Cosmetic menjulang tinggi di awan. Gedung dengan perpaduan kecanggihan teknologi dan keindahan alam. Di sampingnya terdapat danau buatan dengan pepohonan rindang. Sebuah tempat yang sengaja dibangun agar karyawannya dapat sejenak menghilangkan penat. Ahmad menatap lekat-lekat gedung di hadapannya.  Ahmad memegang map laporan rekapitulasi penjualan pekan terakhir. Ia masuk ke dalam lift lalu memencet tombol 15. Ruangan Renata sangat nyaman dengan rak sepanjang dinding memajang seluruh produk POISE. Ahmad mengetuk "Mbak, ini laporan ..." Kaki Ahmad mengayun masuk.  "Eh, maaf saya kira tidak ada tamu." Ahmad mengayun langkah mundur keluar pintu. "Gak papa, sini masuk. Perkenalkan ini Dikta." Mata Renata gemintang dengan senyum canggung. Ahmad dan Dikta saling berjabat "Saya Ahmad." Dikta membuka gawai "Maaf, saya pamit dulu. Ada rapat mendadak." Renata mengangguk lalu tersenyum. "Jadi,...

HILANGNYA SUARA RAKYAT

HILANGNYA SUARA RAKYAT Pada zaman dahulu kala terjadi gelombang protes besar-besaran di kerajaan Sriwedari.  Dari atas balkon Sang raja bergidik melihat ribuan rakyat berderap mendatangi istana.  Pekik riuh memekakan telinga. Meneriakan kalimat yang sama “Wahai Raja, turunkan pajak sekarang juga!” Kalimat itu menggetarkan dinding istana. Sebuah getaran yang akan meluluhlantakkan istana. Protes ini berawal dari keputusan Sang Raja yang menaikan pajak hingga dua kali lipat. Awalnya tak ada yang berani menolak, namun itu tak bertahan lama. Sesuatu yang tidak seimbang perlahan akan mencari keseimbangannya. Gelombang protes mendera istana. Dipimpin oleh pemuda gagah berani bernama Rengga. Ratusan rakyat kerajaan Sriwedari turun ke jalan. Mengular menuju istana memprotes kebijakan Sang Raja. Raja mondar-mandir di depan singgasananya. Alisnya berkerut dengan tangan memegang dagu. Mencari jalan keluar dari persoalannya. Benaknya terus berputar. Aha!! “Pengawal, panggil penyihir istana...