JODOH PASTI BERTEMU
JODOH PASTI BERTEMU
Gedung pencakar langit POISE Cosmetic menjulang tinggi di awan. Gedung dengan perpaduan kecanggihan teknologi dan keindahan alam. Di sampingnya terdapat danau buatan dengan pepohonan rindang. Sebuah tempat yang sengaja dibangun agar karyawannya dapat sejenak menghilangkan penat. Ahmad menatap lekat-lekat gedung di hadapannya.
Ahmad memegang map laporan rekapitulasi penjualan pekan terakhir. Ia masuk ke dalam lift lalu memencet tombol 15. Ruangan Renata sangat nyaman dengan rak sepanjang dinding memajang seluruh produk POISE. Ahmad mengetuk "Mbak, ini laporan ..." Kaki Ahmad mengayun masuk.
"Eh, maaf saya kira tidak ada tamu." Ahmad mengayun langkah mundur keluar pintu. "Gak papa, sini masuk. Perkenalkan ini Dikta." Mata Renata gemintang dengan senyum canggung. Ahmad dan Dikta saling berjabat "Saya Ahmad."
Dikta membuka gawai "Maaf, saya pamit dulu. Ada rapat mendadak." Renata mengangguk lalu tersenyum.
"Jadi, udah putus nih sama Randi?" Tanya Ahmad. "Ya iyalah ... Ketauan dia selingkuh!" Renata cemberut mengingat kembali mantannya.
"Terus sekarang sama Dikta?" Tanya Ahmad. Renata diam wajahnya bersemu merah.
"Udah, sama aku ajalah!!" Ahmad menggoda Renata. "Enggak ah kamu kayak bapak-bapak," Renata menjawab sekenanya dengan wajah jahil.
"Mana laporan dari Pak Anwar?" Renata mengalihkan topik pembicaraan. Ahmad menyerahkan map di tangannya.
Mata Renata menyapu laporan itu. Alisnya berkerut sejenak. Telunjuknya menyentuh beberapa angka. "Wah, penjualan makin lama makin menurun." Renata menghela napas.
"Udah ya, aku drop barang lagi. Kasian Kang Kurnia udah nungguin di bawah." Ahmad pamit. Renata hanya mengangguk sorot matanya masih meneliti produk mana saja yang penjualannya menurun.
Turun dari kantor Renata, Ahmad melihat Dikta di lantai dasar. Matanya menatap layar gawai dengan raut wajah kebingungan. "Eh, Ahmad ya... Bisa minta bantuan?" Dikta menghampiri Ahmad yang baru keluar dari lift.
"Saya mau pesan ojol. Hape saya habis batere" tangan Dikta memperlihatkan layar gawainya.
"Oh sebentar Pak...." Jari Ahmad segera membuka aplikasi Grib.
"Bukankah ada fasilitas mobil untuk auditor, Pak?" Ahmad berjalan ke arah ruang resepsionis gedung POISE.
"Iya, tapi setelahnya saya ada urusan pribadi" Dikta menjelaskan.
"Oh, baik sebentar Pak. Mau ke daerah mana?" Dikta menekan layar gawai.
***
Lagu Kuntoaji mengalun pelan dari arah mobil pickup. Sudah terlalu lama sendiri. Sudah terlalu lama aku asyik sendiri. Tak ada lagi yang menemani. Rasanya...
Kang Kurnia bersenandung sambil rebahan di kursi sopir. "Eh, udah ketemu mbak Renata?" Ahmad mengangguk sambil duduk di kursi penumpang. Kang Kurnia segera memperbaiki posisi duduknya dan mengecilkan volume lagu Kuntoaji.
"Mad, 28 tahun sudah sangat cukup buat menikah. Mulai atuh cari calon istri. Jangan kayak lagu ini." Kang Kurnia membuka pembicaraan.
"Nanti aja, Kang. Dua adik saya belum lulus SMA. Insya Allah dua tahun lagi." Ahmad menjawab lesu. Benaknya membayangkan kesedihan dua adiknya saat ayahnya meninggal.
Selepas kepergian ayah, Ahmad berazam untuk menjadi tulang punggung keluarga. Setidaknya sampai ke dua adiknya lulus SMA. Ia tidak tega kalau melihat ibunya yang sedang sakit terpaksa bekerja.
"Iya, coba cari yang mengerti keadaan kamu, Mad! Pasti banyak perempuan yang kagum sama sosok kayak kamu ..." Ahmad terdiam menyimak dengan baik petuah Kang Kurnia.
Sudah 1,5 tahun mereka berpasangan mendistribusikan POISE kosmetik ke penjuru NAD City. Sosoknya mengingatkan Ahmad pada ayahnya. Walau mereka hanya berbeda enam tahun namun cara berpikir dan sikapnya sangat dewasa.
"Kayaknya mbak Renata itu baik lho. Kemarin akang dengar dia baru putus sama Randi" Tangan Kang Kurnia mulai memutar kunci kontak mobil pickup.
"Sekarang udah ada yang baru Kang, namanya Dikta. Renata terlalu tinggi buat saya atuh... Saya mah suka gadis yang sederhana." Ahmad menjawab sambil tersenyum.
Gas mobil pickup di tekan lebih dalam. Mereka memasuki jalan tol menuju Semesta Mall di pinggiran NAD City. Sebenarnya Ahmad ingin tidur, namun gak enak sama Kang Kurnia yang perlu teman ngobrol.
"Mad, saya sedih lho... Pak Ruhyat udah lama gak datang ke kantor. Beliau tuh pimpinan paling baik. Saat anak saya dirawat, beliau menjenguk ke rumah sakit. Mana ada coba pimpinan punya empati yang tinggi seperti itu. Padahal saya cuma pegawai rendahan di POISE ini." Kang Kurnia bercerita sambil mengemudi.
Kang Kurnia menarik nafas dalam, "Banyak rumor beredar tentang kehilangannya. Ada yang bilang diculik, kecelakaan bahkan dibunuh. Duuh... Akang gak tega membayangkannya. Semoga Allah selalu menjaga Pak Ruhyat yaa. Beliau selalu menolong orang. Saya yakin Allah pun pasti menolongnya."
Ahmad menyimak sambil menjawab singkat "Aamiin..."
***
"Mbak, ini kiriman POISE kosmetik." Ahmad menyerahkan satu kotak dus ke bagian gudang Bulan Supermarket.
"Oke, tanda tangan dulu di sini." Ahmad segera menandatangani berkas yang diberikan kepala gudang.
Selepas dari gudang, Ahmad masuk ke dalam Mall. Ia akan membeli minuman untuk menghilangkan dahaganya. Di dalam mall Ahmad melihat sosok yang ia kenal.
Itu Dikta, pacarnya Renata. Dikta bersama seorang gadis cantik. Tangannya menuntun anak yang berusia sekitar 4 tahun. "Yah, ingin itu!" Anak itu menunjuk ke arah gerai minuman.
Gadis cantik di sebelahnya berkata "Ayo, sayang. Bunda juga haus..."
Mereka bertiga berjalan mendekati gerai minuman. Jantung Ahmad berdetak lebih kencang. "Mas, sudah pesanannya?" Ahmad ingin buru-buru segera pergi dari gerai itu.
"Ini mas..." pelayan menyodorkan pesanannya. Ahmad berjalan menjauh secepat mungkin.
***
"Kang, ini minumannya!" Ahmad menyodorkan gelas plastik berisi jus jambu pada Kang Kurnia.
"Kenapa Mad, kok wajahnya tegang kitu?" Tanya Kang Kurnia sambil menerima jus jambu.
"Nanti ceritanya sambil jalan, Kang. Kita masih ada 1 tempat lagi" jawab Ahmad. "Siap bos!" Kang Kurnia memutar kunci mobil.
Pickup melaju membelah NAD City. "Gimana, katanya mau cerita?" Kang Kurnia membuka pembicaraan. Segera Ahmad menghabiskan jus sirsak yang tadi dipesannya lalu mulai menceritakan apa yang baru saja dilihatnya.
***
Di kafetaria POISE Cosmetic Renata celingukan mencari tempat duduk yang kosong. Tangannya memegang segelas juice mangga. "Mbak Ren, sini!" Tangan Ahmad melambai memberi tanda kursi kosong di sebelahnya.
Renata segera berjalan mendekati Ahmad lalu duduk pengipas-ngipas wajahnya dengan tangan. "Makasih ya ... Dari tadi nyari yang kosong gak dapet," Renata menyedot jus mangganya.
Ahmad memandang lekat Renata. Benaknya berpikir keras. Ia bingung bagaimana menyampaikan ini kepada Renata. "Ren, kamu masih sama Dikta?"
Renata menelan jus mangganya. "Masih, cuma belum ada komitmen sih," Ahmad meminum air mineral botol lalu menaruhnya di meja. "Ren, kemarin saya lihat Dikta di Semesta Mall. Dia sama seorang perempuan dan anak kecil. Saya dengar anak kecil itu bilang ayah sama Dikta."
"Aah...yang bener. Mirip kali...!" Mata Renata membulat tidak percaya.
***
Jam dinding besar di tembok kafetaria menunjukkan pukul 4 sore. Kafetaria mulai lengang. Ahmad masih di kafetaria POISE. Kali ini dengan Kang Kurnia. "Mas, ini kopinya!" Ahmad menerima pesanannya. Kang Kurnia di sampingnya melahap makan siang yang terlalu sore.
Sedang lahap mengunyah makannya, HP Kang Kurnia berdering. Ia melihat layar gawainya lalu segera keluar kafetaria untuk menjawab panggilan.
Kopi Ahmad sudah habis. Nasi Kang Kurnia yang tadi disantapnya sudah dingin. Kang Kurnia tak jua kembali ke kafetaria.
Sepuluh menit kemudian, ia baru datang. Kali ini tak sendiri. Kang Kurnia bersama seorang gadis hitam manis.
"Mad, kenalkan ini adik bungsu saya. Namanya Neneng" Kami bersalaman.
Entah kenapa, ada yang berdesir di dada. Ketika Neneng tersenyum semesta seakan berhenti. "Saya Ahmad...."
Mengalun pelan lagu Afgan...
Andai engkau tahu
Betapa 'ku mencinta
'Ku pasrahkan hatiku
Takdir 'kan menjawabnya
Jika aku bukan jalanmu
'Ku berhenti
Mengharapkanmu
Jika aku memang
Tercipta untukmu
'Ku 'kan memilikimu
Jodoh pasti bertemu
Komentar
Posting Komentar