MENYEMAI CINTA BACA DI PADANG LITERASI
MENYEMAI CINTA BACA DI PADANG LITERASI
Persoalan literasi masih menjadi hal yang harus dibenahi di Indonesia. Berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, Indonesia menempati peringkat ke 62 dari 70 negara, atau merupakan 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah.
Hanya 1 dari 1000 orang Indnesia yang gemar membaca. Rendahnya minat baca dan kemampuan literasi ini berdampak pada produsi buku bacaan di Indonesia setiap tahunnya. Melansir dari kemendagri.go.id (23/3/2021) total jumlah bacaan Indonesia dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia memiliki rasio nasional 0.09. Ini bermakna, 1 buku baru ditunggu oleh 90 orang Indonesia setiap tahunnya.
Berikut kutipan fakta yang saya ambil ketika googling tentang bagaimana deskripsi literasi di Indonesia. Sebuah fakta yang miris namun sebenarnya tidak mengagetkan juga karena jelas tercermin di masyarakat dengan jelas.
Terdiam lama menyadari hal tersebut. Hm, kira-kira apa penyebabnya ya? Dan apa yang bisa kita lakukan agar hal tersebut tidak terulang ke generasi berikutnya.
Saya mengamati penyebab rendahnya literasi dalam dunia pendidikan salah satunya karena pengenalan literasi dirasakan dipaksakan. Bukan sesuatu yang natural dan menyenangkan. Siswa pertama kali mengenal buku banyaknya adalah buku paket pelajaran yang terkesan kaku dan tidak menyenangkan hingga berasosiasi buruk bukan sesuatu yang seru untuk diminati.
Rasanya kita perlu mengevaluasi buku-buku paket pelajaran yang digunakan oleh siswa terutama di kelas bawah yaitu kelas 1-3 SD. Perlu ditambahkan tampilan yang berwarna dengan cerita menggunakan ilustrasi yang menarik membuat siswa bergairah untuk membaca.
Konon katanya perpustakaan adalah jantungnya pendidikan (The heart of education). Benarkah hal itu? Betapa sering kita lihat perpustakaan di sekolah hanya menjadi ruang sisa dengan rak-rak berdebu yang sepi pengunjung. Itu masih lumayan, ada sekolah yang perpustakaannya hanya satu buah rak buku saja.
Sudah seharusnya perpustakaan berada di lokasi yang paling strategis di sekolah. Sebuah ruangan yang selalu dilewati siswa. Dengan design interior yang nyaman dan keren untuk dikunjungi. Setidaknya ketika mereka mau masuk dan menjadi pilihan untuk nongkrong para siswa dengan teman-temannya disana. Buku-buku yang terpajang akan sekilas terbaca. Kelak akan ada tangan mengulur untuk mengetahui isinya.
Seperti di perpustakaan Jawa Barat yang kini begitu keren. Ruang baca anak terdapat area bermain anak mirip dengan yang disewakan di mall. Karpetnya empuk dengan boneka-boneka lembut untuk menemani baca. Tak kalah menariknya di ruang baca dewasa juga suasanya begitu nyaman dengan meja dan kursinyang seperti di caffe lengkap dengan banyak terminal untuk mengecharge gawai.
Di lingkungan pendidikan yang seharusnya literasi menjadi primadona rasanya masih jauh panggang dari api. Dalam hal teladan saja guru yang memiliki minat membaca masih tergolong rendah. Ketika mengikuti banyak pelatihan bersama guru-guru jarang sekali saya temui yang membaca buku ketika menunggu.
Guru perlu sadar sepenuhnya bahwa literasi itu sangat penting. Jika di dalam diri belum bisa tumbuh minat itu rasanya perlu pembiasaan dari lingkungan. Contoh hal kecil di sekolah saya setiap rapat mingguan guru harus membawa buku dan sebelum memulai rapat membaca selama 10 menit. Kepala sekolah menjadwalkan bergiliran setiap guru mempresentasikan buku yang telah ia baca kepada rekan-rekan kerjanya. Tentu dengan sistem ini semua guru akhirnya dipaksa untuk membaca.
Banyak sekali pekerjaan rumah agar literasi mampu tumbuh menjadi subur mekar berseri di padang edukasi. Kita sebagai guru adalah petaninya yang memulai membuka lahan baca untuk diri sebagai teladan kemudian menabur benih di diri siswa betapa membaca itu menyenangkan.
Bandung, 11 Juli 2022
Komentar
Posting Komentar