MENGULIK KONFLIK CERPEN SETELAH TIGA WINDU

MENGULIK KONFLIK CERPEN SETELAH TIGA WINDU


https://www.ngodop.com/2022/01/cerpen-setelah-tiga-windu.html?m=1


Cerpen ini begitu menarik perhatian saya bukan karena sesuatu yang wah. Justru sebaliknya cerpen ini begitu menarik karena kesederhanaan Lidwina Ro (sang penulis) mengangkat konflik sang tokoh utama. 


Ada tiga alasan saya memilih cerpen ini untuk tugas mengulik konflik. Pertama, cerpen ini mengangkat konflik batin yang tak mendidih atau bergolak namun tetap menarik untuk diangkat. Kedua, adalah tema yang diangkat merupakan peristiwa keseharian yang sering kali luput diangkat dalam cerita. Ketiga adalah sudut pandang orang pertama yang dipilih penulis untuk menceritakan konflik sangat tepat. Saya rasa jika menggunakan sudut pandang yang lain cerita ini akan begitu biasa tak terasa hikmahnya.


Pembuka cerpen ini tak ada gebrakan yang menghentak namun sebaliknya begitu mendayu namun tetap membuat pembaca penasaran.


Aku sebenarnya selalu diam-diam menyimak setiap kali orang-orang membicarakanku. Entah dengan berbisik-bisik, atau secara terang-terangan. Tidak ada bedanya. Meskipun aku mendengar, paling-paling aku tidak akan merespon. Aku selalu diam. Hanya menatap mereka dengan pikiran setengah kosong. Bukan karena aku tidak punya hati. Bukan pula karena aku tidak penasaran. Akan tetapi karena aku memang tidak mampu berpikir lebih jauh. Dan selalu berhasil membujuk diriku sendiri untuk selalu percaya bahwa sebenarnya aku baik-baik saja.


Kalimat-kalimat yang jalin menjalin mengangkat konflik diri sang tokoh utama. Diawali dengan kenyataan bahwa ibu yang melahirkannya telah meninggal. Kemudian sang ayah memberikan bayinya kepada bidan yang membantu persalinan kemudian pergi tanpa jejak.


Tapi sudahlah. Tidak apa-apa. Sewindu telah berlalu, aku masih baik-baik saja. Aku juga tidak begitu merindukannya. Bahkan aku sudah mulai lupa pada wajah Bapak, yang perlahan-lahan mulai memudar dalam bingkai ingatanku.


Ibu angkatnya begitu sayang pada sang tokoh. Menerima seutuhnya dirinya. Hirau dengan semua tatap orang yang merendahkan. Hanya kasih yang ia limpahkan. Klimaks cerpen adalah ketika sang bidan meninggal dunia.


Ketika Ibu meninggal karena serangan jantung mendadak, aku merasa dunia seperti runtuh menimpa kepalaku. Tetapi aku tidak bisa menangis. Entah mengapa aku terlahir seperti ini. Seperti biasa aku diam dengan pikiran setengah kosong. Tak tahu cara memberontak, meskipun ingin. Tak bisa berteriak walau mulutku sudah menganga.


Dari sinilah pergolakan batin sang tokoh mulai meningkat. Kalimat-kalimat yang dipakai penulis untuk menyampaikan kemarahan tokoh sungguh pas. 


Saya acungi jempol atas pilihan diksi cerpen ini. Pendeskripsian batin tokoh  sederhana dan mencerminkan dengan tepat bagaimana reaksi sang tokoh atas masalah yang muncul.


Lengkap sudah kesalku pada Tuhan. Aku benar-benar tidak ingin bicara pada siapa-siapa. Aku marah entah pada siapa. Aku tidak ingin makan. Dan aku juga tidak ingin belajar apa-apa lagi. Aku benar-benar kehilangan.


Seperti anak tangga yang perlu dititi. Cerpen ini mengantarkan kita pada jawaban mengapa reaksi lingkungan seperti itu terhadap dirinya. Apalagi setelah ia pindah ke kota pasca ibu angkatnya meninggal.


Banyak reaksi yang sudah aku terima dari orang-orang itu. Menjauhkan anak mereka dariku. Memunggungiku. Seolah aku seperti virus yang berbahaya. Banyak yang menggoda. Juga banyak yang meledek, dan merendahkanku.


Lingkungan baru memberikan label yang buruk. Dari sinilah sang tokoh mulai merasakan penyesalan atas apa yang di dalam dirinya.


Memberi wajah seperti ini. Memberi kemampuan serendah ini. Yang paling menyakitkan, memberi kebahagiaan sesingkat ini.


Di penghujung cerpen baru terbuka semuanya dengan jelas. Ternyata sang tokoh utama adalah seorang tuna grahita.


Namanya Hari. Dia idiot, tahu!”


Huss! Yang bener sebutnya tunagrahita. Anak yang mengalami keterbatasan mental dari lahir. Bukan idiot!”


Saya terkesan dengan paragraf penutup cerpen ini. Tanpa penghakiman apapun sudah seharusnya kita menerima mereka apa adanya. Tanpa label negatif bahkan menjadi jalan hikmah atas apa yang perlu disyukuri.


Bahkan setelah tiga windu lebih kulalui, aku masih tetap berada dalam tubuh dan jiwa yang seperti anak kecil. Masih sama seperti yang dulu. Terperangkap dalam satu karya milik Tuhan, di mana aku sendiri belum paham dengan benar cetak biru-Nya, yang harus aku jalani. Seumur hidupku.


Bandung, 23 Juli 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENJADI BERBEDA

MENDAMBA

Perjalanan Membingkai Makna