TAMU SELEPAS ISYA

 TAMU SELEPAS ISYA


"De, Om Alif ternyata ada tugas mendadak. Jadi besok gak bisa ikut acara "Ayahku Pahlawanku". Besok Dede di rumah aja ya. Gak usah ke sekolah," ucapku pada Dede.


"Maah ..., Dede ingin ikut atuh. Kata Bu guru wajib," wajah Dede cemberut.


Aku menatap Dede. Wajahnya begitu mirip dengan Akang Ridwan. Air mataku mulai menggenang di pelupuk. Ah, kang tak kusangka akang pergi begitu cepat.


Dede duduk di pangkuanku. Matanya begitu jernih. Menatap penuh harap agar aku mengabulkan permintaannya.


"De ..., Mamah dah berusaha minta Om Alif  adik ayah almarhum buat ikut acara Dede di sekolah tapi ternyata gak bisa. Gak apa-apa ya?" Aku menjelaskan kembali.


Kali ini Dede tidak menjawab apa-apa. Ia langsung memeluk lalu terisak di pangkuanku. 


***


"Mah, tau gak? Besok ada yang bisa temeni Dede ke acara "Ayahku Pahlawanku" di sekolah," mata Dede gemintang sepulang mengaji sore.


Alisku berkerut lalu mendekati Dede. "Apa maksudnya, De?" Tanyaku minta penjelasan.


"Pas Dede ngaji kan mata Dede masih keliatan habis nangis. Terus ditanya sama Pak Hasan kenapa. Terus Dede jelasin. Pak Hasan langsung bilang besok biar Pak Hasan yang datang," Dede dengan polos menjelaskan yang terjadi.


"De, mungkin itu buat menghibur Dede aja. Gak beneran," aku mencoba membuat Dede tak terlalu berharap.


"Beneran mah, kata Pak Hasan nanti sesudah Isya mau ke rumah. Ketemu mamah," Dede memberi informasi baru.


Mataku langsung membulat. Apa maksudnya ini? Aku tak terlalu kenal dengan Pak Hasan. Apa dia duda yang sedang cari istri?? Benakku sempoyongan dengan informasi baru ini.


Benarlah pukul 19.30 pintu rumah diketuk. Hatiku tak karuan dibuatnya. Selepas kematian Akang Ridwan tak ada lelaki yang hadir di hidupku.


"Mah, itu Pak Hasan sudah di ruang tamu. Bawakan martabak telur!" Tangan Dede sambil mengacungkan kresek putih dengan semilir gurih bawang daun wajahnya tersenyum.


Aku tertunduk merasa haru melihat kebahagiaan Dede. Sejak kematian Akang Rahmat ini pertama kalinya kumelihat wajah Dede begitu gembira. 


Mendekati ruang tamu kudengar jelas Dede sedang tertawa begitu akrab dengan Pak Hasan. Aku tak berani masuk langsung ke ruang tamu. Aku coba intip perlahan. Hanya baju koko coklat yang bisa terlihat.


Jantungku berdetak lebih kencang. Tanganku berkeringat. Apakah aku harus menemuinya? Dia sudah begitu baik pada Dede. Setidaknya aku harus mengucapkan terima kasih.


"Assalamu'alaikum Pak," suaraku bergetar. Sungguh gugup.


"Alaikumsalam," jawab Pak Hasan tersenyum ramah. 


Aku kaget ternyata Pak Hasan itu bukan bapak-bapak. Usianya sekitar 30 tahun. Sorot matanya begitu teduh. Berhidung mancung dengan senyum yang menawan.


Aku tersenyum kaku. Begitu grogi dengan keadaan baru ini. Kenapa aku salting dalam benak bertanya-tanya. Konyol aku bilang pada diriku sendiri.


"Terima kasih ya Pak sudah mau menemani Dede besok ke sekolah. Terima kasih juga kiriman martabaknya." Aku mencoba memecahkan rasa gugupku.


"Iya bu, Dede itu murid favorit saya. Gak tega lihat Dede sedih," Pak Hasan menjawab.


"Huuahh!!" Dede menguap panjang. "Dede ngantuk mah!" 


Aku melirik jam dinding. Ini memang waktunya Dede bobo. 


"Dede mau bobo sama Pak Hasan mah!" Dede menghampiri lalu tidur di pangkuannya.


Aku spontan melotot dan memberi isyarat itu tidak boleh. "De, itu gak sopan!"


"Maaf ya pak, Dede memang kalau tidur sukanya di pangkuan," aku menjelaskan dengan senyum canggung.


Namun Dede terlanjur teler. Ia langsung terlelap di pangkuan Pak Hasan.


"Enggak bu. Saya yang minta maaf. Saya yang salah. Datang terlalu malam," Pak Hasan malah minta maaf.


Keadaan tiba-tiba canggung. Aku tak tahu harus berbicara apa. Aku tak tahu apa-apa tentang lelaki di depanku kecuali dia guru mengaji Dede.


"Maaf ya mah saya lancang datang ke rumah. Hmm ... Sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan," Pak Hasan rautnya begitu serius.


"Saya kenal baik dengan Kang Rahmat. Ia kakak tingkat saya ketika kuliah. Beliau sangat baik. Ketika ayah saya meninggal Kang Rahmat yang membiayai kuliah saya sampai selesai." Pak Hasan berkata dengan suara tersendat.


"Makanya, saya gak tega lihat Dede sedih. Saya tahu bagaimana rasanya ditinggalkan ayah," Pak Hasan mengucap dengan mata berkaca-kaca.


"Saya tahu, mungkin ini tak pantas. Jika ibu berkenan, izinkan saya menjadi pengganti Kang Rahmat. Menjadi sosok ayah untuk Dede," kata-kata Pak Hasan terdengar penuh keyakinan.


Wajahku kaku karena kaget. Benakku melayang-layang bingung mendengar kalimat yang baru saja terucap. 


"Tak perlu dijawab sekarang, Bu. Silahkan ibu pertimbangan masak-masak dahulu. Jangan lupa sholat istikharah juga," kalimat yang meluncur dari bibir Pak Hasan begitu mantap.


Aku terperangah. Tak ada kata yang bisa keluar dari mulutku. Aku hanya mengangguk dengan dag dig dug di jantungku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENJADI BERBEDA

MENDAMBA

Perjalanan Membingkai Makna