DI BALIK MOGOKNYA KIRANA
DI BALIK MOGOKNYA KIRANA
Hari ini kami berempat naik Kirana ke sekolah. Saya, abi, kaka dan dede berdesakan di atas jok Kirana hitam. Walau sedang libur sekolah, kami sebagai guru kebagian piket bergiliran. Kaka dan dede saya ajak piket sekalian isi waktu liburan. Mereka bisa lari-larian di lapangan atau main bola.
Ketika di atas Kirana, saya langsung bertanya, "Bi, gimana bensin?" Pertanyaan yang seperti ritual setiap naik motor. Kirana memang sudah uzur, banyak hal yang sudah tidak berfungsi. Salah satunya adalah indikator bensinnya. "Sedikit lagi, nanti pulangnya beli bensin," jawab suami.
Piket berakhir pukul 14.00. Waktu piket telah berakhir. Roda Kirana berputar mengantar pulang. Ketika di jalan protokol, tiba-tiba Kirana berhenti. Abi segera menepi. Alis saya langsung berkerut dengan bibir cemberut. Dalam hati membatin, "Abi... Abi...," Ini bukan yang pertama kalinya. Saya juga salah sih, tadi gak mengingatkan isi bensin. Saya pandang kaka dede yang masih kecil harus berjalan menuju pom bensin yang cukup jauh.
Saya, kaka dan dede berjalan beriringan di trotoar dan abi di tepi jalan mendorong Kirana. Baru kira-kira 5 meter kami berjalan, ada seorang pemuda yang melihat kami. "Kang, kunaon?" Ia bertanya melihat abi mendorong motor. "Ini, habis bensin," jawab abi. "Ieu, urang step weh," (sini, saya dorong dengan motor. Kaki pengendara menjejak di knalpot Kirana agar bisa maju sampai pom bensin). Saya sungguh gak percaya, begitu cepat pertolongan Allah datang. Saya yang asalnya cemberut berubah senyum gemintang.
Lalu bagaimana dengan saya dan kaka dede? Alis saya kini mulai kembali berombak. Berarti harus menunggu atau berjalan kaki sampai pom bensin. Masya Allah ternyata pemuda itu berdua dengan temannya. Ia sama-sama berkendara motor sendiri tanpa penumpang. Temannya sama baik hatinya dengan yang step Kirana. Ia menawarkan saya dan anak-anak untuk naik motornya sampai pom bensin.
Selama perjalanan menuju pom bensin, saya melongo tak percaya. Begitu baik dua orang ini. Menolong kami dengan cekatan tanpa pamrih. Air mata haru mulai berlinang.
Sampai pom bensin, kami turun. Saya ucap terima kasih dengan gemetar. Semoga Allah memudahkan semua urusan kedua pemuda tadi dan dikabulkan semua hajat baik yang dipinta. Aamiin 🤲🏻
Ketika menunggu abi isi bensin. Saya dengar perbincangan kaka dede."Nanti kalau kaka sudah besar, kalau ada motor mogok kaka juga mau bantu," Dede tak mau kalah, "Dede juga! Semoga orang baik yang tadi bantuin kita masuk surga ya, kak!" Saya kontan menangis haru mendengarnya.
Betapa kebaikan yang tulus tak akan berhenti di sini. Ia menjadi warisan nilai pada generasi selanjutnya. Dengan contoh yang nyata dari kedua pemuda tadi, kaka dede belajar tentang betapa mulianya menolong itu 🥺
Bandung, 5 Juli 2022
Komentar
Posting Komentar