HILANGNYA SUARA RAKYAT
HILANGNYA SUARA RAKYAT
Pada zaman dahulu kala terjadi gelombang protes besar-besaran di kerajaan Sriwedari. Dari atas balkon Sang raja bergidik melihat ribuan rakyat berderap mendatangi istana.
Pekik riuh memekakan telinga. Meneriakan kalimat yang sama “Wahai Raja, turunkan pajak sekarang juga!” Kalimat itu menggetarkan dinding istana. Sebuah getaran yang akan meluluhlantakkan istana.
Protes ini berawal dari keputusan Sang Raja yang menaikan pajak hingga dua kali lipat. Awalnya tak ada yang berani menolak, namun itu tak bertahan lama. Sesuatu yang tidak seimbang perlahan akan mencari keseimbangannya. Gelombang protes mendera istana.
Dipimpin oleh pemuda gagah berani bernama Rengga. Ratusan rakyat kerajaan Sriwedari turun ke jalan. Mengular menuju istana memprotes kebijakan Sang Raja.
Raja mondar-mandir di depan singgasananya. Alisnya berkerut dengan tangan memegang dagu. Mencari jalan keluar dari persoalannya.
Benaknya terus berputar. Aha!! “Pengawal, panggil penyihir istana ke mari!” Raja memerintah.
“Kau bisa menyihir apa pun bukan?” tanya sang Raja.
Penyihir membungkuk “Iya tuanku!”
“Mendekatlah kemari!” Raja memerintah.
“Buatlah seluruh rakyatku hilang suara!” Sang Raja berbisik dengan senyum licik.
"Titah Baginda hamba laksanakan." Penyihir kembali membungkuk.
Penyihir mempersiapkan mantra-mantra untuk menjalankan titah raja.
Alakazam!!!
Dengan kecepatan cahaya langit di kerajaan Sriwedari tiba-tiba menghitam. Kilat dan guntur bersahutan. Rintik hujan magis turun. Mengguyur seluruh rakyat Sriwedari.
Waktu seakan membeku. Iringan protes kini berganti sunyi. Hening seperti di kuburan.
"Ha...ha...! Kini aku bisa tenang!" Sang Raja mengusap dada.
***
Rengga menggerakkan bibirnya. Berusaha mengeluarkan suara namun hanya embus sepi yang keluar. Semua pendemo saling pandang dengan sorot tanya.
Orang-orang mulai menggunakan bahasa tubuh untuk menyampaikan pesannya. Kerut alis dan raut bingung mengukir semua wajah di jalan-jalan menuju istana.
Rengga membaca keadaan dengan cepat. Ia mengambil sebilah kayu lalu memukul-mukul benda apa pun yang ada di sekitarnya untuk mendapatkan perhatian rakyat Sriwedari.
Orang-orang mulai melihat ke arahnya. Tangan Rengga memberi isyarat agar para pendemo berbalik arah. Dalam keadaan seperti ini, rencana harus disusun ulang.
Perlahan tapi pasti, gelombang arus pendemo memutar balik. Tak ada riuh. Tak ada ribut. Semua berjalan tanpa keributan.
Rengga mencari tempat yang tinggi lalu menepuk-nepuk tangannya. Ia memberi isyarat agar setiap tangan menggandeng orang di sebelahnya.
Ia ingin memberi pesan, kami tetap bersatu apa pun yang terjadi.
***
Sang Raja malam itu, dapat tertidur dengan lelap. Tak ada gangguan dan rongrongan lagi. Kerajaan terkendali dengan baik.
Pagi hari ketika terbangun, raja langsung melihat keadaan dari balkon istana. Suasana begitu tenang dan damai. Tak ada lagi suara bising pendemo. Senyum kemenangan terlukis di bibirnya.
"Aahh.. kini tak ada yang perlu dikhawatirkan." Gumam Sang Raja saat menuju singgasana.
***
Selepas hujan magis itu. Tak ada satupun rakyat Sriwedari yang dapat berbicara.
Kini semua berkomunikasi dengan bahasa tubuh atau menuliskan pikiran dan perasaannya pada lembaran kertas.
Rengga termangu. Benaknya berputar mencari jalan keluar atas masalah ini. Dua masalah besar yaitu pajak yang naik 100 persen dan hilangnya suara rakyat Sriwedari.
Bagaimana hilangnya suara malah akan meningkatkan pendapatan rakyat yang ujungnya bisa membayar pajak yang mahal?
Aha!! Rengga memiliki sebuah rencana. Ditulisnya sebuah pengumuman yang akan ia tempel di balai kota.
Rengga mengundang seluruh anak muda dalam rapat besar untuk sama-sama menemukan solusi dari keadaan ini.
Ruang rapat begitu hening. Setiap orang menuliskan jalan keluar dari masalah yang dihadapi.
Satu ide begitu terang benderang. Kertas itu estafet digulirkan dari satu tangan ke tangan lainnya. Setiap wajah berbinar selepas membacanya.
"Jadikan kerajaan Sriwedari tujuan wisata yang unik. Sebuah tempat yang hening dan sunyi cocok sebagai tempat berlibur." Begitu tulisan di kertas itu.
Semua mengacung jempol tanda sepakat dengan rencana baru itu. Gairah terpancar dari jiwa-jiwa yang pantang menyerah. Sebuah jiwa yang mampu memantik cahaya di kegelapan.
Tangan-tangan menari menuliskan langkah-langkah nyata untuk mewujudkan ide ini. Bagaimana promosinya? Bagaimana menyiapkan penginapan? Bagaimana...
Komentar
Posting Komentar