CURAHAN MIMPI
HARGA SEBUAH MIMPI
Karya: Laksmi Purwandita
Di swalayan mimpi. Kubaca berapa harga impian. Deret angkanya gelegar petir di siang hari. Alis berkerut memutar rencana bagaimana cara mendapatkan ini
Ratusan buku telah lahap kubaca. Ribuan kata tergores penuh makna. Satu persatu puisi berlayar di lautan tinta bahasa. Badai dan ombak kekalahan aku arungi. Hingga tiba waktunya ...
Antrean pembeli mimpi mengular hingga angkasa. Troliku berisi hanya satu. Kasir tersenyum dan menyapa. Barcode mimpi memindai usaha. Kujinjing impianku larut dalam syukur
Bandung, 20 Februari 2020
Berbicara mengenai mimpi, mengenai keinginan. Saya terdiam dalam pekur tak berkesudahan. Mimpi itu berevolusi. Ia berubah seiring waktu, seiring pengalaman hidup kita.
Apa gerangan mimpiku? Sesuatu yang sensitif untuk dibicarakan sebenarnya untuk seorang introvert. Saya hanya membincangkan dalam pikiran, buku harian dan tentu saja doa.
Lalu mengapa saya menulis ini? Hm, sebenarnya saya baru sadar tentang impian diri melalui puisi-puisi yang pernah saya tulis beberapa tahun belakangan.
Puisi-puisi di file lama yang tak pernah disentuh. Terdiam, ini bukan kebetulan. Pasti ada yang perlu dipahami dan kembali dihidupkan.
Saya baca berulangkali. Menyerap energi kala saya menulis puisi itu. Jejak-jejak mimpi berkelindan dengan waktu.
Waktu yang tak pernah berhenti berlari. Saya termangu digerogotinya, lalu apakah usaha ikut mengiringi?
RUMAH MASA DEPAN KITA
Karya: Laksmi Purwandita
Sayangku ... wajah yang mengendur serta tabur salju di kepala. Kerut halus di ujung mata serta bentang garis senyumku. Tentu tetap membuatmu terpesona bukan?
Kita melihat cucu-cucu menggambar dinding dengan krayon setelah kelelahan bermain bola di kebun belakang kita
Deret buku di sekujur rumah kita tertulis Laksmi Purwandita. Jajar piala di atas meja dan piagam menggantung di selasar tangga
Di lantai dua rumah kita. Pigura photo keluarga tersenyum ceria. Kenangan di baitullah bersama seluruh keluarga di samping toga wisuda dalam bingkai bunga-bunga
Kau memandangku di sudut ruang. Membawakan secangkir teh manis hangat dan roti bakar keju. Buyar lekat mataku di pendar laptop. Kita mengunyah nostalgia. Tertawa binar bahagia mengingat kaka dede ketika balita
Bandung, 25 Februari 2020
Komentar
Posting Komentar