ADA APA DENGAN RENGGA
ADA APA DENGAN RENGGA?
"Ngga jadi nonton Coldplay di Singapura?" tanya Ivan membuyarkan lekat sorot Rengga di laptop. "Eh, iya kasian Canti dah nungguin di sana"
Ivan mendekati Rengga."Terus, kenapa lu masih disini?"
Rengga menghela nafas. "Tulisan ini harus selesai. Gak kebayang kalau tulisan ini gak jadi terbit"
Ivan mengambil tasnya lalu melangkah ke pintu keluar. "Oke, kalau gitu gue pulang duluan ya!" Rengga mengangguk masih tetap lekat memandang laptop.
"Sayang, dah boarding?" Suara Canti mengalun di gawai Rengga. Rengga menarik koper menuju bagian pemeriksaan paspor. "Iya, sebentar lagi"
Rengga duduk di ruang tunggu boarding. Binar matanya gemintang. Ini tahun ke tiga pernikahan mereka. Kehadiran Canti membuat hidupnya yang dulu hitam putih kini penuh warna. Lengan Rengga menggores sepucuk puisi.
Cintaku,
Tiga puluh enam purnama
Di langit-langit rumah kita
Berpendar penuh nuansa
Hadirmu di hidupku
Gemintang di langit kelam
Terima kasih sayang atas kerlipmu
Bandara, Februari 2020
Rengga melipat kertas itu. Benaknya menggambar imaji Canti yang bersemu merah setiap ia tuliskan puisi. "Gombal!!" Ia pasti berucap sambil mencubit manja padanya. Lalu Rengga akan memeluknya menghirup wangi rambutnya. Ahh, betapa ia rindu ....
Sayup suara mengumumkan boarding. Di sampingnya seorang perempuan berwajah pucat menggigit bibir menggigil ketakutan. Rengga meliriknya sekilas. Hatinya berkata semoga ia tak duduk di sebelahnya.
Rengga menyusuri lorong panjang di antara baris kursi. Ia bersyukur duduk dekat jendela. Memandangi kerlip lampu di gulita malam memberi romansa tersendiri. Kembali bayang Canti memantul di jendela pesawat.
"Maaf, Mas, penutup jendelanya bisa ditarik?" Seorang gadis dengan suara lirih gemetar di sebelah Rengga. Itu perempuan tadi yang mengantre masuk pesawat. Wajahnya begitu tegang. Ia terus meremas tangannya.
Rengga segera menarik penutup jendela pesawat. "Pertama kali naik pesawat Mbak?" perempuan itu mengangguk tanpa ada jawaban. Wajahnya menatap lurus punggung kursi di depannya. Ketika pesawat take off perempuan itu mencengkeram erat kursi. Rengga melirik sejenak ada bersit kasihan di hatinya.
Terdengar sayup suara dari speaker pesawat
"Para penumpang yang terhormat, selamat datang di penerbangan Fantastic Airlines dengan tujuan Singapura. Penerbangan ini akan kita tempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam 30 menit, dengan ketinggian jelajah 12.000 kaki di atas permukaan laut ..." Rengga memejamkan mata segera terlelap.
"Uwoo...uwoo...," Perempuan di samping Rangga mulai mabuk udara. Bergegas seorang pramugari mengambil kantong kertas untuk muntah "Pakai ini, Mbak!" Sambil mengusap-usap lembut punggungnya.
Rengga terbangun oleh jeritan perempuan di sebelahnya. Suasana panik memenuhi langit-langit pesawat. Wajahnya kebingungan. Degup jantung Rangga berdetak lebih kencang. Pikirannya belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi.
Terdengar pengumuman dari arah kokpit.
“Well, halo semua. Sepertinya anda harus mengubah seluruh rencana yang anda buat, karena pesawat ini tidak akan terbang menuju Singapura seperti tujuan semula. Kita akan menuju lokasi lain, sampai seluruh tuntutan yang kami buat dipenuhi otoritas di Jakarta. Be good, and we will keep you safe. Nggak usah sok pahlawan, atau kita semua mati. DOR! DOR!DOR!"
Aliran darah Rengga terasa berhenti lengannya mulai bergetar. "Bagaimana ini Mas??" Perempuan di samping Rengga mencengkeram lengannya. Wajahnya menelungkup memeluk menangis tertahan. Rautnya panik berderai air mata. Rengga mematung. Perempuan itu kini mulai melafalkan dzikir dengan air mata yang makin deras.
Suasana berubah mencekam karena kini para pembajak hilir-mudik membentak dan mengancam penumpang yang mereka rasa berbuat hal-hal yang mencurigakan.
Perempuan di sampingnya menutup mata, mengulum dzikir dengan tangis terisak. Kini ketakutan atas naik pesawat telah sirna. Pembajakan pesawat sejuta lebih menakutkan.
Suasana panik makin pekat di udara. Rengga menyaksikan 3 penumpang merenggang nyawa di atas pesawat. Tangannya berkeringat, kepalanya berdenyut tak karuan. Sungguh ia berharap ini hanya mimpi.
Rengga terpekur. Lengannya mengangkat penutup jendela pesawat. Pendar lampu kota makin lama makin mengecil. Lengan Rengga merogoh tas mengambil buku catatan. Sorot matanya kelabu. Sesaat ia terdiam memejam mata. Menarik nafas dalam lalu kembali menulis. Di akhir kalimatnya air mata tak terbendung. Rengga menunduk dan membiarkan air matanya mengalir deras.
Inilah kata-kata Rengga untuk Canti
Sayangku Canti, kita tak pernah tahu bukan bagaimana takdir akhirnya mempertemukan kita kembali. New York dan Jogja bagi akal manusia yang sempit rasanya tidak mungkin kita bisa kembali bersatu setelah 14 tahun berpisah. Bahkan waktu itu engkau telah bertunangan. Namun cintaku, kita sekarang bersatu. Kita tak hanya sepasang kekasih. Kau sekarang nyonya Rengga. Sejak pertemuan kita kembali tak ada satu pun hari aku tidak merasa bahagia. Sungguh aku sangat bersyukur atas kehadiranmu di hidupku.
Ketika kau membaca surat ini, aku tak tahu bagaimana keadaannya. Canti, kau adalah perempuan paling kuat yang pernah aku kenal. Menangislah sayangku...menangislah hingga kau tak bisa menangis lagi. Berdoalah untukku dimana pun dan kapan pun kau rindu.
Rengga, Februari 2020
Rengga menatap nanar suratnya. Menghela napas dalam dengan alis berkerut. Segera ia menaruh kembali buku catatannya ke dalam ransel.
Rangga memejam mata segera paras Canti tergambar jelas. Film imajinya berputar kembali. Pertemuannya ketika SMA, rindunya di New York, pencarian Canti di Jogja dan hari pernikahannya.
Dada Rengga berguncang menahan sakit atas kebahagiaan yang dengan paksa terenggut. Dalam hati Rengga melantun doa "Ya Rabb .... Namun tiba-tiba terhenti. Teriakan pembajak bergaung jelas "Gawat, bahan bakar habis!"
Doa Rengga tertahan. Suara jeritan, lafal dzikir dan tangis memenuhi atmosfer pesawat. Dua detik kemudian, pesawat berguncang hebat diikuti gelap.
Komentar
Posting Komentar