RIMA DAN RAHMAN (4)

 RIMA DAN RAHMAN (4)


"Assalamualaikum ..." Tanti berdiri di depan pagar sedang Rima berdiri tepat di belakang Tanti seperti bersembunyi.


"Waalaikumsalam." Tak lama kemudian ada yang menyahut dari dalam.


Terlihat Rahman menggunakan kaos oblong dan sarung membuka pintu. Wajahnya jelas kaget. Sorot matanya berbicara "Kenapa gak ngasih tahu dulu." Namun kemudian ia tersenyum.


"Duh maaf saya pakai sarung. Belum bisa pakai celana. Betisnya bengkak jadi sudah pakainya." Ia berjalan menyeret kaki sebelah kanan untuk membuka pagar.


Di depan rumah Rahman terparkir 3 sepeda dalam keadaan rusak. Sebelum masuk ke ruang tamu terdapat ruang bengkel sepeda. Tiga buah lemari menempel di dinding berisi berbagai baut, kunci, tang, gegep dan peralatan lain. Menggantung juga dua buah speaker berwarna hitam. Dua buah pelek sepeda tergeletak di lantai.


Ruang tamu rumah Rahman berisi 1 sofa usang yang kulitnya terkelupas dan 2 kursi plastik berwarna hijau. Di tengahnya ada meja tamu dari kayu. Dindingnya masih tergantung foto pernikahan Rahman dan Nurul. Melihat itu, dada Tanti berkesiap. Ia ingat kembali sosok sahabatnya dan amanat yang kini sedang ia usahakan.


"Silahkan duduk, maaf ya berantakan." Rahman duduk perlahan di kursi plastik. Rima sekilas melihat foto pernikahan Rahman dan istrinya di dinding. Terbit rasa tak nyaman di dadanya.


Rahman menggaruk kepala. Pikirannya bingung melihat Rima melihat foto pernikahannya dengan Nurul. "Ini, almarhumah istri saya. Namanya Nurul. Sahabatnya Tanti juga." Tiba-tiba suasana terasa beku.


"Eh, gimana ceritanya sampai jatuh?" Tanti mencoba mencairkan suasana. Ternyata selepas pulang dari rumah Rima motor Rahman diserempet mobil. Untungnya sopirnya bertanggung jawab. Rahman dibawa ke rumah sakit. Lukanya tidak terlalu parah hanya beberapa luka lecet dan menunggu bengkak di betis kempes.


"Sebentar, saya bikinkan minum." Rahman menyeret kakinya ke arah dapur. 


"Gak usah!" Tanti menyusul Rahman. "Dapurnya masih disana?" Tanti kemudian bertanya. Rahman mengangguk.


"Rahman duduk saja. Istirahat ... Kita kan menjenguk yang sakit. Biar kami yang membuat sendiri." Tanti meraih tangan Rima mengajaknya ke dapur.


Dapur merupakan area yang paling tertata dibanding ruangan lain. Terbayang kembali raut bahagia Nurul kala bercerita suaminya menghadiahkan renovasi ruang dapur sebagai kado ulang tahun pernikahan pertama. Keramiknya berwarna biru. Warna kesukaan Nurul. 


Rima mematung di sebelah Tanti. Wajahnya teduh serupa Nurul. Dalam hatinya berdoa semoga Allah memudahkan niat baiknya.


"Yuk! Kita mulai masak." Tanti dengan cekatan mengeluarkan hasil belanjaannya tadi di warung sayur.


Mereka membagi tugas. Tanti memasak ayam goreng bumbu kuning sedang Rima yang meramu sayur sop.


Di ambang pintu dapur, Rahman melihat mereka berdua. Sebuah pemandangan tak biasa. Sudah dua tahun lebih berlalu tak ada perempuan yang memasak di ruangan ini. 


Perasaan Rahman campur aduk di satu sisi hatinya kelabu betapa ia merindukan Nurul. Di lain sisi ada percik bahagia atas hadirnya Rima. 


Benak Rahman mengingat kembali percakapannya dengan Tanti tentang Rima. Bagaimana masa lalunya, bagaimana keluarganya dan amanat Nurul yang baru ia ketahui. 


Kembali membuka hati adalah keputusan yang tak mudah juga untuknya. Ia sangat mencintai Nurul. Tak ada satupun yang bisa menggantikan. Maka, ketika ia membaca surat Nurul untuk Tanti. Dadanya gemuruh mungkin ini jalannya untuk melangkah.


Rima kikuk menyadari Rahman mengintai dari pintu dapur. Dadanya berdetak tak karuan. Keringat merembes dari bergo cokelatnya. 


"Aduh!" Tiba-tiba kentang jatuh  menggelinding ke arah pintu dekat Rahman berdiri. Rima diam saja tak berani mengambil. Sikunya menyenggol pinggang Tanti. Berharap Tanti mau mengambil. Tanti bergeming dengan raut jahil. Terpaksa Rima mengambil kentang itu dengan wajah memerah. Untunglah, setelah mengambil kentang Rahman tak lagi berdiri di pintu dapur.


Bila kamu di sisiku hati rasa syahdu

Satu hari tak bertemu hati rasa rindu


‘Ku yakin ini semua perasaan cinta

Tetapi hatiku malu untuk menyatakannya


Bila kamu di sisiku hati rasa syahdu

Satu hari tak bertemu hati rasa rindu


Sayup terdengar alunan lagu Rhoma Irama dari ruang bengkel. Tanti melirik ke arah Rima. Bibir Rima manyun sedang pipinya bersemu merah. 


Bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENJADI BERBEDA

MENDAMBA

Perjalanan Membingkai Makna