Menerima Penolakan
MENERIMA PENOLAKAN
Keluar dari zona nyaman merupakan sebuah tantangan. Saya terbiasa dengan rutinitas yang hampir sama bertahun-tahun. Maka, di suatu masa kala sadar waktu terasa sama. Namun benarkah sama?
Melihat Kaka Dede yang mulai bertumbuh. Tahun ini mereka masuk SD. Meraba kulit wajah yang mengendur. Jua murid-murid saya lihat di IG story sudah banyak yang menikah dan punya anak. Apakah benar waktu membeku?
Alis saya mengerut. Benak memutar, rasanya saya perlu melakukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang membuat hidup saya berpercikan. Sesuatu yang saya sukai namun tak lagi saya lakukan.
Aha!! Selain menulis, sebenarnya saya suka memotret. Yap! Dulu punya kamera digital sederhana. Jeprat-jepret sana sini. Teorinya sih gak tahu. Ya, pokoknya yang menurut saya indah menarik saya foto. Maka saya ingin kembali memotret.
Googling saya tentang memotret. Dan menemukan kini bisa jualan foto di Internet dengan bayaran dollar. Mata saya berbinar membayangkan jika hasil jepretan saya yang lama dijual di sana mungkin ada penghasilan tambahan 🤑
Shutterstock nama aplikasinya. Saya cari informasi buat akun dan bagaimana cara unggah fotonya di YouTube. Sebagai emak-emak, puyeng juga dengan banjir informasi sedemikian banyak. Menemukan video mana yang paling mudah dipahami hingga bisa diikuti langkah perlangkah ternyata sulit juga.
Alhamdulillah 🤲🏻 setelah lepas dari kebingungan, bisa juga saya buat akun shutterstock contributor. Selanjutnya mengunggah foto. Ini juga mencoba-coba dengan trial and error. Bagaimana menulis deskripsinya (mana harus pakai bahasa Inggris), kemudian kategori dsb.
Dengan percaya diri saya unggah tiga foto yang menurut saya mah bagus. Menunggu review penasaran juga. Tetew... tiga foto yang saya unggah ditolak. Tertulis alasannya karena judul yang tidak sesuai dengan gramar dan fotonya tidak fokus. Bayangan saya yang berkelebat tentang penghasilan dollar menciut. Terdiam baru sadar: Bahwa ini tak semudah yang saya bayangkan dan harapkan.
Saya mulai belajar kembali, menonton kembali YouTube tentang bagaimana foto kita bisa diapprove. Kini sudah sembilan foto saya unggah dan masih belum diterima he..he..
Terdiam, ingat bagaimana tulisan saya yang ditolak penerbit mayor. Banyak kekalahan ketika ikut lomba menulis puisi. Maka, penolakan ini adalah labirin impian yang perlu dititi.
Dari YouTubenya Bima Aditya saya menangkap suatu makna besar tentang mencintai apa yang kita lakukan. Jika ingin sukses menjadi contributor Shutterstock perlu kesabaran, kekonsistenan dan terus belajar. Beliau bilang, minimal unggah satu foto setiap hari sampai tiga bulan. Perlahan juga akan menemukan jalannya.
Bandung, 1 Juli 2022

Komentar
Posting Komentar