RIMA DAN RAHMAN (1)

 RIMA DAN RAHMAN (1)


Rima menatap nanar undangan pernikahan di tangannya. Ia mengusap air mata di pipinya. Biarkan air matanya menetes sekarang nanti ketika saudara-saudara mulai berdatangan ia harus menyungging senyum termanis. Merasa semua baik-baik saja.


"Rim, kebayanya sudah digantung ya!" Rima mengangguk memberikan ulas senyum. 

"Terima kasih mbak." Rima melihat sekilas kebaya yang harus ia kenakan di pernikahan adiknya.


Semua seremoni berlangsung sangat meriah. Beberapa saudara menjaga perasaannya tak bertanya tentang jodoh namun yang lain terang-terangan bertanya kapan nyusul. 


Kalimat-kalimat itu seperti desing peluru di telinganya. Peluru itu menancap tepat di dada. Ia paksakan menyungging senyum dengan pola kalimat yang sama. "Iya, belum. Doakan ya!"


***


Waktu mengubah warna hijau daun menjadi kuning lalu mengering. Waktu mengubah cucian basah menjadi kering. Namun tak mampu mengubah luka di hati Rima.


Adiknya kini telah memiliki tiga anak. Enam tahun berselang dari pernikahan adiknya. Beberapa menawarkan perjodohan yang lain hanya nyinyir atas keadaannya. 


"Sudah sholat istikharah?" Tanti menatap lembut sahabatnya. Rima menarik napas dalam. Raut wajahnya gamang. Adegan pekan lalu memutar di benaknya.


"Rim, ini Mas Rahman." Tanti mengulur foto lelaki ke arahnya. "Ia memang duda namun gak punya anak. Istrinya meninggal dua tahun lalu." 


Rima menatap sekilas foto itu. Benaknya memutar adegan masa lalu. Perlahan terasa sakit di dada. Apakah sudah saatnya ia mencoba lagi? 


"Ia memang hanya montir sepeda, namun pekerja keras. Istrinya dahulu meninggal karena sakit. Ia rawat dengan sabar." Tanti mulai merayu Rima.


"Eh, kok ngelamun?" Tanti membuyarkan lamunan Rima.


Rima tertunduk bingung akan tawaran sahabatnya. Ia tahu benar jika Tanti yang menawarkan pasti telah berpikir matang. Jika orang lain mungkin hanya asal saja. Tanti orang yang selektif. 


"Tak usah terburu-buru." Tanti mengelus bahu Rima. "Jangan juga terpaksa." Tanti kemudian menambahkan.


Rima menggigit bibir bawahnya. Menatap ke arah Tanti sekilas lalu kembali tertunduk.


"Sudah, tidak apa-apa kalau belum mantap. Santai aja." Tanti berkata lembut. 


Benak Tanti memutar ulang kejadian 7 tahun yang lalu. Bagaimana air mata Rima tumpah kala Rendi membatalkan pertunangan mereka tanpa alasan yang jelas. 


Malangnya kejadian ini bukan yang pertama. Lima tahun sebelumnya pertunangan Rima dengan pria lain pun hempas karena calon suaminya itu meninggal pada kecelakaan pesawat.


Tanti paham benar luka batin yang dialami Rima. Makanya ia begitu berhati-hati saat menawarkan Rahman. 


Sebenarnya bukan Rahman yang ia kenal baik. Namun Istri Rahman terdahulu. Nurul namanya. Seorang perempuan bermata teduh. Ia ingat sekali bagaimana mata Nurul berbinar setiap menceritakan bagaimana pernikahan mereka.


Allah memberikan waktu hanya 2 tahun dalam mahligai pernikahan. Tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka, Nurul yang memang sakit-sakitan sejak kecil menghembuskan napas terakhir.


Satu minggu setelah kematian Nurul, adik Nurul menyerahkan sepucuk surat. Tertulis jelas namanya di depan amplop "Untuk Tanti" Dengan gemetar Tanti membuka surat di genggamannya.


Tan, aku gak tahu sampai kapan bisa bertahan. Semua memang sudah diatur Allah. Sebenarnya yang menjadi kekhawatiranku adalah Mas Rahman. Mohon carikan perempuan yang baik selepas aku pergi. Seorang perempuan yang akan membuatnya bahagia. 


                                                              NURUL

                                                              

Duka masih menyelimuti Rahman kala itu. Kepergian Nurul sungguh memukulnya. Tanti tidak tega menyampaikan amanat Nurul kepada Rahman. Tanti yakin ia akan menolaknya mentah-mentah. Jelas Rahman perlu waktu untuk mengikhlaskan. 


Waktu berputar dengan cepat. Dua tahun berlalu. Tak ada kabar Rahman menikah lagi.  Tanti sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya. Hingga ...


"Bun, sepedaku remnya putus!" Adam anak sulung Tanti manyun di depan pagar. Ingatan Tanti dalam kecepatan cahaya berlari pada Rahman. Deg!! Arus memori atas Nurul dan sepucuk suratnya mengitari kepala.


"Eh, kok bunda malah ngelamun?" Tanya Adam. Suara Adam membuyarkan lamunan Tanti. 


Tanti menghimpun kesadarannya. "Iya, nanti siapa tahu ayah bisa betulkan atau kalau gak bisa, nanti bunda minta bantuan teman bunda." Tanti menjawab dengan beban di dadanya.


Lewat sepeda Adam yang rusaklah amanat Nurul sebelum wafat kembali terngiang. 


"Om, makasih ya! Rem sepeda Adam sudah bener lagi." Wajah Adam berbinar. Rahman tersenyum puas melihat hasil pekerjaannya. 


"Pokoknya kalau ada apa-apa dengan sepeda Adam. Tinggal WA aja. Masih garansi." Rahman berkata sambil membereskan peralatannya.


Rahman kini membuka home service sepeda. Badannya sekarang terlihat lebih gempal. Wajahnya juga terlihat segar. 


"Bagaimana nih sekarang. Sudah ada nyonya Rahman yang baru?" Tanti coba mengorek informasi.


Rahman tersenyum mendengar pertanyaan Tanti. "Belum, ini lagi nyari." Wajah Rahman bersemu merah.


Dada Tanti merasa lega. Jalannya terbuka lebar. Semoga semua dilancarkan. Wajah Rima terbayang jelas di benak. Mereka sungguh cocok menjadi sepasang suami istri.


Bersambung ...




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENJADI BERBEDA

MENDAMBA

Perjalanan Membingkai Makna