Perjalanan Membingkai Makna
Perjalanan Membingkai Makna
NLP for Everyday Life
Penulis:
Teddi Prasetya Yuliawan
Rita Anggorowati
Beberapa buku memercikan pikiran kala membacanya. Buku ini salah satunya..dan tak hanya itu. Buku ini membuat saya diam dalam renung cukup lama.. hmm karena ada beberapa idenya yang belum kepikiran. Sungguh bermakna!
Sudah lama gak baca buku nonfiksi karena lagi gak mau baca yang bikin alis berkerut. Lagi perlu hiburan 😁 Eh, tiba-tiba dapat buku ini. Hadiah dari penulisnya. Kebetulan putranya Bu Rita murid saya. Alhamdulillah...
Covernya menarik dipandang mata dengan warna kuning cerah dan putih. Jauh dari kesan berat dan "angker" buku nonfiksi. Setelah mulai membaca, ternyata isinya pun sesuai dengan covernya. Ringan dan sangat menarik.
Buku ini membahas aplikasi teori NLP (Neuro Linguistik Programming) untuk sehari-hari. Bahasanya sungguh ringan namun penuh gizi. Di akhir bab, ada ayat Qur'an atau doa yang sesuai dengan pembahasan nya. Hingga membacanya makin menyerap di hati.
Ketika membaca buku ini, saya menemukan beberapa istilah khusus bidang NLP. Nah, bagi saya yang awam agak perlu menerka apa maknanya. Maka, walau pembahasan nya keseharian untuk beberapa bagian kita perlu mencari tahu arti nya.
Buku ini sangat cocok untuk penggemar buku jenis self motivation. Bahasa ringan walau beberapa bagian bertema berat. Penyajiannya seperti tulisan buku harian yang sarat hikmah dengan tambahan pembahasan dari sudut teori NLP.
Secara keseluruhan buku ini sangat layak dibaca dan bermanfaat 👍👍
Berikut saya lampirkan quotes favorit dari buku ini
Hal 143
Tugas seseorang sebenarnya bukanlah mencari jodoh, melainkan menyambut jodoh yang pada waktunya pasti akan muncul dengan sendirinya.
Hal 134
Namun pernahkah kita menyadari, bahwa selalu ada kata 'uji' dalam pujian?
Halaman 22
Apakah mungkin kita mendapatkan segalanya?
Menggunakan logika sederhana saja, ketika saya memilih untuk memiliki sesuatu, bukankah berarti saya memilih untuk tidak memiliki yang lain? Ketika saya memilih untuk memiliki rumah sendiri, bukankah pada saat yang sama saya memilih untuk tidak menyewa sebuah rumah?
Hal 74
Sebab cinta dan benci, hanyalah rasa yang didasarkan pada penginderaan yang tak lengkap. Penginderaan yang penuh dengan distorsi, generalisasi dan delesi.

Komentar
Posting Komentar