TAK LAGI DARING

 


TAK LAGI DARING


Pagi ini aku manatap langit-langit kamar dengan malas. Membayangkan bagaimana hari akan berjalan. Ini akan menjadi hari membosankan seperti biasa. 


Aku menghela napas kemudian meregangkan tubuh. Ingin kembali terlelap namun sayangnya harus kuurungkan. Suara Mama terdengar nyaring dari arah dapur. "Dam, bangun! Ingat sekarang sudah mulai ke sekolah. Gak boleh ketiduran lagi." 


Biasanya selepas salat subuh aku bisa tidur lagi. Pukul tujuh seperti ini, aku masih rebahan di atas kasur. PJJ mulai jam 8 pagi. Aku akan memulai zoom tanpa mandi, hanya cuci muka saja. 


Aku melirik jam dinding. Menatap jarumnya dengan saksama. Pukul 05.30 mataku menatap bayangnya. Aku mengucek mata lalu duduk dengan malas. "Ini handuknya, mandi sana!" Ibu masuk kamar mengulur handuk warna hijau.


Aku duduk di meja makan masih dengan wajah ditekuk. "Mah, Adam sekolahnya daring aja terus. Apa ya namanya sekolah di rumah. Oh.. home schooling!" ucap Adam sambil menatap nasi goreng di depannya.


Mama menatap Adam sekilas. Tak ada jawaban yang meluncur dari mulutnya. Tangan Mama sibuk menggendong Radit yang belum genap berusia satu tahun. Adam mulai mengunyah nasi goreng buatan Mama. 


Terdengar Radit mulai menangis. Mama dengan sabar menenangkannya. Aku dengan malas mulai mengikat tali sepatu bersiap ke sekolah. 


"Dam, Mama masukan SPP dalam tas ya! Ingat berikan ke TU," ucap Mama kali ini dengan nada suara pilu. Adam mendongak menatap lekat wajah Mama. Tertangkap basah di sudut matanya. 


Kumenatap lekat foto keluarga yang tergantung di dinding ruang tamu. Senyum ayah terkembang lebar. Ada sesak di dada ini. Terbayang hari ayah mengajarinya berenang. Yah, Adam rindu lirih dalam hati.


Aku tertunduk makin dalam. Tak terbayang bagaimana perasaan mama menghadapi ini. Dalam kecepatan cahaya, malas sekolah yang begitu meraja kini tak lagi bertahta. 


Aku sekarang penjaga Mama. Akanku buat Mama bahagia. Kuberjalan menuju sekolah. Melewati karangan bunga belasungkawa yang mulai mengering di halaman rumah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENJADI BERBEDA

MENDAMBA

Perjalanan Membingkai Makna