Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2022

DEBAR TELAH USAI

 DEBAR TELAH USAI Mengintai apa yang terjadi di dinding kelam atas pengharapan seringaimu mematut di mulut gua sedang napas tersengal tak beraturan ini debar tanpa detak retak sesak  dia bulir air mata menganak sungai dari hulu ke hilir  mengombak kecewa duka, lara, penat yang ananta maka kata apa bisa tersemat jika langit tercekat?  sudut matamu telah cukup berbicara meritul atas apa yang menggelora sinismu di telapak pagi campah memendar sinar mentari aku mematut diri memajang ego pongah malar  hingga loka Bandung, 29 Juni 2022

REZEKI TERBAIK

 REZEKI TERBAIK Pulang sekolah selalu menjadi serbu pelukan Kaka Dede. Dan selepasnya pasti mereka meminta main ke luar rumah. Walau saya lelah saya selalu menemani mereka main di luar. Kecuali kalau hujan Kemarin langit sudah gelap kala saya pulang. Kaka Dede minta main di luar, saya bilang boleh...tapi sebentar. Kalau hujan, langsung masuk. Di luar mulai gerimis, maka saya pakaikan topi. Mereka berlarian bebas di depan rumah yang kebetulan jalan buntu. Tak lama kemudian Alhamdulillah gerimis nya berhenti. Dan mereka mulai melemparkan topi seenaknya. Saya melarangnya namun kata kata saya terhembus angin. Tak didengarkan. Dede melempar topinya ke dalam pagar rumah. Sedang Kaka melempar ke dalam pagar rumah tetangga. Saya tentu jadi kesal. Kaka lalu mendekati... merajuk minta saya ambilkan. Namun saya tidak mau karena tadi sudah saya bilang tak boleh lempar lempar topi sembarangan. Tapi tidak nurut. Ia memasang wajah memelas. Dengan mata yang mengedip ngedip. Saya tidak merespon....

MAINAN YANG TEPAT

 MAINAN YANG TEPAT Beberapa hari saya scroll aplikasi belanja dalam rangka menemukan mainan yang paling cocok untuk Kaka Dede. Hmm apa definisi tepat untuk mainan?  Saya mengawali dengan mengamati dengan cermat apa gerangan yang menarik minat mereka.  Kaka paling suka main pasir. Ia bisa duduk tenang berkutat dengan pasir. Tangannya sibuk mengisi penuh gelas plastik atau menaruhnya di mainan truk. Hmm tapi tak bisa lama-lama karena pasti ibu saya melarang katanya khawatir cacingan. Dede paling suka pakai obeng. Kalau ada baut dimainan pasti ia copot. Sayangnya itu pun tak bisa berlangsung lama karena pasti ayah saya protes: Mainan kok malah dirusak. Terdiam saya diantara persimpangan ini. Saya tahu main pasir dan mengendurkan baut itu baik untuk motorik halus anak namun jika akhirnya jadi gak enak sama kedua orang tua bagaimana? Nah, maka definisi mainan yang tepat untuk saya adalah cocok dengan minat Kaka Dede dan tidak membuat orang tua saya keberatan.  Layar gawai...

KOKOK SI HAPPY

 KOKOK SI HAPPY Tangan kakek memegang kardus dengan beberapa lubang di atasnya. Wajahnya sungguh gembira turun dari mobil. "Rizki, sini kakek bawa hadiah khusus untuk kamu" suara kakek terdengar jelas dari arah halaman.  Rizki dan Rani segera keluar menyambut kakek. "Wah, kakek bawa apa?" Mata Rani membulat penasaran dengan isinya. Kakek hanya tersenyum sambil menaruh kardus di tanah. "Koprak..koprak!" Kardus itu bergerak lalu terdengar suara kokok ayam yang berbeda dari yang biasa terdengar. "Ih, itu kayak orang ketawa!" Rani adik Rizki berkomentar. "Sebentar, kakek buka ya!" Tangan kakek menarik tali rafia agar kardus terbuka. Keluarlah seekor ayam jantan seukuran bola voli. "Ini untuk Rizki" kata kakek. Alis Rizki langsung berkerut. Dalam hatinya berkata aduh, kok kakek kasih ini. Mana keren punya binatang peliharaan ayam.  "Kek, untuk Rani mana?" Suara Rani bertanya manja. Kakek lalu menuju mobil carry dan mengam...

IMPIAN AHMAD

IMPIAN AHMAD Langit membentang biru. Rentang tali kenur menghiasi angkasa. Beberapa kepala mendongak menatap layangan menari. Bentang kenur dan gelasan beradu di langit. Ahmad diantara mereka. Matanya cermat memperhatikan gerakan menarik dan mengulur benang layangan. "Eeeeh, jangan di sini. Ganggu aja." kata Roni. Ahmad mundur 3 langkah namun tetap melihat gerakan Roni bermain layangan. Sampai rumah, Ahmad menurunkan celengan dari atas lemari. "Bu, Ahmad mau beli layangan dulu ya" sahut Ahmad. Wajahnya gembira membayangkan layangan yang sudah lama diincarnya. "Ron, lihat yang aku bawa" Ahmad memperlihatkan layangan dan kenur yang baru saja dibelinya. Roni melihat sekilas lalu menurunkan jempol ke arah bawah. Ahmad melihat sekilas. Diambil layangan dengan tangan kirinya. Matanya mencari tempat tanpa kabel listrik dan pepohonan.  Embus angin kencang di tempat itu, Ahmad segera mengambil ancang-ancang. Angin berembus terlalu kencang. Aduh, Ahmad jadi susah me...

SUATU KISAH DI MINGGU PAGI

 SUATU KISAH DI MINGGU PAGI Minggu pagi kami jalan-jalan pagi. Seperti biasa ke taman komplek. Bersiap membawa ransel berisi minum, camilan dan mainan.  Sampai di taman, anak-anak bermain dengan abi sedang saya berjalan berkeliling lapangan. Di pinggir lapangan ada pohon sukun yang rimbun dengan beberapa buah yang sudah matang. Saya pandangi sambil terbersit dalam hati, sayang ya sukun itu gak ada yang ambil. Setelah beberapa putaran mengelilingi lapangan datang bapak-bapak mengendarai motor yang berhenti di depan rumah bercat putih yang terletak tepat di depan pohon sukun. Seorang ibu berkerudung putih keluar dari dalam lalu berbincang sejenak dengan lelaki itu.  Tak lama kemudian, saya melihat ibu itu mengambil tongkat yang telah diikat gergaji. Rupanya lelaki yang datang tadi meminta sukun yang sudah ranum di depan rumah putih tadi. Kaka Dede yang sedang bermain langsung menoleh ke arah pohon sukun ingin melihat proses mengambil buah sukun dari pohonnya. Saya pun melih...

MENJADI BERBEDA

ELANG TAK BISA MENGAUM SINGA PUN TAK BISA TERBANG Waktu menggilas segalanya. Pagi hari terbangun buru-buru sarapan dengan 5 kunyahan. Pamit tanpa kecup anak dan istri. Berlari bagai setan ke tempat kerja. Dari rapat ke rapat. Semua dilakukan dengan kilat. Makan siang di restoran cepat saji. Tanpa sempat melihat keliling. Hanya detik bundar yang lekat ditatap lagi dan lagi. Semua berlari bagai chetah, lupa betapa indahnya padang savana. Betapa wangi, bunga yang baru dilewati. Hanya menjadi budak-budak waktu. Tanpa bisa mengambil hikmah dan makna dari perjalanannya. Begitulah yang saya rasakan atas keadaan kini. Semua serba ingin cepat. Semua ingin serba cepat selesai. Sang cepatlah yang pasti jadi pemenang. Memang wacana ini klasik. Pembahasan dari generasi ke generasi tentang cepat vs lambat. Hingga fabel kura-kura dan kelinci begitu melegenda. Hmm namun pernahkah kita renungkan, mengapa di fabel tersebut pemenangnya kura-kura bukan kelinci? Saya merasakan ketidakadilan ketika saya san...

SYUKUR KIRANA

 SYUKUR KIRANA  Bagaimana aku akan menulis tentang kecewa? Hm, terdiam merenung dalam benak. Mencari pengalaman tentang kecewa berujung pelajaran berharga. Ketika berkendara dengan suami pakai motor tua kami Kirana. Benak saya sering mengembara. Menyaksikan mobil mengkilap yang lalu lalang. Ketika mobil yang saya sukai melintas ada percik yang menyala di dada. Ya, Allah mobil itu keren. Bersit hati ini berkata, kapan ya punya mobil?  Perasaan itu makin menjadi-jadi kala Kirana sedang ngambek. Ia diam saja tak mau mengantar kami. Bisa karena rantai yang copot, karburator yang kena air atau hal yang biasa kami alami yaitu habis bensin. (Kirana indikator bensinya sudah tidak berfungsi jadi kalau lalai mengecek bensin pas lagi jalan suka tiba-tiba mogok karena ternyata tangki bensinnya sudah kosong 😁). Kayaknya, kalau punya mobil bagus ini gak akan terjadi deh. Perasaan ini akan meraja kalau hujan turun deras. Saya akan menggigil kedinginan dibonceng suami. Di lampu merah, s...

PILIHAN SANG JUTAWAN

  PILIHAN SANG JUTAWAN Dia terdiam. Tanpa senyum yang biasanya merona. Tanpa make up yang biasanya laput memenuhi wajah. Sendu mangu.. "Assalamualaikum" kataku. Ia terhenyak kaget dengan sapaanku. "Eh, iya.." Matanya memandang lekat wajahku. "Rani...?" Aku mengangguk dan membuka lebar tanganku. Ia hempas dalam peluk. Kami sahabat lama yang bertemu kembali. "Bagaimana kejadiannya?" Tanyaku lembut. Ia terdiam sejenak. Tangannya melipat di dada. Suaranya lirih dengan tangis tertahan.  *** Mutiara adalah pemenang pertama kontes menyanyi di televisi nasional. Wajahnya yang menawan dan suaranya yang mampu meliuk-liuk menjelajahi tangga nada membuatnya menjadi idola dalam jentikan jari. Entah berapa iklan yang ia bintangi. Lagu yang jadi hits mengiang di pusat perbelanjaan dan cafe-cafe. Tak lupa jutaan follower dan subscribers di media sosialnya. Membuat pundi-pundi kekayaannya gendut dalam waktu singkat.  Keadaan ini membuatnya lupa daratan. Gaya hidu...

MENTERI URUSAN PERAIRAN

 MENTERI URUSAN PERAIRAN Ayahku adalah seorang yang sangat concern sama air. Ya! Pokoknya kalau sesuatu yang berhubungan dengan air, ayahku yang mengatur.  Dalam hal air minum. Ayahku punya siklus sendiri mengisi wadah air. Mana yang harus diisi duluan. Ada wadah air di meja makan, wadah air di dapur, termos air panas dan botol-botol di dalam kulkas. Setiap hari ayahku selalu mendidihkan air dan mengisi semua wadah itu. Untuk air di kamar mandi, ini lebih pelik. Karena ledeng air di rumah ngocornya 2 hari sekali. Jadi, ayahku mengisi penuh semua wadah air yang ada. Jelas semua  ember dan toren diisi penuh. Namun tak hanya itu, gayung di kamar mandi sampai panci besar ibuku semua diisi penuh. Semua memiliki SOP sendiri yang ketat. SOP ini tak hanya disosialisasikan secara lisan (yang sering kami abai). Ayah juga menulis aturan perairan di dinding kamar mandi agar kami ingat. Aku dan anggota keluarga lain kadang merasa jengah dengan SOP ayahku itu. "Ingat, selama ledeng ngo...

SELALU ADA ALASAN UNTUK BERSYUKUR

 SELALU ADA ALASAN UNTUK BERSYUKUR Di sekolah sakit gigi menyerang. Sakitnya terasa seperti nyeri kontraksi mau melahirkan namun tanpa jeda. Saya yang tak biasa minum obat kali ini menyerah. Saya minum obat penahan sakit. Alhamdulilllah tak lama kemudian sakitnya menghilang. Sampai rumah, gigi mulai sakit lagi. Kaka menyambut seperti biasa. Hampir setiap pulang kaka memperlihatkan karya yang dibuat. Ia membuat gelang dari bekas gulungan selotip dan hiasan permata dari kardus. Wajahnya begitu bersemangat. "Umi, ini untuk umi!" Sambil memasukan gelang ke lengan saya. Tak biasanya saya merengut menerimanya. "Kenapa umi?" Wajah kaka heran.  "Umi lagi sakit gigi." Jawab saya sambil memegang pipi. "Ooh, umi jangan pikirin sakitnya. Tapi inget yang bikin umi bahagia." Wajahnya menatap saya. Saya tersenyum mendengar kalimat itu sambil memandang lekat gelang pemberian kaka. Dalam hati berkata sungguh dewasa anak ini mampu menasehati yang gak kepikiran ole...

SERIBU RASA TANPA NAMA

 SERIBU RASA TANPA NAMA "Pekan kemarin kita sudah belajar bagaimana menemukan arti kata dalam kamus. Baik kamus yang berbentuk buku atau pun kamus dalam bentuk daring dan aplikasi. Nah, untuk pertemuan kali ini, ibu akan memberikan latihannya." Bu Rita berdiri menjelaskan di depan kelas.  "Siapkan buku tulis dan bolpoin, ibu akan diktekan kata-kata yang harus kalian temukan artinya," Bu Rita kini berjalan ke meja guru untuk duduk di bangkunya. "Semua sudah siap?" Lantang suara Bu Rita jelas hingga sudut kelas. "Sudah bu!" Suara murid-murid kompak menjawab. "Temukan arti kata biji, busa, tepung ararut, dan tulat.  Boleh dikerjakan secara kelompok paling banyak tiga orang. Nanti yang sudah selesai silahkan ke depan untuk ibu periksa." Suasana mulai riuh mendengar tugas dari Bu Rita. Mereka mencari teman yang cocok sebagai anggota kelompok mengerjakan tugas. "Tok.. tok...," terdengar suara pintu kelas diketuk. Semua mata tertuju ...

PADUKA RAJA TELAH TIADA

  PADUKA RAJA TELAH TIADA Ia menatap ke arahku. Lalu menghentakkan tongkat kebesarannya. Melangkah angkuh tiga ayunan. Menyibak jubah kumal yang terikat di lehernya. Lalu kemudian berkata, "Duhai ratuku! Aku mencintaimu."  Aku bergidik lalu ambil jurus seribu langkah. Kadang ia mengejar sering juga hanya terdiam lalu menangis pilu. Sesenggukan di trotoar sambil mengulang-ulang "Ratuku, jangan pergi. Sungguh aku mencintaimu." "Rin, gimana Paduka hari ini mengejar lagi gak?" tanya Hani saat aku duduk di sampingnya. "Untungnya enggak. Dia cuma menangis di pinggir trotoar," jawabku sekarang sudah lebih terbiasa. Hani tahu sekali, setiap masuk sekolah adalah perjuangan sendiri buatku. Selama satu bulan ke belakang ada orang gila baru dekat sekolah yang naksir. Setiap hari ia selalu menungguku di seberang sekolah. Semua murid SMA Pelita menjulukinya Paduka Raja karena memakai mahkota mainan, tongkat kebesaran dan jubah kumal terikat di leher. Anehnya, ...

BERANI MENGAYUN LANGKAH

Gambar
  BERANI MENGAYUN LANGKAH  Waktu itu saya masih kelas 3 SD. Pergi bersama keluarga ke Parahiayang Plaza di Alun-alun Kota Bandung. Bangunan bertingkat dengan beberapa tangga berjalan. Ketika akan naik tangga berjalan, ada anak kucing yang kakinya terjepit di sela-sela undakan tangga yang memutar. Suaranya mengeong parau minta pertolongan. Merah jelas mengalir di pinggir kanan tangga berjalan dekat tempat pemegang tangan pengguna tangga berjalan. Saya memejam mata, namun tetap membayang. Saya mulai menangis. Orang tua saya membawa saya menjauhi tempat itu.  Sejak itulah saya tidak berani naik tangga berjalan. Ketika bersitatap dengan tangga berjalan jantung saya berdegup lebih kencang dan tangan saya menjadi basah karena keringat. Ketika pergi ke gedung yang bertingkat, saya memilih naik lift atau tangga. Pokoknya gak berani sama sekali naik tangga berjalan. Hingga, ketika SMA bapak saya bilang, "Teh, besok bapak antar ke Bandung Indah Plaza  ya. Kita belajar naik tan...

KUCING-KUCING-KUCING DI SEKOLAH

Gambar
 KUCING-KUCING DI SEKOLAH Saya bukan penyuka kucing. Di rumah tidak boleh pelihara kucing. Namun di sekolahlah saya mulai kenal kucing dan menyayangi mereka.  Kucing yang datang ke sekolah adalah kucing liar yang tiba-tiba saja datang. Mereka sepasang. Satu ekor betina berbulu hitam kami panggil Bianca dan satu lagi seekor jantan berwarna kuning.  Mereka sepertinya nyaman sekali berada di sini. Setiap Senin guru-guru patungan membeli makanan kucing. Tentulah mereka jadi makin betah di sini. Bianca suka tiba-tiba naik ke pangkuan lalu tertidur.  Suatu hari datang seekor kucing baru. Ia betina juga. Kucingnya sangat lucu. Kata bu Nurul dia mirip kelinci karena bulunya berwarna putih dengan gradasi cokelat. Bulunya halus, kupingnya bersih dan warna mata kemerahan.  Beberapa orang bilang, sepertinya ia kucing peliharaan yang kabur. Tapi sampai sekarang belum ada yang mencari. Cocoknya kucing ini dikasih nama apa ya?  Kucing baru ini senang tidur dimana pun. Say...

ASA YANG BUNCAH PAGI INI

Gambar
 ASA YANG BUNCAH PAGI INI Hari ini seperti biasa saya menikmati pagi dengan berjalan pagi di lapangan belakang sekolah. Sedang asyik mengayun langkah, datang beberapa siswa membawa bola basket. Melihat itu, saya langsung berpindah ke samping lapangan yaitu area terbuka yang dahulu sebelum pandemi menjadi kantin. Beberapa siswa melihat saya dengan alis berkerut. Mungkin mereka heran mengapa gurunya berjalan berputar-putar pakai seragam mengajar? Untuk siswa yang gampang akrab dengan guru, langsunglah ia bertanya. "Bu, sedang ngapain?" Ican siswa kelas 7 berjalan mengiringi langkah saya. "Ibu olahraga pagi," jawab saya Dalam hati terasa agak malu. Hm, mungkin itu terlihat aneh benak saya berbicara. Ican kemudian berkata lagi dengan ringan, "Oh, ibu latihan thawaf ya?" Saya tersenyum mendengar perkataannya. Datang satu siswa lagi namanya Satria ia berjalan mengiring saya berjalan memutar di samping Ican. Saya tertawa kini. Ya sudah saya bilang saja, "Lab...

TAK LAGI DARING

  TAK LAGI DARING Pagi ini aku manatap langit-langit kamar dengan malas. Membayangkan bagaimana hari akan berjalan. Ini akan menjadi hari membosankan seperti biasa.  Aku menghela napas kemudian meregangkan tubuh. Ingin kembali terlelap namun sayangnya harus kuurungkan. Suara Mama terdengar nyaring dari arah dapur. "Dam, bangun! Ingat sekarang sudah mulai ke sekolah. Gak boleh ketiduran lagi."  Biasanya selepas salat subuh aku bisa tidur lagi. Pukul tujuh seperti ini, aku masih rebahan di atas kasur. PJJ mulai jam 8 pagi. Aku akan memulai zoom tanpa mandi, hanya cuci muka saja.  Aku melirik jam dinding. Menatap jarumnya dengan saksama. Pukul 05.30 mataku menatap bayangnya. Aku mengucek mata lalu duduk dengan malas. "Ini handuknya, mandi sana!" Ibu masuk kamar mengulur handuk warna hijau. Aku duduk di meja makan masih dengan wajah ditekuk. "Mah, Adam sekolahnya daring aja terus. Apa ya namanya sekolah di rumah. Oh.. home schooling!" ucap Adam sambil menatap ...

Jambu Air di Pinggir Lapangan

Gambar
 JAMBU AIR DI PINGGIR LAPANGAN Pagi ini saya berjalan mengelilingi lapangan sekolah. Langit biru membentang dengan angin sepoi yang menyegarkan. Tepat di samping lapangan basket ada beberapa pohon buah yang tumbuh. Ada pohon nangka, mangga dan jambu air. Ketika mengayun langkah, kaki saya menendang buah jambu air yang sepertinya jatuh dari pohon. Dalam hati saya bergumam, sepertinya jambu air di pohon itu sudah matang sampai jatuh sendiri.  Sambil berjalan saya cermati lebih saksama pohon jambu air itu. Mata saya membelalak menangkap tiga buah jambu air menggelantung di dahan yang rendah. Sepertinya dengan berjinjit bisa dipetik. Warna jambu air itu begitu memikat. Satu buah warnanya merah muda di bagian yang dekat tangkai semakin ke bawah berwarna hijau muda. Sedangkan yang satunya lagi hampir semua bagian berwarna merah muda. Ah, terbayang betapa segarnya memakan itu setelah jalan kaki 30 menit.   Setiap saya lewat pohon jambu air itu saya tatap dengan mulut yang t...

JEJAK-JEJAK KARYA

Gambar
 KALA SENJA Seekor naga tua Telah ringkih dan renta Matanya lamur Giginya ompong Sembur nyala apinya Telah lama padam Diam di sudut rimba Menghirup duka nestapa Sesak menghimpit dada Bandung, 18 September 2019 Ini adalah puisi yang saya tulis di tahun 2019. Sebuah puisi yang mengilhami lahirnya cerpen berikut yang saya tulis di tahun 2021. Kisah Sang Naga Renta "Uhuk ... uhuk!" Kepul asap tanpa api menyembur dari mulut sang naga renta.  Naga tua duduk di sudut hutan. Sorot matanya nanar. Mengigil kedinginan. Tanpa seorang pun kawan.  Benaknya memutar kenangan kala sayapnya merentang di angkasa. Mengepak ke tempat-tempat jauh. Diperebutkan para penunggang kesatria dari seluruh penjuru istana.  Kini di usia senja, tubuhnya ringkih. Matanya rabun. Kobar api di mulutnya telah padam. Naga renta berjalan terseok menuju Raja Rimba untuk meminta perlindungan. Mata tajam elang mengamati langkah Sang Naga dari angkasa. Elang hinggap di depan paduka raja rimba mengabarkan tenta...

MENDEKAP SEPI

Gambar
MENDEKAP SEPI Karya: Laksmi Purwandita Jika hari Bawakan sepi Ku kan buat meriah Dengan balon balon Dan confetti Jika hari Bawakan sepi Ku kan sulut  Percik kembang api Meriahkan langit kelabu Jika hari  Bawakan sepi Ku kan lantunkan  Lagu lagu berirama Dan menari nari Kau selalu punya 1001 cara Tuk hilangkan sepi... Namun .. ini bukan tentang  sepi atau ramai Ini tentang hati  yang merasa kosong Ini tentang hati  Yang tak tenang Ini tentang hati Yang perlu berdamai Ini tentang hati Yang perlu mengikhlaskan Lalu... Benarkah bisa hilangkan sepi? Dekaplah sepi Sepi adalah waktu sendiri Tuk dengar  lebih jelas suara nurani.. Rumah, 6 Mei 2019 Puisi ini saya tulis tiga tahun lalu kala ikut challenge menulis puisi 15 hari di sebuah penerbit indie. Hm, ketika membaca ulang puisi ini di tahun 2022 saya mengangguk-ngangguk menyadari betapa kental introvert dalam diri. Saya seorang yang senang memeluk sepi. Merasakan embus angin. Melihat dedauan yang tertiup an...

KENIKMATAN MENANTI JODOH

Gambar
KENIKMATAN MENANTI JODOH Jodoh merupakan hal yang pelik. Semua menantinya apalagi selepas lulus kuliah. Rasanya jenjang karir selanjutnya adalah menjadi istri atau suami. Pertanyaan seragam akan menjadi frekuensi yang sering kita dengar "Kapan nikah?" Bagi yang menikah sesuai jadwal kesepakatan masyarakat yaitu usia maksimal 25 tahun rasanya hidup tak jadi beban. Namun, kala waktu merangkak. Usia bertambah 26, 27 lalu 29 hingga mencapai 30 tahun resah dan gelisah mulailah muncul. Rasanya kita jadi orang paling nelangsa di dunia. Beberapa orang terpuruk dengan keadaan itu. Namun, benarkah kita melihat hal tersebut dengan gambaran utuh? Berikut beberapa mindset yang perlu kita hayati agar penantian jodoh tetap sebuah berkah 1. Mintalah Pilihan Terbaik Pada Allah Semua memiliki kriteria sendiri dalam memilih calon pasangan hidup. Kita yang belum juga menikah di usia 30an bisa jadi salah satu penyebabnya adalah karena terlalu selektif dalam kriteria pasangan. Sebenarnya ad...

Perjalanan Membingkai Makna

Gambar
Perjalanan Membingkai Makna NLP for Everyday Life Penulis:  Teddi Prasetya Yuliawan Rita Anggorowati Beberapa buku memercikan pikiran kala membacanya. Buku ini salah satunya..dan tak hanya itu. Buku ini membuat saya diam dalam renung cukup lama.. hmm karena ada beberapa idenya yang belum kepikiran. Sungguh bermakna!  Sudah lama gak baca buku nonfiksi karena lagi gak mau baca yang bikin alis berkerut. Lagi perlu hiburan 😁 Eh, tiba-tiba dapat buku ini. Hadiah dari penulisnya. Kebetulan putranya Bu Rita murid saya. Alhamdulillah... Covernya menarik dipandang mata dengan warna kuning cerah dan putih. Jauh dari kesan berat dan "angker" buku nonfiksi. Setelah mulai membaca, ternyata isinya pun sesuai dengan covernya. Ringan dan sangat menarik. Buku ini membahas aplikasi teori NLP (Neuro Linguistik Programming) untuk sehari-hari. Bahasanya sungguh ringan namun penuh gizi. Di akhir bab, ada ayat Qur'an atau doa yang sesuai dengan pembahasan nya. Hingga membacanya makin menyerap ...

Dari Nol Menuju Ananta

Gambar
DARI NOL MENUJU ANANTA Menjadi penulis merupakan sesuatu yang timbul tenggelam di perjalanan hidupku. Menulis di sini tentu bukan menulis diari karena memang hampir setiap hari saya menulisnya he..he.. namun penulis yang beneran. Penulis yang menerbitkan buku. Penulis yang menjadi pembicara di bedah buku. Penulis yang dimintai tanda tangan di bukunya 😁 Rasanya itu seperti di awang -awang. Tak bisa kujangkau. Kemarin, saya menemukan buku diari lama. Buku diari beberapa tahun lalu, di dalamnya ada tulisan Senin, 30 April 2018 jam 16.52 "Aku perlu android karena itu akan memudahkan aku les menulis daring. Aku merasa perlu bimbingan agar tulisanku bisa dimuat atau diterbitkan." Diam aku mangu membacanya. Masya Allah, setahun kemudian April 2019 alhamdulillah impian itu mulai bergerak. Di awal Januari 2019 saya bisa beli Android. Memiliki akun Instagram dan mencari jejaring menulis. Saya ikut beberapa event menulis dari sini, @30haribercerita di bulan Januari dan 30 hari bercerit...

Di Trotoar

 DI TROTOAR Kaka Dede sudah besar. Tahun ini Kaka delapan tahun Dede tujuh tahun sudah seharusnya tidur pisah kamar. Mereka juga bilang mau, namun masalahnya memang gak ada kamar lagi he..he... Kami satu kasur tidur berempat. Kadang susah juga tidur nyaman karena kaki mereka sudah panjang dan sering mereka tidurnya motah (berpindah tempat ketika tidur). Dalam benak sering ngelamun semoga bisa punya kamar sendiri. Rumah bisa ditingkat dua. Embus harap bertiup kencang. Hingga... Suatu pagi ketika saya berangkat sekolah. Di pinggir trotoar ada gerobak terparkir. Saya gak ngeh awalnya, namun lalu saya perhatikan lebih jelas. Ada seorang ibu yang sedang memeluk anaknya yang masih balita.  Mereka menggelar kardus dan beberapa helai kain tertidur di trotoar. Gerobak di samping mereka tempat bapaknya tidur.  Dengan kecepatan cahaya palu memecahkan harapan saya. Posisi tidur ibu dan anaknya itu sama dengan ketika saya ngelonin Kaka Dede tidur. Basah hati ini, terdiam sudah seharus...

Mengapa Menulis

Gambar
MENGAPA MENULIS? Pertanyaan "Mengapa saya menulis" membuat saya berpikir keras. Sesuatu yang saya kerjakan dengan senang hati pasti memiliki akar yang kuat. Namun mengapanya belum keluar sebagai pikiran sadar. Setelah merenung beberapa lama lampu ide berderang menyala. Sebenarnya ada dua kategori tulisan yang saya tulis. Pertama adalah tulisan pribadi yang saya gores di buku harian. Kedua adalah tulisan yang saya publish untuk umum di Instagram, blog atau buku. Kedua kategori tersebut memiliki why yang berlainan. Untuk tulisan pribadi saya menelusuri kenang di masa lalu, apa gerangan yang menjadi pencetus saya mulai menulis buku harian.  Awal mula perkenalan dengan buku harian adalah kelas 8 SMP. Waktu itu ada teman sekelas yang datang ke rumah ketika magrib. Saya mendengar ketuk pintunya. Saya singkap gordeng. Ketika melihat sosoknya langsung gordengnya kututup. Saya langsung berlari ke kamar. Setelahnya tak ada lagi suara ketukan. Waktu itu, bagi saya itu merupakan sebuah r...

REFRAMING

 REFRAMING Ibuku adalah orang yang sangat apik sama barang. Hmm Yap sangat menjaga barang yang kita punya. Jadi, setiap barang yang kita punya pasti diberi nama. Kalau Kaka Dede baru beli mainan, pasti langsung ditulis pake spidol permanen nama mereka. Suatu hari saya dibelikan suami helm yang saya idamkan sejak lama. Helm model retro gitu. Suami belikan sepulang kerja. Esok paginya ikut  pelatihan hotel di Amarossa maka saya pake langsunglah helm baru itu. Pas saya pake... Tetew.. helm baru saya, sudah bertengger nama "MILA" di bagian belakang. Hati saya geremet.. aduh helm baru sudah dicorat-coret. Aduh malu atuh. Kebayang gak kalau lagi lampu merah, otomatis orang di belakang motor tahu nama saya.. Sampai tempat pelatihan, saya titipkan helm ke front office. Karena bukan tempat khusus penitipan barang saya tak dapat kartu nomer  seperti jika titip barang di supermarket. Larutlah saya dengan pelatihan.. setelah selesai, saya kembali ke front office untuk mengambil helm....

NANA DAN AKU

NANA DAN AKU Menulis merupakan sesuatu yang sudah mendarah daging dalam diriku. Terutama menulis buku harian. Walau di zaman milenial ini terdengar jadul. Namun bagiku menulis diary merupakan sesuatu yang tak akan lekang oleh waktu. Sesuatu yang akan selalu manjadi karib untuk diri. Walau telah mengenal Wattpad, Blog atau Instagram, itu tetap tak tergantikan.  Sebuah rasa puas dan legalah yang tak bisa tertandingi oleh format menulis apapun. Dengan menulis diary saya bebas menulis apapun. Sering diantara baris-baris kalimatnya hujan turun dari mataku. Ketika merasa bahagia bisa sampai 10 lembar menulis tanpa ada perasaan lengan pegal. Entah... ada perasaan bunga-bunga indah taman surga di sana. Sangat akrab dan lekat dengan pena dan buku. Awal mula perkenalanku dengan diari adalah kelas 8 SMP. Waktu itu ada teman sekelasku yang datang ke rumah ketika magrib. Aku mendengar ketuk pintunya. Aku singkap gordeng. Ketika melihat sosoknya langsung gordengnya kututup. Aku langsung berlari ...

MENDAMBA

 MENDAMBA Setiap ada pertemuan keluarga atau di lingkungan RT/RW. Kerap beberapa orang bertanya tentang berapa anak yang sudah dimiliki dan apa jenis kelaminnya. Ketika saya jawab sudah punya dua orang putra. Jawaban mayoritas orang akan bilang, "Nambah satu lagi. Anak perempuan. Biar lengkap sepasang. Sok geura mumpung masih muda," Seperti sebuah pola yang sudah tertebak. Biasanya saya hanya tersenyum dan mengamini. Dalam hati memang ada bersit itu, namun hanya bayang di angan saja. Saya dan suami memang tidak berencana menambah momongan. Kalau rindu dengan anak perempuan, kami akan menjemput Neng Ira untuk menginap di rumah. Ia anak adik saya yang dewasa untuk ukurannya yang masih kelas satu SD. Ia anak yang periang dan tomboi. Mungkin karena kakaknya semua laki-laki. Cita-citanya ingin menjadi koboi 🤠 Hobinya manjat pohon dan main sepeda. Neng Ira ramah dan mandiri. Kalau menginap di rumah tak pernah minta dilayani. Semua keperluan pribadi bisa ia lakukan sendiri seperti ...

TIGA PULUH MENIT BERJALAN

TIGA PULUH MENIT BERJALAN Waktu dulu saya pernah ikut seminar tentang diabetes. Katanya, kalau rutin berjalan kaki 30 menit setiap hari akan mencegah diabetes dan baik untuk kesehatan. Kalimat itu terngiang lama di benak namun tak jua rutin saya melakukannya. Waktu beranjak, tubuh menua. Sampailah saya di usia kepala empat. Terasa tubuh sudah tak seperti muda. Selepas mengajar, lemas mendera. Kalimat di seminar itu berteriak kencang di telinga. Terdiam menyadari, bahwa fokus pada kesehatan adalah investasi. Maka, diantara deru aktivitas sehari-hari saya sempatkan untuk berjalan kaki setiap hari. Saya melakukan itu di sekolah. Kadang mengelilingi area literasi dengan rumput sintetis atau di lapangan belakang. Tiga puluh menit, apakah itu waktu yang sebentar apakah lama? Berkeliling mengayun langkah dengan pola sama ternyata membosankan juga ya? 😁 Perlu kekuatan untuk bertahan mengayun hingga 30 menit berlalu. Entah berapa kali saya melihat jam tangan. Lamanya 30 menit itu ternyata. Ter...

Kita Hanya Perlu Terus Menulis

 KITA HANYA PERLU TERUS MENULIS Masuk ke komunitas menulis di dunia maya  membuat saya menyadari suatu hal yang jleb.  Awalnya, saya mengira tulisan saya itu termasuk bagus 🤭 Tapi ketika kenyataannya tulisan saya tidak pernah direpost. Saya jadi sadar, ternyata saya kepedean he..he.. Hanya karena sudah menulis diari selama belasan tahun. Saya kira, dengan jam terbang setinggi itu otomatis tulisan saya langsung jadi bagus dan disukai banyak orang. Saya jadi tahu tulisan saya itu hanya sebuah kerlip bintang di angkasa. Bukan sinar bulan apalagi terangnya matahari. Perlahan tapi pasti semangat menulis saya meredup. Alhamdulillah, keadaan itu nggak berlangsung lama. Dini hari ini, saya menyadari sesuatu yang membuat saya kembali benderang 😁 1. Di Padang bunga literasi ini.. kau akan temukan bertebaran banyak bunga. Dari bunga anggrek yang sangat indah dan mahal sampai bunga rumput yang akan kau injak saja ketika lewat. Tumbuhlah suburlah hey kau bunga bunga.. cantiklah kau....