SUATU KISAH DI MINGGU PAGI
SUATU KISAH DI MINGGU PAGI
Minggu pagi kami jalan-jalan pagi. Seperti biasa ke taman komplek. Bersiap membawa ransel berisi minum, camilan dan mainan.
Sampai di taman, anak-anak bermain dengan abi sedang saya berjalan berkeliling lapangan. Di pinggir lapangan ada pohon sukun yang rimbun dengan beberapa buah yang sudah matang. Saya pandangi sambil terbersit dalam hati, sayang ya sukun itu gak ada yang ambil.
Setelah beberapa putaran mengelilingi lapangan datang bapak-bapak mengendarai motor yang berhenti di depan rumah bercat putih yang terletak tepat di depan pohon sukun. Seorang ibu berkerudung putih keluar dari dalam lalu berbincang sejenak dengan lelaki itu.
Tak lama kemudian, saya melihat ibu itu mengambil tongkat yang telah diikat gergaji. Rupanya lelaki yang datang tadi meminta sukun yang sudah ranum di depan rumah putih tadi.
Kaka Dede yang sedang bermain langsung menoleh ke arah pohon sukun ingin melihat proses mengambil buah sukun dari pohonnya. Saya pun melihat dari pinggir lapangan. Beberapa buah sukun jatuh ke tanah. Kami hanya menyaksikan.
Namun kemudian, Ibu berkerudung putih berteriak dari balik pagar. "Bu, mau?" Ia lalu meminta bapak-bapak tadi memilih satu yang matang di atas pohon lalu memotongnya dengan gergaji. Berdebam sukun ke tanah. Wajah saya berseri menyaksikannya.
Ibu berkerudung putih kemudian mengulur kantong kresek untuk membawa pulang buah sukun. Dada ini penuh haru menerimanya. Alhamdulilllah 🤲 terima kasih ya Allah.
Ketika akan pulang ke rumah, anak-anak mendengar suara klontrang-klontrang dari arah sawah. Tali rafia merentang di sana mengikat kaleng bekas dan serpihan panjang kain berwarna biru. Mata mereka berbinar penasaran ingin tahu dari mana suara itu berasal.
Di pinggir sawah, seorang ibu berbaju hitam duduk di atas kotak kayu menarik rentang tali itu. Klontrang-klontrang terdengar jelas diikuti kepak burung pipit mengangkasa. Segera anak-anak berlari ke sana ingin ikutan menarik tali rafia.
Alhamdulilllah 🤲 ibunya ramah. Ia dengan senang hati menjawab pertanyaan anak-anak sambil menjelaskan bagaimana cara menarik tali rafia agar suaranya nyaring. Anak-anak suka banget menarik rafia sampai gak mau pulang dulu.
Ibu berbaju hitam itu pun mengajak anak-anak ke tengah sawah. Melihat bagaimana ia mengibas bendera plastik agar burung-burung pergi. Ketika anak-anak ke sana, giliran saya mencoba menarik tali rafia. Seru ternyata (awalnya) lama-lama mah pegal 😁
Di penghujung pertemuan, saya bercerita pada anak-anak bagaimana perjalanan nasi yang kita makan itu begitu panjang. Begitu banyak keringat dan lelah hingga bisa kita kunyah. Mata Kaka berbinar mendengarkan itu .
Semoga pengalaman ini membuat kami lebih menghargai setiap butir nasi yang Allah perjalankan ke dalam mulut. Aamiin 🤲
Komentar
Posting Komentar