TERNYATA
TERNYATA Saya mau cerita masih tentang pengalaman kemarin ke dokter gigi. Saya sudah siap-siap pergi ke klinik. Tapi pas mau berangkat ada aja halangan. Ibu saya mau beli sayur dulu jadi gak ada yang jagain Kaka Dede. Suami mau unggah dulu dokumen. Jadi saya berangkat terlambat. Pas datang pendaftaran dokter gigi sudah tutup. Saya mengelus dada. Ada mangkel jelas saya rasakan. Mulailah saya memutar ulang peristiwa alasan kenapa saya terlambat. Saya mulai menyalahkan ini itu. Jelas saya kesal. Masa, tambalan gigi sementara mau diperpanjang satu minggu lagi. Untunglah petugas bilang. Nanti ada pendaftaran lagi ke dokter gigi jam 1 siang tapi dokternya berbeda. Ah, saya menghela napas lega. Ternyata tak perlu menangguhkan selama itu untuk ke dokter gigi. Ketika pulang hawa kesal masih saya rasakan. Pukul satu saya kembali ke klinik gigi. Ketika di ruang tunggu terdengar pembicaraan antar pasien tentang dokter yang praktik siang adalah dokter senior. Dalam hati saya berkata, mun...