Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2021

TERNYATA

 TERNYATA Saya mau cerita masih tentang pengalaman kemarin ke dokter gigi. Saya sudah siap-siap pergi ke klinik. Tapi pas mau berangkat ada aja halangan. Ibu saya mau beli sayur dulu jadi gak ada yang jagain Kaka Dede. Suami mau unggah dulu dokumen. Jadi saya berangkat terlambat. Pas datang pendaftaran dokter gigi sudah tutup. Saya mengelus dada. Ada mangkel jelas saya rasakan. Mulailah saya memutar ulang peristiwa alasan kenapa saya terlambat. Saya mulai menyalahkan ini itu. Jelas saya kesal. Masa, tambalan gigi sementara mau diperpanjang satu minggu lagi. Untunglah petugas bilang. Nanti ada pendaftaran lagi ke dokter gigi jam 1 siang tapi dokternya berbeda. Ah, saya menghela napas lega. Ternyata tak perlu menangguhkan selama itu untuk ke dokter gigi. Ketika pulang hawa kesal masih saya rasakan.  Pukul satu saya kembali ke klinik gigi. Ketika di ruang tunggu terdengar pembicaraan antar pasien tentang dokter yang praktik siang adalah dokter senior. Dalam hati saya berkata, mun...

MENGAJAR DENGAN JARAK

 MENGAJAR DENGAN JARAK Hari ini mulai mengajar di kelas. Setelah kurang lebih 2 tahun belajar daring. Hmm apa yang dirasakan?  Pertama seneng banget denger lagi murid-murid mengucap Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh bersama-sama. Baru nyadar betapa itu ngangenin. Hari ini saya bawa popmie ke dalam kelas karena di kemasannya terdapat contoh teks prosedur. Senang bisa bertanya langsung sama murid lalu bisa mendefinisikan pengertian teks dengan bahasa sendiri. Mengecek langsung mereka paham atau tidak. Seru! Jiwa guru yang asalnya underground jadi memercik di udara he..he.. Hmm namun ternyata kalau ngajar PPKM itu suara jadi kurang jelas. Dasarnya memang suara saya gak menggelegar jadi kalau ditutup masker suaranya jadi makin lembut aja he..he..  Kemudian yang mengganggu adalah selama menjelaskan maskernya sering kesedot ke mulut. Jadi setiap membuka mulut itu mengganggu sekali.  Pas memberikan latihan menulis teks prosedur di buku tulis. Saya bingung memeriksa...

Resensi Kunci Surga 2 (Hal 26 - 48)

Selasa, 14 September 2021 Kunci Surga 2 Halaman 26 - 48 Sub tema Tidak Ada Persamaan antara Orang Baik dan Orang Jahat Hal 26 Allah mengingkari orang-orang yang menyamakan antara dua hal yang berlawanan, seperti menyamakan antara orang baik dan orang jahat. • Semua kesenangan berawal dari kesulitan. Hal 35 Seseorang tidak akan dapat melewati kesenangan kecuali setelah melalui jembatan kesusahan. Para ahli ilmu menyepakati bahwa kesenangan tidak akan dicapai dengan kesenangan. Tidak akan ada kebahagiaan bagi orang yang tidak mempunyai cita-cita Tidak ada kenikmatan bagi orang yang tidak memiliki sabar Tidak ada kesenangan bagi orang yang tidak mau sengsara Tidak akan ada istirahat bagi orang yang tidak mau letih Jika seseorang mau bersusah-susah sebentar, ia akan mendapat istirahat yang banyak, dan Jika mau menanggung kesusahan sesaat, ia akan mendapat kebahagiaan abadi. Penduduk surga abadi adalah orang-orang yang mau sabar sesaat. Hal 36 Yahya bin Kastir berkata, "Ilmu tidak akan...

RESENSI KUNCI SURGA 2 (HARI 1)

 Senin, 13 September 2021 Kunci Surga 2 Hal 1- 24  Bagian awal buku ini diawali tentang peran syariat dan hikmahnya.  • Di dalamnya dipaparkan betapa syariat itu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya.  Hal 3 Pada dasarnya dalam diri manusia sudah diciptakan Allah SWT suatu fitrah untuk mengusahakan hal-hal yang bermanfaat bagi manusia dan menjauhi hal-hal yang berbahaya bagi mereka. Hal 24 Larangan Allah merupakan penjagaan dan perlindungan bagi mereka karena kesehatan mereka tidak sempurna dan terlindungi.  • Syariat selalu seiring dengan akal sehat. Hal 17 Allah menjelaskan bahwa kemampuan akal menilai bahwa menyembah Pencipta itu baik dan menyembah selain-Nya itu buruk merupakan dalil paling besar tentang hakikat ini. • Syariat merupakan kebutuhan mendasar untuk manusia. Hal 3 Kebutuhan manusia terhadap syariat melebihi kebutuhan mereka terhadap kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya. • Syariat berhubungan dengan apa yang Allah ridhai dan yang Allah mur...

KEHIDUPAN KEDUA

 KEHIDUPAN KEDUA Karya: Hilmi Lasmiyati Miladiana Terlalu singkat waktu berlalu. Kala embus bukanlah angin. Gigil bukan karena dingin dan luka tak membuat kelu Terlalu singkat waktu berlalu. Semua detik mendekat menjelajah kenangan namun ia mengunci rapat Terlalu singkat waktu berlalu. Kala itu kau disampingku namun tak benar-benar ada. Aku nanar dengan hening meraja Terlalu singkat waktu berlalu. Kumengeja kenangan. Dari abjad menjadi kata. Menunggu kalimat menjadi cerita Al Biruni, 18 Juli 2019

DEDE

Setiap bangun tidur Dede selalu bertanya "Umi hari ini ke sekolah?" Saya lalu memeluknya. Selalu ada bersit tidak tega di hati setiap berangkat sekolah sebenarnya. "Umi jawab, tapi Dede gak boleh rewel" saya menjawab. Dede lalu langsung bilang  "Tapi, belikan mainan seribu". Saya tersenyum lalu mengangguk. Itu ritual setiap hari pergi ke sekolah. Sering saya berpikir apakah hal ini baik dalam pola pengasuhan? Terdiam, bagaimana kalau Dede jadi pamrih? Namun satu hari saya dapat pencerahan. Setiap kami beli mainan seribu, Dede menggandeng tangan saya. Kami berjalan beriringan, ia melihat ke arah saya dengan rona gembira. Seperti melepas rindu ibunya. Seperti mempersiapkan dirinya untuk berpisah. Ketika mainan sudah di tangan, ia menghibur dirinya agar tidak sedih. Semacam pengalih perhatian yang ia ciptakan ketika saya pergi sekolah. Aah.., kok saya jadi sedih 😩 Sekolah, 13 Januari 2020

HARAP

HARAP                                    Karya: Laksmi Purwandita kelebat rindu di balik pintu mata nyalang bukan kepalang kau mangu di situ dan melupakan waktu sedang aku menghitung detik dalam genggaman Bandung, 8 September 2021

RIPIK HIJAU

 RIPIK HIJAU  Setiap saya pergi sekolah Dede selalu minta dibelikan rumput laut. Dia senang banget sama makanan itu. Kebetulan warung sebelah rumah memang jual itu. Penjualannya sudah hapal benar setiap saya berangkat sekolah pasti Dede beli itu. RIPIK HIJAU Suatu hari saya lupa helm pas sudah di atas motor. Terpaksa turun dan masuk ke rumah. Dede sedang asyik mengunyah rumput laut. Terburu-buru saya mengambil helm di ruang TV.  Dede melihat saya girang karena masuk lagi ke rumah. Ia memeluk saya lalu menyodorkan lembar rumput laut. "Ini umi, umi boleh segigit. Biar umi ingat Dede." katanya. Saya sebenarnya tidak suka rumput laut karena rasanya amis tapi saya gigit sedikit di ujungnya. Mata Dede gemintang melihat saya menerima tawarannya.  Terdiam saya melangkah menuju pagar. Merasa begitu istimewa karena Dede membagi makanan favoritnya untuk saya. Terimakasih Dede ❤️❤️ Bandung, 4 September 2021