SERIBU RASA TANPA NAMA

 SERIBU RASA TANPA NAMA


"Pekan kemarin kita sudah belajar bagaimana menemukan arti kata dalam kamus. Baik kamus yang berbentuk buku atau pun kamus dalam bentuk daring dan aplikasi. Nah, untuk pertemuan kali ini, ibu akan memberikan latihannya." Bu Rita berdiri menjelaskan di depan kelas. 


"Siapkan buku tulis dan bolpoin, ibu akan diktekan kata-kata yang harus kalian temukan artinya," Bu Rita kini berjalan ke meja guru untuk duduk di bangkunya.


"Semua sudah siap?" Lantang suara Bu Rita jelas hingga sudut kelas. "Sudah bu!" Suara murid-murid kompak menjawab. "Temukan arti kata biji, busa, tepung ararut, dan tulat. Boleh dikerjakan secara kelompok paling banyak tiga orang. Nanti yang sudah selesai silahkan ke depan untuk ibu periksa."


Suasana mulai riuh mendengar tugas dari Bu Rita. Mereka mencari teman yang cocok sebagai anggota kelompok mengerjakan tugas. "Tok.. tok...," terdengar suara pintu kelas diketuk. Semua mata tertuju pada sumber suara. "Bu Rita maaf, sebentar." Tangan Bu Eli memberi isyarat agar Bu Rita keluar kelas. 


Raut wajah Bu Rita penuh tanya menghampiri Bu Eli. "Ini ada kabar." Bu Eli terdiam menarik napas dalam. Waktu seperti berhenti. Tangan bu Eli menggenggam jemari Bu Rita. "Sepertinya, ibu harus segera pulang kampung. Biar saya gantikan mengajarnya," lirih Bu Eli dengan raut wajah berawan.


Bu Rita segera kembali ke dalam kelas untuk  pamit dan membawa barang-barang pribadinya. Ribuan perasaan menyerbu tanpa nama yang tepat. Sejumput resah, gelisah, khawatir, sedih dan penasaran bercampur baur.


Ketika Bu Rita masuk ke ruangan guru, sorot mata yang sama seperti Bu Eli mengarah padanya. Bu Rita segera menunduk agar lesat pandang itu tak lama-lama melukai hatinya. Ibu kepala sekolah mendekatinya, "Ambillah cuti yang diperlukan. Tak perlu khawatir tentang murid-murid. Bu Eli sudah saya tugaskan mengganti mengajar,"


Di halaman sekolah suaminya sudah menunggu dalam mobil. Bu Rita membuka pintu dengan lemas. Raut wajah sang suami kaku menatap lekat ke depan. "Abah dan Ambu sudah menunggu. Kita harus segera," ucapnya lirih.


"Mas, sebenarnya ada apa?" Bu Rita bertanya tengan suara bergetar menahan tangis. Sang suami hanya menengokan kepalanya sejenak dengan sorot mata sendu.


Perjalanan pulang kampung ini sungguh terasa berat untuk Bu Rita. Dalam hati hanya berdawam zikir agar hatinya merasa tenang. 


Dari ujung jalan rumah Abah dan Ambu terlihat beberapa karangan bunga. Bu Rita menahan napasnya sambil membelalakan mata. "Mas!" Tangan Bu Rita langsung dingin. Suaminya menatap lembut wajah istrinya sambil melukis senyum tipis. 


Mobil mereka melewati deretan karangan bunga. Mata Bu Rita menangkap namanya tertera di sana. Eh, karangan bunga itu tertulis namanya batinnya berbisik.  "Selamat sayang ..." Ucap suaminya kala mobil berhenti di depan rumah.


"Neng Rita selamat!" Suara Ambu yang khas menerobos gendang telinganya. "Kita semua akan berangkat umroh!" Alis Bu Rita berkerut bingung tak mengerti keadaan yang ada dihadapannya. "Ujang muridmu,  sekarang sudah jadi pengusaha sukses. Dia datang ke sini mencari Neng ..." suara Ambu gemetar mengawali kisah ajaib yang terjadi dua minggu yang lalu.


Bandung, 19 Juni 2022


Komentar

  1. Huaaa, meski endingnya hepi, aku malah berkaca-kaca. Baik banget muridnya. Twist ending banget Mbak, keren...

    BalasHapus
  2. Ondeh gara² kata twist aku ke mari. Keren tulisanya, brsa roh mo naik da kluar dr badan eh tau² haru gettoooo. Lanjutkaaaan yaaaa baperin akuuuh

    BalasHapus
  3. keren mbak tulisannya, twist endingnya dapet ya...wah....keren...keren...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENJADI BERBEDA

MENDAMBA

Perjalanan Membingkai Makna