SARAH DAN DONI

 


SARAH DAN DONI


"Sar, maafkan saya ya..." Doni mengulurkan tangannya. Sarah hanya diam menunduk masih terisak sakit hati.


"Saya janji gak akan mengejek nama ayahmu lagi." Doni meyakinkan Sarah.


Sarah mengangguk terpaksa karena sorot mata Bu guru dan teman-teman memberi tatapan harap itu yang harus ia lakukan.


"Doni, ingat jangan diulangi lagi!" Bu Arini dengan tegas memperingati Doni.


Lima detik kemudian kerumunan bubar. Teman-temannya kembali bermain dan pergi ke kantin. Bu Arini meninggalkan ruang kelas menuju ruang guru.


Sedang Sarah duduk di bangkunya masih menunduk. Jelas anggukan kepalanya tadi bukan berasal dari hatinya. 


***


"Teh, ini titip fotokopi kartu keluarga. Berikan pada bu guru." Kata mamah waktu Sarah berangkat sekolah.


"Iya, Mah!" jawab Sarah sambil memasukan lembar itu ke dalam tasnya. Berjalan menuju sekolah seperti biasa.


Ketika sampai ruang kelas ternyata teman-temannya belum ada yang datang. Ia duduk di bangkunya lalu teringat pesan mama untuk memberikan fotokopi kartu keluarga pada bu guru.


Sarah merogoh tasnya. Tangannya mencari-cari hingga sudut terbawah namun tak ada. Semua isinya dikeluarkan. Nihil tak ada juga. 


Sarah termenung. Alisnya berkerut dengan tangan menyentuh dagu. Benaknya berputar mengingat kembali perjalanan dari rumah ke sekolah. Rasanya ia tak mampir ke mana-mana. Hmm apa jatuh di jalan?


Ketika Sarah memasukkan kembali semua barang ke dalam tasnya. Datang Doni rautnya cengar-cengir jahil.


"Pasti cari ini ya?" tangannya memegang lembar fotokopi kartu keluarga yang dicarinya.


"Eh, kok ada di kamu?" Sarah heran.


Tangan Sarah mengulur mau mengambil kertas itu. Namun tangan Doni mempermainkan kertasnya ke segala penjuru.


"Doni, cepat kasih ke saya. Gak lucu tau!" suara Sarah setengah berteriak.


Protes Sarah hanya angin lalu. Doni tetap mempermainkan kertas itu dengan senyum mencibir. 


Sarah berdiri lalu melompat mencoba menangkap kertas yang dipermainkan Doni. Senyum Doni malah lebih mengembang bahkan mulai terdengar kikik tawa mengejek.


"Ayo kalau bisa ambil Atang Surantang!" Wajahnya makin menyebalkan.


Mendengar nama ayahnya diolok-olok. Sarah langsung diam. Tangannya bersilang di atas meja lalu mulai menangis.


"Eh, Si Atang malah nangis!" Doni bukannya merasa kasian malah mengulang lagi ejekannya.


Terdengar suara langkah kaki teman-teman menuju ruang kelas. 


"Udah ni, kertasnya!" Doni menaruh fotokopi kartu keluarga di samping Sarah. 


Sarah mengangkat kepalanya. Matanya masih basah. Tangannya langsung menaruh fotokopi itu ke dalam tas.


"Eh, kenapa Sar?" Nanda teman sebangku Sarah heran melihat pagi-pagi sahabatnya itu menangis. 


***


Ada batu di hati Sarah. Doni tak tahu, apa yang ia lakukan menoreh luka yang dalam. Sungguh tega Doni mengejek ayahnya. Ayah yang sangat dirindukannya karena ayahnya baru meninggal.


"Sar, sini saya bisikin!" Tangan Nanda memberi isyarat untuk mendekat.


"Nama ayah Doni itu Wibowo!" Raut wajah Nanda jahil sambil matanya melirik ke arah Doni.


Sarah tersenyum. Otaknya memutar rencana serangan balik apa yang akan ia lancarkan kepada Doni.


Namun ketika benaknya menyusun rencana membalas Doni. Mata Sarah melihat tasbih kecil milik ayah yang selalu ia pakai di tangannya sebagai gelang.


Matanya tiba-tiba basah. Air mata berderai di pipinya. Ayahnya sangat ia cintai menggetarkan dadanya. Ya Allah semoga Ayah tenang di surga-Mu.


Adegan dua hari sebelum ayahnya meninggal tiba-tiba nyata di benaknya. Seperti menonton layar bioskop.


Waktu itu ia bertengkar dengan adiknya. Lalu mereka saling ejek. Ayah memanggil mereka berdua. Kata-kata begitu jernih mengalir ke hatinya. "Teh, ciri seorang muslim itu tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain."


Tiba-tiba saja dalam kecepatan cahaya kesal di hati Sarah lesap tak bersisa. Dalam hati ia bertekad tak mau jadi seburuk Doni. Jika ia sama-sama mengejek ayahnya Doni. Jelas, berarti ia sama buruknya dengan Doni.


Doni melintas di depannya. Sorot matanya tetap tanpa bersalah. Perlahan ia mendekati Sarah. Kali ini ia jauh lebih tenang. Teringat kisah dari Nanda, Doni seperti itu karena kedua orang tuanya super sibuk. Jadi ia selalu mencari perhatian.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENJADI BERBEDA

MENDAMBA

Perjalanan Membingkai Makna