KESEBELASAN JUARA
KESEBELASAN JAWARA
"Triiit..." Pertandingan selesai. Margo merunduk. Rautnya kesal. Matanya memejam dengan nafas naik turun. Tangannya mengepal kencang. Ini kekalahan ketiga kalinya. Membayang di imaji benak kemarahan Tuan Ridwan pelatihnya.
Margo berjalan melalui lorong stadion. Riuh keramaian pertandingan telah selesai. Margo memilih menenangkan diri. Selain itu, ia menghindari wartawan yang pasti mengerubunginya.
Derap langkahnya bergaung ... Margo melihat sebuah pintu terbuka. Sebelumnya ia tak tahu ada ruangan ini. Ada sinar aneh memancar. Sebuah kekuatan besar menarik langkahnya ke dalam. Sebuah ruang kosong di sana. Berpendar tali sepatu di lantai. Berkilau tulisan scarab di ujungnya.
Ketika Margo menyentuhnya. Ada kekuatan yang mengalir di sekujur tubuh. Dari ujung kepala hingga kaki.
Margo memejam mata. Film hitam putih memutar di benaknya. Adegan masa kecil. Ia bermain bola bersama ayahnya. Betapa ia bahagia. Bermain di lapangan belakang rumah. Mereka berkejaran berebut bola. Berguling di rerumputan. Sampai ... Seekor ular merah entah dari mana hendak mematuknya. Dengan sigap, ayahnya memasang badan. Ayahnya terkena gigitan bisa.
Margo kecil berlari sekencang mungkin menuju rumah. Air matanya tumpah ruah. Margo merasa bumi menindih dadanya. Ayahnya segera dilarikan ke rumah sakit namun tidak tertolong. Kabar duka itu ke menerobos telinga. Ayahnya telah tiada.
Matanya membuka, sakit tepat di dadanya. Setiap ia bermain bola, wajah ayahnya selalu membayang. Ia akan jadi pemain bola terhebat seperti ayah.
Tali sepatu itu erat digenggam Margo. Entah mengapa, rindu akan ayahnya menjadi pudar setelah ada tali sepatu itu.
***
Raut Margo berbinar. Tuan Ridwan masih memberi kesempatan untuknya bertanding. Margo akan buktikan ia masih layak masuk dalam kesebelasan JAWARA.
Margo mengikat tali sepatunya lalu bersiap di pinggir lapangan. Dalam hati Margo mendawamkan timnya pasti juara. Tali sepatunya berkilau memancarkan aura hitam.
Sorak sorai penonton memenuhi stadion. Peluit menjerit memulai pertandingan.
Suasana mencekam tiba-tiba memenuhi udara. Tanpa kasatmata, makhluk setinggi 50 cm matanya merah darah, seluruh giginya runcing berlendir dan berlarian di lapangan. Ada yang menggelayuti tangan, kaki, punggung hingga menutup erat pengelihatan lawan.
Baru sepuluh menit pertandingan dimulai. Tim lawan terlihat kelelahan tak bisa mengimbangi kecepatan kesebelasan JAWARA. Dua orang pemain lawan terlihat pucat ngos-ngosan. Satu pemain ambruk. Tubuhnya menggelepar di hijau rumput lapang.
Suara peluit dibunyikan. Tim kesehatan segera membawa tandu membawa pemain tersebut ke luar lapangan. Satu pemain cadangan masuk menggantikan pemain yang sakit tadi.
Pertandingan kembali dilanjutkan. Kaki Margo begitu lincah membawa bola. Sepertinya tak ada satu pun yang menghalanginya menuju mulut gawang. Di menit ke 18 Margo menyumbangkan gol pertama bagi kesebelasan JAWARA.
Tuan Ridwan melompat-lompat kegirangan di pinggir lapang. Margo menatap ke arahnya lalu Tuan Ridwan mengacungkan jempolnya dengan sorot bangga.
Peluit panjang mengakhiri pertandingan. Suara riuh kemenangan JAWARA memenuhi stadion. Seluruh tim, pulang berdendang menyanyikan lagu kemenangan.
Dalam bus, rona bahagia masih terang benderang. Ini kemenangan pertama setelah 3 kali kekalahan JAWARA. Margo menatap jendela bus. Terpantul bayang wajah ayahnya tersenyum namun mengapa perlahan ia terlihat sedih dan matanya mulai menangis. Sungai merah mengalir di pipinya. Segera Margo menggelengkan kepala dan menepis apa yang baru saja dilihatnya.
"Ciiiit...brak..." Hanya itu suara terakhir yang ia dengar. Gelap, Margo tak ingat apapun.
***
Sayup terdengar suara berita di TV. "Pemirsa, kecelakaan yang dialami tim JAWARA menewaskan hampir seluruh penumpang. Hanya satu pemain yang selamat yaitu Margo. Sekarang Margo dirawat di Rumah Sakit Pusat Capol'em."
"Syukurlah, Margo ... Margo ini ibu." Ibu berbisik di telinganya. Tubuhnya terasa remuk. Selang infus dan oksigen serta perban terpasang di tubuhnya. "Ini dimana?" Suara Margo lemah.
Ibu menaruh telunjuk di atas bibirnya. "Sudah, istirahat dulu sayang." Margo lalu kembali tidur.
Dua utas tali sepatu tiba-tiba tergeletak di lantai. Pendarnya memberi suasana mencekam. Tulisan scarab menyembul di ujung tali itu.
Makhluk tak kasatmata bermata merah darah kembali hadir di ruang itu. Sorot matanya begitu menakutkan. Kali ini duduk di samping ibu. Mulutnya terbuka lebar memperlihatkan taring tajam dan merentang tali-tali lendirnya. Mengendus-endus begitu dekat dengan wajah ibu.
Mata Margo memejam lelap dalam tidurnya. Dalam mimpi ia bertemu ayah yang telah meninggal. Sorot matanya begitu pilu. Berkali-kali ia menggelengkan kepala seperti memberi tanda ada yang tidak beres. Tak lama kemudian muncul asap hitam mengembus kencang seperti badai. Tangan ayah menggenggam sejuntai tali dengan kilau misterius.
***
Sayup terdengar suara berita di TV. "Pemirsa, kecelakaan yang dialami tim JAWARA menewaskan hampir seluruh penumpang. Hanya satu pemain yang selamat yaitu Margo. Sekarang Margo dirawat di Rumah Sakit Pusat Capol'em."
"Rupanya Neialme berulah lagi," Horace menatap layar TV. Antoinette melangkah mendekati Horace berdiri sejajar dengannya sambil memegang dagu. "Kau, masih punya seragam perawat itu?" Kepala Horace memberi tanda gerakan ke arah lemari di ujung ruang. Antoinette membuka pintu lemari lalu mengambil pakaian putih lengkap dan menaruh nurse hat di kepalanya. Tatapan mereka beradu. Tak perlu banyak kalimat, mereka tahu apa yang akan dilakukan.
***
"Tuan Margo, maaf suntik dulu." Antoinette telah mempersiapkan obat pemenang untuk melancarkan rencananya. Margo membuka lengan bajunya. Segera Antoinette menyuntikan obat penenang. Selepasnya Margo kembali berbaring lalu dalam hitungan menit hilang kesadaran.
Mata Antoinette beredar ke penjuru ruang. Menyapu setiap inci barang yang ada di sana. Sinar matahari menerangi melalui kaca jendela.
Mata Margo terpejam ketaksadaran masih membuainya. Terdengar pintu kamar terbuka. Horace masuk ke ruang itu dengan jas putih. "Kau sudah temukan?" Antoinette menggeleng.
"Hmm menurutmu a ... ?" Belum selesai kalimat tanya itu, dalam kecepatan cahaya angin berpusing di ruangan. Menjelma makhluk bermata merah. Sorot matanya begitu menakutkan. Mulutnya terbuka lebar memperlihatkan taring tajam dan merentang tali-tali lendirnya. Menyerang garang ke arah Horace dan Antoinette.
"DIASTATIKI DESMI ORION!!" Horace dan Antoinette berteriak lantang. Ruangan itu menjadi terang benderang. Makhluk itu mengerang kesakitan lalu pecah jadi serpih debu berbarengan dengan tali sepatu yang terbakar di lantai lalu lenyap dari pandangan.
Komentar
Posting Komentar