MELANGITKAN SYUKUR

 MELANGITKAN SYUKUR


Satu

Setiap melakukan perjalanan, kita sering melihat orang gila di jalan. Kita menatapnya nanar lalu berkelebat dipikir. Bagaimana kalau kita jadi orang gila?


Sekerejap..hati hangat dan mendapat jawabnya. Pernahkah kita bersyukur atas nikmat Allah bahwa masih diberi kesadaran?


Dua

Malam ini sayup terdengar, dari layar kaca.

Pengungsi tidur di emperan jalan.. anak-anak bermata kejora memeluk boneka kumal. Sorot matanya nanar. Tubuhnya banjir oleh peluh. Nafasnya tersengal debu polusi. Entah kapan terakhir mereka bisa menikmati segarnya air mandi.


Dari negaranya mereka dianiaya. Puluhan hari mereka berjalan kaki lalu mempertaruhkan nyawa dengan perahu seadanya lintasi samudra, berharap ada negara yang mengakui mereka sebagai warganya.


Sang wartawan bertanya apa harapan mereka. Sang pengungsi menjawab mereka berharap dapat hidup aman dan tentram. Lalu ada negara yang memberi mereka kewarganegaraan. 


Basah hati mendengar itu.. lalu bertanya pernahkah kita bersyukur hidup di negara yang damai dan memiliki kewarganegaraan yang sah?


Tiga

Pernahkah kita merasa begitu kesal dengan rumah yang berantakan seperti kapal pecah karena mainan yang berserak? Lalu anak-anak bertengkar, lari sini lari sana, loncat sini loncat sana. Kepala dibuat pusing 7 keliling. Mulut mulai meracau, melarang ini, melarang itu. 


Hati sungguh kesal, tak sebersit pun ingat tentang betapa lucunya dulu mereka ketika bayi. Betapa bahagianya ketika mereka lahir dan betapa menggemaskannya kala langkah pertama dari kaki mungil mulai berayun. 


Lalu di lain waktu ada keadaan, anak-anak kita hanya terdiam. Matanya kuyu dan tanpa celoteh. Terbaring di kasur dengan kompres di kepala. Terdiamlah kita dengan khawatir yang merayap di dada. Tersadar atas suatu kenikmatan yang terlewat selama ini. Kala anak-anak aktif bermain, ribut dan ceria merupakan sebuah nikmat yang terlalaikan.


Empat

Pernahkah kita sampai ke tempat kerja dengan lancar dan aman? Lalu melaksanakan kegiatan rutin seperti biasa. Tanpa merasa ada keistimewaan yang terjadi. Itu awalnya yang ada dalam benak. Sampai suatu hari kita mendengar ada teman yang menuju kantor keserempet mobil, ada yang sedang jalan kaki seperti biasa tiba-tiba kepeleset dan terkilir hingga harus ke dokter ortopedi atau teman yang bajunya basah karena cipratan genangan air hujan. Terdiam dalam tafakur, baru menyadari betapa hari-hari yang kita lewati ketika sampai ke tempat kerja dalam keadaan sehat walafiat merupakan nikmat yang perlu disyukuri.


Lima

Ada kutipan dari Mario Teguh yang selalu diingat. Saya siap diomelin ibu setiap hari sepanjang tahun, asal ibu saya hidup kembali. 


Sebagai seorang anak kerap ada beberapa hal yang kita tidak sukai dari kebiasaan ibu kita. Entah itu cerewetnya kalau bekal tidak dimakan, cara mengingatkan sholat, cara membangun kita ketika pagi hari atau marahnya ibu ketika kita ketinggalan wadah makan. Sering kali hati kita ngedumel dibuatnya.


Namun, kala ibu kita pergi menginap beberapa hari ke rumah saudara ada perasaan hampa yang terasa. Jiwa ibu, dibalik semua kekurangannya menggaung cinta besar di baliknya. Maka, sekejap baru kita sadari ada rindu atas kecerewetannya. 


Apalagi untuk yang telah ditinggal ibu selamanya tentu, cerewetnya ibu begitu dirindukan. Maka, selagi Allah masih memberikan kesempatan untuk kita bersama orang tua (terutama ibu) sudah selayaknya mendengar semua titah ibu sebagai bentuk syukur atas kehadirannya di hidup kita. Love you mom 🤗


Enam

Kehamilan merupakan masa yang sangat indah namun di sisi lain merupakan sesuatu yang membuat kita begitu cemas. Apalagi untuk kehamilan pertama. Apa yang sebenarnya akan terjadi begitu abstrak. Ketidaktahuan menimbulkan ketakutan.


Ditambah lagi, masukan informasi mitos dari kawan dan handai taulan tentang pengalaman hamil dan melahirkan yang belum tentu benar. Walhasil, makin parno dengan proses kelahiran kelak.


Menjelang kelahiran, banyak hal yang perlu dipersiapkan. Semua keluarga pasti sibuk memenuhi keperluan fisik sang jabang bayi seperti baju, popok, kosmetik bayi dan perintilannya yang lain namun melupakan kebutuhan sang ibu. Disini maksudnya tak hanya kebutuhan fisiknya namun juga ilmu dan iman dalam mempersiapkan kelahiran. 


Mindset perlu ditata ketika menjelang kelahiran. Perbanyak ibadah dan doa. Tak lupa satu lagi, ini sangat penting. Kalimat positif yang membuat kita Ikhlas menjalani proses hamil dan melahirkan. Tanamkan bahwa proses hamil dan melahirkan adalah jihad dan bagian dari ibadah. Gunakan mind set bahwa ratusan bahkan mungkin ribuan perempuan di luar sana, rela melakukan apa pun untuk merasakan apa yang kita rasakan. 


Setiap mual, setiap nyeri punggung, setiap linu gusi gigi, setiap kepayahan karena perut yang makin berat, semakin nyeri kontraksi menuju lahiran, bayangkan betapa banyak wanita yang ingin merasakan hal itu. Sebab di dunia ini ada ratusan bahkan ribuan wanita yang belum mendapatkan kesempatan hamil lalu melahirkan. Maka, walaupun dalam rasa sakit tumbuh pula rasa syukur. Mind set tersebut mengajari tubuh dan pikiran tuk Ikhlas menjalani segala proses hamil dan melahirkan. Hingga insya Allah setiap sakit dan nyeri menjadi ibadah dan penggugur dosa.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENJADI BERBEDA

MENDAMBA

Perjalanan Membingkai Makna