KEKUATAN BERSIN
KEKUATAN BERSIN
"Haaachiiw" hembus kencang angin seketika melemparkan meja dan kursi-kursi. "Astagfirullah, Rohtoar hati-hati dengan bersinmu!" ucap ibu.
Kami adalah keluarga super Hero. Ayahku mampu mengangkat mobil dengan satu lengan. Ibuku teriaknya menghancurkan dinding. Kakak sulungku, Amala mampu membaca pikiran orang lain. Kakak keduaku, Sendaka mampu mengerti bahasa binatang. Sedang aku yang paling bungsu, kalau bersin dapat melemparkan apa pun yang ada di depanku.
Suatu hari keluarga kami mendapat tugas membantu polisi hutan dalam kasus penyelundupan hewan liar di Hutan Swalana. Perjalanan kesana awalnya menggunakan mobil jeep sampai Desa Hulala. Lalu diteruskan dengan jalan kaki. Menuju kaki Gunung Haromba letak Hutan Swalana.
Dari keterangan polisi hutan, di sini terdapat puluhan pemburu liar yang menjadi supplier hewan liar khas Hutan Swalana. Hewan yang paling banyak diminati adalah rakiki sejenis tupai namun lebih menggemaskan dari tupai biasa. Warnanya sangat unik yaitu biru dan kuning. Hewan lain yang tak kalah jadi incaran adalah kwokwong sejenis katak dengan mata sebesar jempol. Jika bersuara terdengar merdu mirip suara burung kenari.
Ketika sampai Hutan Swalana, kakak keduaku langsung melakukan investigasi. Dengan kekuatannya memahami bahasa binatang. Maka dengan cepat diketahui tempat para pemburu satwa liar berkemah.
Kami berlima, berkumpul bersama membicarakan rencana penyerangan pemburu liar dan tentu saja penyelamatan satwa liar yang telah tertangkap. Ayahku yang memimpin rapat kecil itu. "Amala dan Sendaka, kalian berangkat duluan. Amala intai dari jarak aman sadap pikiran mereka. Lalu, kembali kesini." Perintah ayahku.
Dua jam telah berlalu. Ayahku berjalan mondar mandir tak sabar menunggu kedua kakakku kembali. Ibuku memasak telur rebus dan memberikannya padaku. "Rohtoar, makan dulu!" Aku langsung mengupas dan mengambil merica dan garam tuk memberikan rasa. "Haaachiiw" hembus kencang angin seketika menerbangkan tenda, ransel dan semua perbekalan. Suara riuh binatang hutan terdengar nyaring. Ibuku melotot ke arahku. Ayah memberi kode agar aku segera berlari menjauh dari sini.
Pepohonan rimbun dengan suara binatang bersahutan memberikan suasana magis yang mencekam. Berjalan sendirian di tengah hutan memberi desir takut. Aku sungguh merasa bersalah atas keteledoran ku. Bagaimana kabar ayah dan ibu ya? Langkahku menapak, namun pikiranku tak disini. Harapku cuma satu yaitu bertemu dengan Amala dan Sendaka.
Harapanku terkabul namun dengan keadaan yang di luar dugaan. Di dekat sungai yang jernih, aku melihat dari kejauhan ayah, ibu, Sendaka dan Amala ditawan oleh pemburu liar.
Darah mudaku mendidih melihat orang-orang yang kucintai tak berdaya. Sungguh aneh, kenapa ayah dan ibu tidak bisa menggunakan kekuatannya? Ingin segeraku bertindak namun ragu berhembus kencang. Aku si bungsu yang bau kencur. Bisa apa aku?
Ada gelitik tiba-tiba menyerang hidungku. Aneh! Benakku berkata. Segera kumerogoh sapu tangan di dalam saku. Segera aku tutup hidung. Kalau aku bersin nanti keberadaanku ketahuan. Mana kuat aku yang begitu lemah melawan mereka.
Ketika sapu tangan menempel ke hidung. Tak bisa kutahan lagi. Haaciiww sebuah kekuatan yang awalnya hanya menerbangkan benda-benda yang ada di sekitar kini berubah.
Setelah bersin. Tubuhku berubah transparan. Tiba-tiba aku jadi hilang. Berubah jadi angin. Whuussh! Tubuhku mengawang menuju tepi sungai.
Tekadku bulat! Akan kuporakporandakan semua musuh di sana. Kekuatan ini akan menjadi jalan keselamatan keluargaku. Ayah, ibu, Sendaka dan Amala lihatlah kekuatanku kini.
Bandung, 22 Juli 2022
Komentar
Posting Komentar