INI SAMA SEKALI BUKAN KOMEDI
INI SAMA SEKALI BUKAN KOMEDI
Di sebuah komplek penjara bernama Lapas Tebing Tinggi. Terbentang lahan seluas 5 hektar, penjara tua ini berusia lebih dari 100 tahun. Angker, kelam, menyimpan sejuta cerita seram.
Ada 190 napi perempuan dikurung di dalamnya. Mereka terbagi ke dalam 6 blok, yang masing-masing dipimpin oleh seorang komandan.
Di salah satu sel, Rina menatap nanar jeruji besi di hadapnya. Merembes air matanya kala ingat suami dan anaknya di rumah. Sebuah alasan yang konyol mungkin kata banyak orang. Ia bisa terkurung di sini sebagai pelaku penyebar berita hoaks Covid-19.
Kisah ini bermula dari kejadian sepele. Sesuatu yang sebelumnya tak terbayang di benaknya. Hanya masalah praduga yang berkelindan tak terkendali berujung petaka ini.
Benaknya kembali memutar ketika ia berbelanja ke pasar. Deru sirine ambulans mengiang keras bersaing dengan riuhnya pasar. Rina melihatnya lalu iseng merekam video ambulans lewat.
Sambil menunggu pesanan ojol untuk pulang ke rumah. Rina curhat ke grup WAG pengajian ibu-ibu RT 09 tentang ambulans yang lewat dengan caption: Wah, ambulans lewat jangan-jangan bawa pasien Corona dari Kecamatan Sriwedari. Hanya itu, gak kepikiran apa-apa.
Sampai rumah, Rina langsung membimbing dua anaknya mengerjakan tugas sekolah secara daring. Zara kelas 1 SD sedang Dillan kelas 3 SD. "De, ayo kerjakan dua soal lagi!" Rina membimbing Zara anaknya yang nomer dua. Kakaknya Dilan, asyik membuat puisi tugas bahasa Indonesia. Ini hari kedua buah hatinya belajar di rumah mengikuti instruksi pemerintah pencegahan pandemik Corona.
Pukul 11 tugas daring sekolah anak-anaknya selesai. Sekarang mereka asyik menyusun lego. Rina lalu menuju dapur untuk meracik belanjaan. Memasak sayur lodeh dan goreng tempe untuk makan siang.
Pukul dua Rina mengambil jemuran yang kering lalu menyetrika sambil menonton infotainment. Zara dan Dillan keliling komplek main sepeda.
Pukul 5 semua sudah mandi sore. Selepasnya Rina dan anak-anak menonton TV sambil menunggu suaminya pulang. "Mah, kasian ya itu dipenjara karena menyebarkan berita hoaks!" Zara menunjuk layar TV.
Rina tertawa geli melihat berita itu. Hatinya berkata kok kurang kerjaan sebar-sebar berita gak jelas. "Makanya, Zara dan Dillan kalau posting apapun harus pikir dulu. Jangan iseng kayak yang di TV." Rina menasehati kedua anaknya.
Terdengar suara deru motor di depan rumah. "Hooree ayah pulang!!" Zara dan Dillan langsung ke beranda menyambut sang ayah. Ayah merentang lengan ingin memeluk kedua buah hatinya. "Eits, cuci tangan dulu!" Zara menghindar gak mau dipeluk dengan rona jahil.
"Iya ayah, mandi dulu sana!" Rina menyela dari arah pintu. Ayah masuk ke rumah dengan wajah lelah.
Ayah sejenak duduk di ruang tamu. "Mah, katanya Corona udah menyebar sampai Kecamatan Sriwedari ya?" Mendengar kalimat itu ada kejut listrik di benak Rina. Dadanya berdebar lebih kencang ingat postingannya tadi pagi.
Yang tidak diketahui Rina akibat video ambulans yang ia rekam dengan praduga itu. Warga Sriwedari menjadi terisolasi. Tak ada satu pun yang berani masuk kawasan itu. Padahal kenyataannya tak ada satupun warga yang positif Covid 19 di sana.
***
"Hei, kamu! Itu yang bengong!" Rina tersentak dari lamunannya.
Sipir penjara dengan wajah seram melotot ke arahnya. Tangannya memukulkan pentungan ke jeruji besi. Rina menunduk, tubuhnya gemetar. Tak pernah terbersit hal ini bisa terjadi di hidupnya. Ini sama sekali bukan komedi.
Komentar
Posting Komentar