TAK ADA SARAPAN LAGI

 TAK ADA SARAPAN LAGI


Aku berguling di lantai. Menguap lebar lalu memejam mata. Lelaki penjaga pagar  masih mendendangkan suara berisik. Malam telah tua. Embus angin menggoyangkan pohon palem di beranda sekolah.


Suara pagar digeser membangunkanku. Aku menguap sambil meregangkan keempat kakiku. Lelaki penjaga pagar sudah siap dengan peluit serta tongkat pendek di tangannya. 


Anak-anak berseragam datang satu persatu. Aku berbaring malas masih di beranda. Berkawan paving block abu menanti tuanku datang. 


Suara derit motor dan wangi khas menyerbu cepat. Aku terkesiap. Mendongkakan kepala dengan sorot mata waspada. Motor diparkir di tempat biasa. 


Aku berlari menujunya. Mengeong manja. Ia lalu sejenak menatapku. Lalu berkata, "Iya, sayang sebentar."


Ia menurunkan banyak barang. Lalu mengangkatnya masuk ke kantin sekolah. Aku melangkah ringan tepat di belakangnya. 


Sejenak ia akan menaruh barang-barang di posisi yang sama. Sedang aku kembali berbaring manja di kolong meja. Hingga aroma ikan tercium tajam. Mataku awas lalu mulai mengeong. 


Ia akan berjalan ke sudut yang sama. Menaruh ikan segar sisa. Aku mengendusnya lalu melahap semuanya.


Aku berjingkat dari tempat itu, menghampirinya. Mengeong lalu kakinya aku usap manja dengan bulu di kepala. Ia akan menatapku gemas namun hanya dua detik. "Nanti ya mainnya ...!"


Aku lalu menuju pojok lapangan upacara. Kembali berbaring lalu terlelap walau lapang riuh oleh suara murid-murid.


Aku meregangkan tubuhku. Lalu menguap lebar. Melangkah pelan menuju kantin. Ia di sana menyadari kedatanganku. "Meng ... 

meng ...!" 


Aku berbaring di kolong meja. Getar halus terdengar aku begitu bahagia. Mulai aku berguling manja. Dan ia akan mengusap daguku hingga mataku terpejam. Membawaku ke pangkuannya lalu mengusap ubun-ubunku hingga tengkuk. Aku makin bahagia.


***


Suara pagar digeser membangunkanku. Aku menguap sambil meregangkan keempat kakiku. Lelaki penjaga pagar tidak membawa tongkat pendek dan peluit. Wajahnya tertutup kaca helm.


Tak ada satu pun anak berseragam datang. Aku berbaring malas masih di beranda. Berkawan paving block abu menanti tuanku datang. 


Suara derit motor dan wangi khas menyerbu cepat. Aku terkesiap. Mendongkakan kepala dengan sorot mata waspada. Motor diparkir di tempat biasa. 


Aku berlari menujunya. Mengeong manja. Ia lalu sejenak menatapku. Aku hampir tak mengenalinya. Mulut dan hidungnya tertutup kain. Lalu berkata, "Sayang, maaf aku gak bawa ikan."


Ia tidak bawa barang. Berjalan melenggang bersama lelaki yang biasanya membawa tongkat pendek masuk ke kantin sekolah. Aku melangkah ringan tepat di belakang mereka. 


Seperti biasa aku berbaring di kolong meja. Menanti jatah sarapanku. Aku tunggu, namun tak jua ada aroma tajam khas ikan tercium. Aku mengeong dengan suara memelas.


Ia berhenti sejenak mengikat barang-barang. Menatapku lalu menghampiri. Suaranya terdengar sedih, "Meng, aku gak bawa ikan hari ini. Mulai sekarang gak jualan." 


Tangan tuanku dan lelaki di sampingnya penuh membawa barang. Aku mengekor di belakang mereka. Menyaksikan tali-tali diikat kuat di atas motor. 


Tak bisa kulihat senyumnya. Hanya sorot hangat dari matanya. Ia berjongkok mengulurkan tangan. Mengelus daguku. Aku segera berguling manja. 


Terdengar tawa dari balik kain yang menutupi mulutnya. "Dasar kamu Meng, mau diajak main ya?" Ia menggendongku. Tangannya mengelus ubun-ubun hingga punggung. Getar halus terdengar. Aku sungguh bahagia. 


"Maaf ya Meng, aku gak bisa bawa kamu," terdengar suara sedih ke telingaku. Aku mengeong parau. Ia lalu menurunkan aku dari gendongannya.


"Pak, kalau ada makanan sisa berikan sama Memeng ya!" Kumelihat tuanku bercakap dengan lelaki yang biasanya memegang tongkat pendek.


***


Suara pagar digeser membangunkanku. Aku menguap sambil meregangkan keempat kakiku. Lelaki penjaga pagar tidak membawa tongkat pendek dan peluit. Wajahnya tertutup kaca helm.


Tak ada satu pun anak berseragam datang. Aku berbaring malas masih di beranda. Berkawan paving block abu menanti tuanku datang. 


Aku mengeong manja, berharap yang datang tuanku. Aku mengendus aroma di udara. Itu bukan tuanku. Kukembali berbaring dan memejam mata. Sayangnya hanya embus angin yang membelai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENJADI BERBEDA

MENDAMBA

Perjalanan Membingkai Makna