KISAH SANG NAGA RENTA
KISAH SANG RAJA RENTA
seekor naga tua
telah ringkih dan renta
matanya lamur
giginya ompong
sembur nyala apinya
telah lama padam
diam di sudut rimba
menghirup duka nestapa
sesak menghimpit dada
"Uhuk ... uhuk!" Kepul asap tanpa api menyembur dari mulut sang naga renta. Naga tua duduk di sudut hutan. Sorot matanya nanar. Mengigil kedinginan. Tanpa seorang pun kawan.
Benaknya memutar kenangan kala sayapnya merentang di angkasa. Mengepak ke tempat-tempat jauh. Diperebutkan para penunggang kesatria dari seluruh penjuru istana.
Kini di usia senja, tubuhnya ringkih. Matanya rabun. Kobar api di mulutnya telah padam. Naga renta berjalan terseok menuju Raja Rimba untuk meminta perlindungan.
Mata tajam elang mengamati langkah Sang Naga dari angkasa. Elang hinggap di depan paduka raja rimba mengabarkan tentang apa yang dilihatnya. "Paduka, saya melihat seekor ular raksasa dengan sayap mirip kelelawar berjalan menuju istana!"
Paduka mengerutkan alisnya. Benaknya memutar, mencoba menemukan binatang apa itu. Rakyat manakah yang telah ia lewatkan? "Benarkah itu yang kau lihat, Elang?" ucap Raja Rimba dengan wibawa.
"Pengawal, siapkan pertahanan!" Paduka memerintah prajurit kerajaan untuk bersiaga.
Sang Naga sampai di depan istana Raja Rimba. Raut Naga heran mengapa banyak prajurit berjaga. Padahal ia hanya Naga yang renta. Naga mengucek matanya yang mulai rabun. Ia mencoba menajamkan lagi pandangannya.
Satu anak panah mulai mengarah pada dirinya. Aliran adrenalin mengalir deras. Membangkitkan buluh-buluh semangat yang layu. Ada sensasi yang sangat kuat ia rasakan.
Matanya memejam, terbayang pertempuran yang pernah ia lalui di masa muda. Bagaimana kepak sayapnya merentang sempurna mengangkasa. Bagaimana sorot matanya berkobar memantik ketakutan ribuan lawan. Bagaimana sembur apinya mengalahkan telak seluruh yang menyerbu.
Naga merentang sayapnya. Mengepak sekuat tenaga. Ia telah lupa caranya terbang. Matanya membelalak tak percaya. Ia mengangkasa.
Anak panah mulai menyerbunya lagi. Refleks bertarung membuatnya mengembus api dari mulutnya. Awalnya hanya beliung asap yang keluar namun di embus yang kedua api mulai memercik dari mulutnya.
"Ini keajaiban!" sahut Naga tua gemetar tak percaya. Ia mengepak sayap makin kencang meninggalkan istana Raja Rimba.
Sambil mengendarai angin Naga renta menyadari mungkin selama ini ia tak berdaya karena ia hanya diam saja.
langit masih sebiru laut
dentang sumbang
berubah harmoni
di debar yang berbeda
naga renta telah temu
tentang mutiara
di cangkang usang
berderak karat
waktu berkelindan
dalam masa tak terhingga
sang naga renta
mengayuh duka
dalam harap yang sirna
cambuk telah mengayun
tak satu pun makhluk tahu
tentang apa kekuatan diri
kala bersemayam
hilang diri hilang bentuk
hanya lewat bergerak
hanya lewat berdetak
hanya lewat bertindak
akhirnya derak karat
berubah semangat
berubah manfaat
Bandung, 12 Juli 2022
Komentar
Posting Komentar