Rima dan Rahman (2)
RIMA DAN RAHMAN (2)
Setelah pembicaraan singkat yang menguras jiwa Tanti pamit. Rima mengantar ke beranda rumah. Ayah Rima tampak sibuk mengotak-atik sepeda.
"Duh, kemana sekarang service Cakrawala?" Terdengar Ayah Rima bicara sendiri.
"Eh, Tanti sudah ketemu sama Rimanya?" Ayah Rima menyapa ramah.
Tanti mengangguk sambil tersenyum.
"Ini sepeda om, Cakrawala namanya. Lumayan jadi kesibukan di hari tua." Ayah Rima membuka pembicaraan.
Tanti yang awalnya akan berjalan pulang jadi duduk kembali. Ayah Rima mulai bercerita tentang Cakrawala.
"Tapi, sayang montir sepeda langganan sekarang sudah pindah kota. Jadi, Cakrawala hanya diam di garasi." Itu kalimat terakhir kisahnya.
Mata Tanti membesar, tersungging senyum penuh makna di bibirnya. Tanti menatap Rima. Mata Rima melotot sambil menggeleng kepala. "Jangan!" Rima berkata tanpa suara.
"Kebetulan om, saya punya teman montir sepeda andal." Sorot mata Tanti jahil.
Rima kemudian mendekati Tanti. Tangannya mencubit paha Tanti. Tanti nyengir menahan sakit namun tetap menawarkan keahlian Rahman.
"Assalamualaikum, Mas Rahman ..." Tanti menggenggam ponsel menghubungi Rahman. Rima tertunduk. Hempas hatinya. "Apakah aku sudah siap?" Tanyanya dalam hati.
"Baik Om, insya Allah besok teman saya namanya Rahman akan datang untuk perbaiki Cakrawala." Tanti tersenyum dengan mata gemintang.
"Baik, Tanti pamit dulu ya!" Tanti berjalan menuju pagar. Meninggalkan Rima dengan jutaan resah menggantung di dada.
***
Deru motor adalah suara yang paling tak diharapkan Rima. Entah bagaimana kelak jika ia bertemu Rahman. Pikirannya berkata apakah ini jawaban istikharahnya? Sungguh Rima merasa belum siap. Apalagi ia sama sekali tak mengenalnya.
"Itu pasti Rahman!" Ayah Rima menanti di beranda. Mendengar suara deru motor segera Ayah Rima membuka pagar. Wajahnya bahagia membayangkan Cakrawala akan diperbaiki.
"Assalamualaikum, Pak perkenalkan saya Rahman, temannya Tanti." Rahman tersenyum ramah kemudian menjabat tangan ayah Rima.
"Jadi ini, montir andal yang diceritakan Tanti." Ayah Rima menyambut Rahman dengan hangat.
"Saya Susanto. Panggil saja Pak Anto." Ayah Rima berjalan beriring Rahman menuju beranda.
"Rim, ada tamu nih. Ambilkan minumnya!" Suara ayah Rima terdengar dari beranda. Deg!! Jantung Rima terasa copot. Tangannya tiba-tiba saja dingin. Segera ia mengambil kerudung bergo abu yang tergantung di balik pintu.
"Iya ayah!" Suara Rima menjawab. Rima bergegas ke ruang dapur. Tangan Rima bergetar mengambil gelas dari lemari. Perlu fokus ekstra untuk Rima menyiapkan teh manis.
"Ini Rima anak sulung saya. Kami tinggal bertiga. Ibunya sedang pengajian. Adik Rima ikut suaminya ke Jakarta." Ayah Rima memperkenalkan Rima. Baki teh yang di bawa Rima bergetar. Rahman mencuri pandang ke arah Rima. Sedang Rima tertunduk dengan perasaan tak karuan.
"Rim, ini montir temannya Tanti itu." Ayah Rima memperkenalkan Rahman. Rahman mengulur tangan untuk bersalaman. Rima tersenyum kaku telapak tangannya bertemu di depan dada. Ada desir di dadanya melihat wajah teduh Rahman. "Saya Rahman." Suaranya begitu merdu di telinga Rima.
Waktu membeku. Dalam hitungan detik Rima merasa kakinya tak menapak. Ya Allah apakah Engkau bukakan hatiku?
"Assalamualaikum, eh ada tamu." Suara ibu Rima yang pulang dari pengajian mencairkan suasana.
"Waalaikumsalam, saya Rahman bu." Rahman menganggukan kepala.
"Ini, montir sepeda untuk Cakrawala. Temannya Tanti juga." Ayah Rima menjelaskan.
Melihat fokus semua ke Ibu Rima, Rima langsung masuk ke dalam rumah. Ia mengembus napas lega di balik pintu. Tangannya masih terasa dingin. Jantungnya masih berdentang kencang. Ya Rabb, apa yang harus aku lakukan sekarang?
"Rim, ini ibu beli gorengan. Ini suguhkan untuk Rahman." Suara ibu mengagetkan Rima di ruang tengah.
"Ibu saja yang menyuguhkan... Rima kebelet pipis." Rima melangkah cepat menuju kamar mandi. Ibu Rima hanya geleng-geleng melihat tingkah anak sulungnya.
Adzan Ashar berkumandang. Rahman memandang puas hasil pekerjaannya. Selalu ada yang bergetar di dadanya selepas ia memperbaiki sepeda. Matanya gemintang membuat wajahnya berpendar memesona.
Rima mengintip dari jendela kamarnya. Dari balik gordeng ia menatap Rahman di beranda. Dadanya kembali berdesir. Apakah aku mulai jatuh cinta?
"Rim, Rahman mau pulang." Suara Ayah Rima mengagetkan. "Duk! Aww..." Rima terkaget kepalanya terantuk kaca jendela.
Di beranda, Rahman spontan melihat ke arah jendela kamar Rima. Rima langsung berjongkok bersembunyi sambil mengelus dahinya yang sakit.
"Kenapa kamu berjongkok disana?" Ibu Rima membuka pintu kamar Rima. Wajah Rima cuma nyengir bingung menjelaskan keadaan.
"Sudah, tuh temannya Tanti mau pulang!" Ibu Rima menjauhi kamar Rima. Rima segera mengambil bergo abu di balik pintu. Kali ini tersenyum mematut diri di depan cermin kemudian mengikuti ibu ke ke beranda.
"Kalau ada apa-apa ini kartu nama saya pak. Bisa langsung WA." Rahman memberikan kartu namanya.
"Wah, saya gak ngerti WA. Nanti biar Rima saja ya." Ayah Rima memandang putrinya. Rima hanya mengangguk merasa kikuk.
"Baik saya pamit dulu!" Rahman berjalan menuju halaman.
"Eh, ini gimana biayanya?" Ayah Rima bertanya.
"Nanti ke Tanti saja. Mungkin nanti Mbak Rima bisa langsung tanyakan." Rahman menatap ke arah Rima sambil tersenyum.
Berdesir kembali dada Rima. Pipinya bersemu merah. Ibu Rima memperhatikan anak gadisnya itu. Wajahnya ikut tersenyum. Jelas aroma asmara mengawang di udara.
Bersambung...
💕
BalasHapus