MENANTI 19.30
MENANTI 19.30
"Sayang, maaf ayah dah gak bisa nolak lagi," Wajah Irwan tertunduk sambil memegang tangan Anggi.
Anggi memandang lekat wajah Irwan. Ia tahu ini akan sangat berat. Tak hanya untuk mereka berdua namun juga untuk kedua buah hatinya.
"Tubin, ayah tugas di lantai 4. Jadwalnya tiga bulan di sana." Irwan menarik napas, mengembuskannya. Sorot matanya nanar. Tangannya mengelus tangan Anggi.
Bulir air mata tak tertahankan jatuh di sudut kelopak mata Anggi. Anggi sesenggukan menenggelamkan semua laranya di dada Irwan. Memeluk erat suaminya. Irwan mengelus rambut hitam Anggi. Keduanya larut dalam waktu. Berharap ini akan selamanya.
Anggi mengendurkan pelukannya. Memejam mata berusaha ikhlas dengan kenyataan yang harus dilaluinya. Walaupun sangat sedih, Anggi sadar betul ini salah satu konsekuensi yang harus ia tanggung ketika menikah dengan dokter.
Sebagai istri dan ibu ia berharap suaminya tak perlu ikut mempertaruhkan nyawa melawan langsung virus Covid-19. Ia begitu takut jika suaminya mendapat konsekuensi terburuk dari tugas mulianya itu.
***
Jam dinding menunjukan pukul 19.23. Dada Anggi berdebar tak karuan. Perasaan ini mengingatkannya ketika sebelum menikah. Kala menunggu Irwan datang ke rumah.
"Sasha ... Ihsan ..., sini dekat ibu! Sebentar lagi ayah video call," Anggi memanggil kedua buah hatinya.
Gawai Anggi bergetar. "Ayah, gimana hari pertama bertugas?" suara Anggi bergetar. Begitu sulit baginya untuk menyembunyikan kesedihan. Ia tahu seharusnya ia tegar. Seharusnya ia menjadi contoh untuk Sasha dan Ihsan. Seharusnya ia tak membuat suaminya khawatir. Namun sungguh, ini begitu berat.
Di depan gawai, Anggi menyunggingkan senyum kaku. Sasha menggambar ayahnya sedang melawan virus Covid-19. Sedang Ihsan memperlihatkan rangkaian lego dinosaurus buatannya. Irwan terlihat sehat. Sorot matanya memancarkan harapan. Ya Rabb, mohon jaga suamiku.
***
Sudah hampir dua bulan Irwan bertugas. Anggi mulai terbiasa dengan kekhawatirannya. Hanya lewat barisan doa selepas sholat Anggi titipkan keselamatan jiwa raga suaminya. Sungguh, Anggi tak bisa menerawang masa depan. Apakah ia bisa kembali memeluk suaminya atau aah ... Ia tak mampu membayangkan.
Jam dinding menunjukan pukul 19.20. Anggi, Shasa dan Ihsan menunggu video call Irwan.
Pendar gawai menyala. Ayah memanggil. "Assalamu'alaikum ...!" Irwan melambai dari layar gawai.
Anggi menatap gambar Irwan Di gawai. Sorot matanya kini meredup. Kantong mata hitam bergelayut di bawah matanya. Tubuhnya terlihat lebih kurus.
Irwan bertanya apa kegiatan Shasa dan Ihsan hari ini. Irwan pun bilang, dia memesan Al-quran untuk Anggi lewat daring. Insya Allah tubin sampai ke rumah. "Sayang, kalau rindu ayah. Baca ya Al-qurannya," Irwan berpesan. Anggi menggangguk dengan mata berlinang. Entah, ada perasaan tak enak di hatinya.
***
"Paket ...!" Anggi segera berjalan ke arah pagar. Ini pasti kiriman dari ayah. Ketika Anggi menyemprotkan disinfectan, gawainya bergetar. Sebuah nomor yang tak ia kenal.
Suara lelaki terdengar di telinganya. Anggi menggeleng dengan air mata berlinang mendekap paket yang baru datang.
Komentar
Posting Komentar