Meng Meng Kamu Dimana?
MENG MENG KAMU DIMANA?
Dede terisak. Kalung kucing berwarna putih untuk Meng Meng digenggamnya erat. "Meng meng kamu dimana? Dede sudah baik belikan kalung kucing,"
***
Hari itu seekor anak kucing melintas di lapangan sebelah rumah. Kaka dede sedang asyik mengangkut batu dengan mainan truk kayu. "Comelnya kucing ini!" Dede memandang takjub. Segera ia menggendong kucing berwarna putih dengan bulatan hitam di beberapa tempat.
Dibawanya ke rumah. Ibuku yang selalu antipati terhadap kucing, entah mengapa dengan kucing ini hatinya melembut. Kucing itu boleh menginap. Kaka dede melompat-lompat kegirangan.
Kucing itu kaka dede beri nama White Cowboy dengan panggilan Meng Meng atau kadang Little Cat. Kaka begitu telaten mengurus sang kucing. Hingga BABnya ia yang bersihkan.
Tak terasa sudah dua bulan Meng Meng menjadi bagian rumah ini. Setiap kami makan ayam, tulangnya kami pisahkan untuk Meng Meng. Kalau ia mengeong kami pasti carikan makanan untuknya. Kala malam tiba, ia akan cari tempat hangat untuk tidur. Kadang ia tidur sela kaki suami atau dekat selimut.
Menatap Meng Meng menimbulkan harapan bagi saya. Sudah lama sekali kaka dede ingin memelihara kucing tapi tidak pernah diizinkan oleh ibu saya. Seperti sebuah keajaiban ia kini berada di dalam rumah. Mengabulkan permintaan kaka dede yang sudah lama terpendam.
Hingga..., dua hari lalu kami pergi keluar rumah. Pulangnya sore. Meng Meng bebas berkeliaran di luar rumah. Malam tiba, Meng Meng tidak tidur di rumah. Saya pikir ah, itu biasa karena sebelumnya juga pernah ia tidak tidur di rumah tapi paginya mengeong di depan pintu. Namun, itu tak terjadi.
Dede panik kala menyadari Meng Meng belum pulang juga. Siang hari, paket pesanan kalung kucing datang. Membukanya dede sesenggukan karena hadiah buat Meng Meng sudah datang, tapi kucingnya yang nggak ada.
Dede mengajak saya mencari Meng Meng ke sekitar komplek. Matahari terik di atas kepala, dede terus berjalan. Setiap ada mobil yang parkir ia berjongkok melihat kolongnya mencari Meng Meng. Saya lihat jalan dede mulai pelan. "Dede cape? Sini umi gendong punggung," sahut saya nggak tega. Dede mengangguk lalu naik ke punggung saya."Umi, pulang saja. Dede haus," kemudian ia berseloroh.
Sampai rumah, dede langsung menghempaskan tubuh ke sofa. Menatap kalung kucing sambil memainkan kerincingannya. "Ini sayang minumnya," Saya mengulur wadah minum dede. Ia meneguk cepat karena tadi kepanasan. Setelahnya ia mulai menangis lagi. "Umi, kemana Meng Meng?" Saya mendekap dede erat membiarkan sedihnya tumpah.
Bandung, 8 Juli 2022

Komentar
Posting Komentar