JAS HUJAN BUNDA
JAS HUJAN BUNDA
"Yeee Syifa datang!!" Wajah Syifa senang menyambut teman-temannya. Syifa langsung menaruh ranselnya di atas meja. Lalu mendekati teman-temannya di depan kelas. Suara toa menghentikan candaan mereka "Seluruh siswa berkumpul di lapangan untuk pengarahan outbond!!"
Di dalam bus, pemandangan berlarian di jendela. Suara tawa dan obrol mengiringi perjalanan. Syifa mengunyah roti bakar bekal buatan bunda. "Din, ini enak lho!" Sambil memotong roti dengan tangannya lalu menyuapkan ke mulut sahabatnya. Dinda mengunyah sambil mengacungkan 2 jempolnya.
"Anak-anak baris per kelompok" Syifa dan Dinda segera mengambil ransel dan berjalan cepat ke arah sumber suara. Sebelum outbond dimulai, sayup terdengar suara musik tempo cepat mengiringi senam ringan sebelum outbond dimulai.
Syifa mengelap keringat lalu membetulkan kerudungnya. "Syif, ini!" Dinda mengulurkan botol minum merah miliknya. "Makasih ya Din.. airku dah habis" Syifa meneguk air segar sambil meluruskan kakinya yang pegal. Sejenak Syifa dan Dinda beristirahat.
Angin bertiup dingin, hampar langit yang awalnya biru cerah kini mulai kelabu. Terdengar suara "Rombongan SD Langit Biru berkumpul kembali di lapangan" Syifa dan Dinda berjalan beriringan menuju lapangan.
"Anak-anak siapkan payung dan jas hujannya!" Guru pembimbing memberi arahan. Syifa merogoh ransel. Tangannya bergerak menelusur hingga dasar ransel. Otaknya berpikir keras mengingat kembali dimana ia menaruh jas hujan.
Gerimis mulai turun. "Din, aku ikut payung kamu!" Syifa setengah berlari mendekati Dinda. "Enak aja..!" Dinda berlari menjauhi Syifa terkekeh memasang wajah jahil.
Di dalam bus. "Eh, ada yang lihat jas hujan warna merah marun kotak-kotak gak?" Syifa mengulang-ulang kalimat tanya itu sambil berjalan menyusuri barisan tempat duduk bus. "Enggak Syif, kamu terakhir taro dimana?" "Ah, kamu mah suka lupa aja!" Tak ada satupun jawaban yang ia harapkan. Syifa duduk kembali di bangku bus dengan wajah sedih. Terbayang di benaknya ibu pasti kecewa.
"Door!! Udah jangan dipikirin" suara Dinda membuyarkan lamunan Syifa. "Tapi, itu jas hujan kesukaan bunda. Hadiah ulang tahun dari ayah" Syifa menjawab masih dengan wajah sedih. "Udah bobo aja dulu. Nanti kalau pikiran dah tenang. Pasti inget!!" Dinda menjawab sambil merebahkan diri di bangku bus untuk siap-siap tidur.
Hujan deras di luar. Bus melewati gerbang sekolah. Pikiran Syifa terus ingat tentang jas hujan bunda. "Dinda bangun!" Tangan Syifa mengguncang bahu Dinda. Tangan Dinda mengucek matanya lalu menguap. "Eh, udah nyampe sekolah" Dinda kaget.
Di beranda kelas Syifa dan Dinda menunggu hujan reda. "Syif, itu jas hujan punya kamu!!" Dinda setengah berteriak. "Oh iya" Syifa langsung mengenali jas hujan itu karena jas hujan bunda punya corak yang unik. Syifa segera mengejar orang itu tapi terhalang banyak siswa yang berteduh. "Gagal Din, gak terkejar" Syifa duduk dengan raut kecewa.
Hujan makin deras, semua siswa yang belum dijemput berteduh di dalam kelas termasuk Syifa dan Dinda. "Hani, sudah dijemput!" Bu guru memberi tahu. Mata Syifa terbelalak kerena orang yang menjemput Hani teman sekelasnya menggunakan jas hujan persis milik bunda. Syifa mendekati orang tersebut dengan rasa penasaran.
"Alhamdulillah ketemu juga. Tadi bibi cari-cari kamu. Maaf ya lama menunggu, Tadi gak ada jas hujan. Ini, Alhamdulillah pak satpam sekolah pinjamkan ini. Katanya ada murid yang ketinggalan" Syifa mendengar penjelasan orang yang memakai jas hujan bunda. Hati Syifa lega, mengetahui jas bunda telah ditemukan.
"Maaf Tante, itu jas hujan punya bunda saya" Syifa mendekati orang yang menjemput Hani.
"Oh, maaf.. eh! Gimana atuh?" Tante itu wajahnya tiba-tiba memerah terlihat kikuk dan malu.
Syifa tersenyum "Gak apa-apa tante pakai saja dulu"
"Gimana outbondnya seru?" Ayah menjemput Syifa di lapangan sekolah.
"Seruu banget ayah! Tapi sedikit cape sih" Syifa tersenyum lebar. Motor mulai melaju. Sepanjang jalan wajah Syifa tersenyum. Tak lagi resah tentang jas hujan bunda.
Komentar
Posting Komentar