BERSAMAMU (2)
BERSAMAMU (2)
Kerlip bintang dan embus dingin menyelimuti malam ini. Dinda mematung di jok belakang mobil melirik sekilas spion depan lalu debar tak terdefinisi tiba-tiba menyergapnya.
Sayup suara radio mengalunkan lagu Katon Bagaskara
Dinda di manakah kau berada
Biar kita isi malam
Menangis tertawa
Dan sampaikan kepada langit dan bintang
Sebentuk cinta yang ada
'Kan tetap terjaga
"Wah, ini lagu kamu tuh!" Rahman mencairkan suasana.
"Eh, iya...." Dinda menyunggingkan seulas senyum dengan terpaksa.
Rahman memutar kunci kontak mobil lalu menginjak pedal gas. Mobil melaju membelah pekat malam.
"Eh, kamu udah makan belum?" Rahman melirik ke jok belakang menunggu jawaban Dinda.
"Belum, nanti makannya pas nyampe rumah aja." Dinda menjawab.
Rahman mengulurkan roti sobek dan sebotol air mineral ke jok belakang. "Kalau gitu, makan ini dulu!"
Dinda menerimanya dengan wajah senang. Terakhir ia pukul 1. Sekarang sudah jam 9 malam. Pastilah ia lapar. "Kok tau sih aku lapar?" Dinda bertanya sambil mengunyah.
Rahman melirik sekilas ke spion tengah lalu tersenyum. Tak berkomentar apa pun. Dinda terus menghabiskan seluruh roti sobek lalu meneguk air mineral.
"Aku gak disisain nih?" Rahman menggoda Dinda dari balik kemudi.
"Cantik-cantik ternyata makannya banyak ya?" Rahman melirik jahil ke arah Dinda.
Dinda salah tingkah dibuatnya. Ia acting manyun dan mendelik sebal.
Rahman tertawa melihat ekspresi Dinda. Dinda tersenyum lebar mendengar tawa itu. Tawa yang begitu akrab. Gaungnya menerobos benak begitu dalam.
Tiba-tiba ada gambar-gambar berjalan melewati benak Dinda. Seorang lelaki berpakaian bangsawan, suasana rumah sakit, dan sebuah rumah tua silih berganti menayangkan episode yang tak Dinda kenal.
Dinda memejamkan mata. Lalu gambar-gambar itu hilang begitu saja berganti sayup suara Afgan mengalun dari radio
Jika aku memang
Tercipta untukmu
'Ku 'kan memilikimu
Jodoh pasti bertemu
Dalam kecepatan cahaya ada rasa hangat di dadanya. Sebuah kenyamanan yang sebelumnya tak pernah ia rasakan. Jauuh sekali dibandingkan ketika ia bersama Reza.
Ini sangat aneh, karena Dinda tak mengenal siapa Rahman. Bagaimana ia bisa merasakan perasaan sedalam ini dalam waktu yang begitu singkat?
"Ehm, kok ngelamun?" Rahman membuyarkan lamunan Dinda.
Dinda gelagapan, wajahnya bersemu merah. "Enggak...." Dinda menggeleng kepala.
"Udah, sekarang kamu tidur aja. Insya Allah jam 10 kita dah nyampe." Suara Rahman begitu menyejukkan.
***
"Din, bangun sebentar lagi nyampe." Rahman membangunkan Dinda yang terlelap di jok belakang.
Dinda terbangun dengan mata sayu lalu menguap. "Eh, iya. Aduh saya nyenyak sekali."
Dinda mengeluarkan gawai lalu menelepon Mbak Sari. Tiga kali dipanggil tak jua diangkat. Alis Dinda berkerut, mencoba sekali lagi menelepon. Namun nihil, tetap tidak diangkat. Kalau malam begini jalan masuk rumahnya diportal. Bagaimana dia bisa masuk?
Mobil memasuki gerbang komplek rumah Dinda. Belok ke blok rumahnya. Portalnya terkunci. Dinda menelepon kembali Mbak Sari kembali gak diangkat.
"Ya udah, nginep di rumah saja aja gimana?"
Rahman menawarkan.
Wajah Dinda merenggut. Benaknya kesal. Dalam hati, dia bertanya maksudnya apa?
"Eh, gak gitu. Jangan mikir macem-macem! Di rumah ada ibu dan adik perempuan saya. Nanti, kamu tidur di kamar saya. Saya tidur di ruang tamu. Gimana?" Rahman kembali menawarkan.
Dinda kembali menelepon Mbak Sari. Tetap tidak diangkat. Dinda menatap layar gawai memantul 22.07. Dinda sejenak menghela napas, lalu berkata,"Ya udah, gak apa-apa."
"Rumah saya dekat kok dari sini sekitar 10 menit." Rahman menjelaskan sambil menyetir.
Sampai di depan rumah Rahman. Rahman turun menggeser pintu gerbang lalu masuk kembali untuk memasukan mobil ke garasi.
Langit hitam dengan bulan berpendar di atas kepala. Dinda turun dari mobil dengan perasaan kikuk.
Dinda mematung, berdiri di depan rumah Rahman yang sederhana namun terpancar kehangatan keluarga di dalamnya.
Terdengar suara keran diputar. Rahman mencuci tangan di halaman. Dinda mendekati menunggu giliran untuk mencuci tangan. Suasana begitu kaku. Tak ada sebersitpun akan mengalami hal ini.
"Ayo masuk!" Tangan Rahman memberi isyarat.
Lampu ruang tamu menyala. Kursi, meja, lemari dan pigura-pigura foto terlihat jelas sekarang.
Suara langkah kaki terdengar mendekat. "Eh, bukannya kamu dinas sampai besok?" Suara lembut seorang perempuan terdengar.
Langkah mama berhenti di ruang tamu. Ada raut kaget yang ditahan kala mama melihat sosok Dinda. Mamah menatap Rahman dengan sorot tanya.
"Mah, ini Dinda. Ceritanya panjang kalau diceritakan sekarang." Rahman menjelaskan.
"Intinya, Dinda tertahan di chek point sendirian, harus putar balik. Kantor menugaskan Rahman mengantarkan Dinda pulang. Sampai rumahnya, gak bisa masuk karena portalnya dikunci."
Dinda tertunduk, ada embus khawatir di dadanya. Bagaimana kalau mama Rahman tidak menerimanya.
Namun, ternyata tidak. Perempuan bersuara lembut itu tersenyum ke arah Dinda. Senyum yang sangat mirip dengan Rahman.
Tangannya lalu mengisyaratkan salam di depan dada. Dinda membalas dengan senyuman dan isyarat serupa.
"Yuk, Dinda tidur di kamar Rahman ya...! Biar Rahman tidur di ruang tengah." Mama Rahman berjalan menunjukkan kamar Rahman.
Masuk ke kamar Rahman suasana nyaman langsung terasa. Lemari penuh buku dan beberapa photo di dinding. Rahman orangnya apik. Semua barang tertata dengan rapi. Dinda tak menemukan ada photo wanita di kamar ini. Hmm berarti dia singel ya? Dinda senyum-senyum sendiri.
Segera Dinda mengganti baju lalu mengelap leher dan wajahnya dengan tisu basah. Ia belum menggosok gigi. Namun kantuk menyerang garang. Ia urungkan menggosok gigi langsung memejam mata. Terlelap dalam mimpi indah.
Dinda bermimpi berdansa dengan pangeran. Dengan gaun indah. Meliuk memutar menari. Di sebuah aula besar dengan musik lembut mendayu. Senyum terus terkembang di wajah mereka. Sorot mata hangat terpancar di keduanya. Terus berdansa sepanjang malam.
Tok...tok...tok... "Din, bangun!" Suara Rahman membangunkan tidur Dinda.
Mata Dinda terbuka, silau langsung terasa. Sinar matahari sudah mererobos gordeng. Dinda melihat gawai ternyata habis batre.
"Iya, sudah bangun...!" Dinda menyahut dari dalam kamar.
"Bisa buka pintunya sebentar. Saya ada barang yang harus diambil." Suara Rahman jelas terdengar.
Dinda turun dari tempat tidur segera membuka pintu. Mata mereka bersitatap kembali perasaan hangat memenuhi dada. Sebuah perasaan telah mengenal Rahman sangat lama. Telah begitu akrab.
Dinda kikuk, tak mampu bicara. Tangannya mendorong pintu lebih lebar mempersilahkan Rahman masuk.
"Saya ditelepon kantor harus kembali ke titik chek point. Kamu cepat beres-beres yaa. Saya antarkan dulu kamu ke rumah, baru saya kembali bekerja." Rahman menjelaskan sambil memasukan beberapa berkas ke dalam ranselnya.
Dinda mengangguk lalu bergegas mandi dan membereskan ransel.
"Ini Dinda buat sarapan!" Mama mengulur roti telur isi abon dalam kotak plastik.
"Rahman harus cepat-cepat kerja jadi gak apa-apa ya.... Mama bekalkan saja sarapannya. Nanti, Dinda datang lagi ke sini. Kita makan siang sama-sama. Mama akan masak yang istimewa." Mama Rahman begitu hangat dan ramah.
Dinda pamit pada mama dan adik Rahman. Ada rasa nyaman dengan penerimaan keluarga ini. Sungguh sebuah hari yang luar biasa.
Rahman mengantarkan Dinda hanya sampai pintu pagar rumahnya. "Maaf, saya gak bisa antar sampai dalam ya. Buru-buru harus masuk kerja." Tangan Rahman melambai lalu membunyikan klakson.
Dinda mematung di depan rumah. Hatinya hampa, ingin ia mengejar mobil Rahman. Ia belum punya nomor kontaknya. Apa ini pertemuan terakhir dengannya? Mata Dinda berkaca-kaca.
***
Dinda masuk ke dalam kamar. Foto Reza dan dirinya masih tergantung di dinding kamar. Dadanya tiba-tiba panas. Pikiran kehilangan kembali menyergap.
Dinda menarik nafas dalam lalu memejam mata. Rasa sesal dan bodoh membahana. Perasaan itu segera Dinda tepis, dia sadar sepenuhnya ia pantas dicintai dengan tulus bukan dengan dikhianati berkali-kali.
Terbayanglah sosok Rahman yang begitu tulus memperlakukannya. Air matanya tumpah, Dinda sesenggukan.
Tangan Dinda merogoh tasnya untuk mengambil tisu. Bukannya tisu yang ia temukan namun secarik kertas. Alis Dinda berkerut. Ia ingat sekali sebelumnya tak ada kertas di sana.
Dengan penasaran mata Dinda membaca kertas itu. Tak kenal dengan tulisannya. Apakah ini dari Rahman?
Sekarang pukul 1 malam. Mata belum juga mau terpejam. Ada bongkah rasa yang perlu diurai. Maka saya tulis surat ini.
Din, bingung mau bicara apa sama kamu. Kita belum banyak tahu satu sama lain. Pertemuan kita sangat singkat namun rasanya sudah kenal bertahun-tahun.
Saya bukan lelaki yang mudah jatuh cinta. Kamu adalah perempuan pertama yang saya bawa ke rumah. Mamah sampai kaget namun gembira karena akhirnya saya membawa perempuan juga ke rumah.
Semoga kamu belum punya pasangan yaa.. Jika berkenan, izinkan saya menjadi pendamping hidupmu. Insya Allah Sabtu ini saya ke rumah yaa
Nurrahman
Mata Dinda gemintang, kertas itu didekap erat ke dada. Rindu pekat di udara. Betapa ia ingin waktu berlari cepat agar Sabtu di depan mata.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar