BERSAMAMU (1)

 BERSAMAMU (1)


"Din, kamu sudah selesai belum?" Tangan lincah Ratih mengepak pakaian untuk pergi. Dinda terperangah dari lamunannya. "Eh, iya!" Segera tangannya kembali memasukan beberapa potong pakaian ke dalam ransel.


"Aku dah atur semua, biar kita bisa lewati check point...." Kata Ratih sambil memperlihatkan surat tugas palsu dari rumah sakit bahwa mereka adalah petugas lab yang akan melakukan pengetesan tes massal swab. 


Dinda mengacungkan jempolnya setengah hati. Sebenarnya ia tak ada rencana ikut drama ini. Tapi, terpaksa ia lakukan untuk keluar dari siklus sakit hati dengan Reza. 


Ini kelima kalinya Reza berselingkuh, namun tetap saja Dinda menerimanya kembali. Reza selalu tahu cara agar Dinda luluh dan kembali ke pelukannya. 


Kali ini Dinda sudah muak. Hanya dengan pergi jauh Reza tak akan mampu memperdayanya lagi.


Takdir memberikan jalan untuk ini. Ketika  Dinda sedang bertengkar hebat dengan Reza karena ketahuan selingkuh yang kesekian kali, Ratih meneleponnya. Ia perlu teman untuk pulang. Ayahnya masuk ICU. Gayung bersambut, Dinda pun perlu pergi dari Reza.


Mobil berguncang. Dinda terombang-ambing lelap memeluk ransel. Ratih di sampingnya terjaga mengulum dzikir dengan derai air mata untuk ayahnya. Di bangku sopir Pak Dudung memutar otak berpikir jalan mana yang akan aman dari pemeriksaan.


"Dah sampai mana?" Dinda mengucek matanya. Perlu beberapa saat menemukan kesadarannya. Tadi Dinda bermimpi sangat aneh. Ia bermimpi tentang bangsawan zaman dulu yang dirampok di rumah sakit. Rasa hampa merasuk ke dalam dirinya mengiringi mimpi itu.


"Sebentar lagi chek point." Ratih menunjuk ke depan. Mulutnya masih mengulum dzikir mengirim doa untuk ayahnya.


Lengan Dinda meraih gawai dan melihat 10 kali panggilan tak terjawab dari Reza. Ada perih di dadanya. Dinda memejam mata. Perlahan kenangan menayangkan senyum manis Reza mengulur selusin mawar di hari ulang tahunnya. Hatinya bertanya benarkah keputusan yang diambilnya?


Dinda menghela napas. Menggelengkan kepala sambil bergidik. Reza itu bajingan, sudah seharusnya Dinda meninggalkannya sejak dulu. Tak pantas ia dikhianati berkali-kali. Gemuruh di dadanya tak bisa ditahan. Dinda terisak memeluk ransel.


"Eh, Din kenapa?" Ratih mengelus punggung Dinda. Tangis Dinda makin deras. Tubuhnya berguncang merasakan rasa sakit menyadari betapa bodoh dirinya selama ini. 


"Maaf sekali teh, check point di depan. Suratnya sudah siap?" Pertanyaan Pak Dudung terpaksa mengakhiri tangis Dinda. Dinda segera menunduk, tangannya mengambil tisu lalu mengelap matanya.


Ratih merogoh tasnya mengambil surat yang sudah dibuatnya. "Ini pak, sudah siap!" Tangan kanan Ratih memperlihatkan map berwarna merah.


"Selamat malam, maaf bisa perlihatkan dokumennya?" Seorang petugas bersuara berat membekukan suasana. Ratih mengulurkan map merah kepada petugas.


"Silahkan menepi dulu, kami akan melakukan validasi atas dokumen ini." Petugas itu membaca kartu pengenal Ratih dan Dinda lalu mengerutkan dahi. 


Ratih dan Dinda keluar mobil. "Din, antar ke kamar mandi, aku mau pipis!" Dinda mengangguk dan berjalan di samping Ratih.


Seorang pemuda berjaket hitam berjalan di samping mereka. "Sstt ... sstt ...!" Dinda menengok. Mata mereka bersitatap. Dalam kecepatan cahaya gelombang nyaman merasuk ke hatinya. Sorot matanya begitu ramah sangat kontras dengan penampilan yang terlihat garang.


Ratih menatap sinis lelaki itu. Tangannya segera menarik Dinda ke tepi mengajaknya berjalan lebih kencang.


"Hey ... Ini!!" Lelaki itu mengangkat dompet Dinda yang terjatuh. "Ini, jatuh ...!" Suaranya lebih kencang. Namun Ratih tak menghiraukan suara itu. Dinda menengok namun tubuhnya bergegas mengikuti langkah cepat Ratih.


Lelaki itu mempercepat langkahnya namun terhenti karena mereka masuk toilet perempuan. "Aneh, mau ditolong malah kabur!" Pemuda berjaket hitam itu bersandar di dinding meracau sendiri.


Dinda keluar dari toilet. Matanya langsung menangkap sosok pemuda berjaket hitam itu. "Ehm.., ini punya kamu?" Wajah Dinda bersemu merah tiba-tiba grogi. Aneh sekali padahal Dinda tak mengenalnya. 


Tangan pemuda itu mengulur memberikan dompet coklat milik Dinda. Dinda meraihnya langsung mengecek isinya. "Tenang, aku tak ambil apa pun!" Sambil melangkah pergi.


"Eh, tunggu...!" Dinda mengejar pemuda itu namun Ratih kembali menarik tangan Dinda. "Apa-apaan kamu, bisa jadi dia punya niat jahat!" Nada suara Ratih tegas dengan alis berkerut.


"Enggak, dia kasih ini!" Dinda mengacungkan dompetnya. Dinda segera mengejar pemuda itu. Namun pemuda itu telah hilang ditelan malam.


"Sudah, kita fokus untuk pulang!" Ratih menggandeng tangan Dinda bergegas kembali ke mobil. Pak Dudung terlelap di bangku sopir.


"Surat tugas ini atas nama Dinda Fitriani dan Ratih Anggraini?" Tanya petugas chek point. 


"Ya, betul itu kami!" Dinda dan Ratih segera keluar dari mobil. 


"Maaf, kami sudah konfirmasi ke pihak rumah sakit tidak ada karyawan bernama ini. Silahkan kalian masuk ke sana!" Kepala petugas itu memberi isyarat dengan telunjuk.


Ratih dan Dinda saling pandang. Tiba-tiba wajah mereka pucat. Mengayun langkah lunglai menuju bangunan yang ditunjuk.


Di ruang tunggu, terdapat bangku panjang besi. Tanda silang besar selang seling jelas di permukaannya. Dinda duduk mematung. Matanya kembali basah. Ratih selang satu bangku di kirinya terisak-isak. Ratih pasti ingat ayahnya.


Baru satu menit Dinda duduk di sana. Masuk ke ruangan pemuda berjaket hitam tadi. Ia duduk selang satu bangku di kanannya. 


Mata Dinda membulat. Pemuda itu menurunkan masker di wajahnya lalu tersenyum ramah. "Eh, ketemu lagi. Kayaknya kita jodoh deh!" Dengan ringan ia berkata.


"Eh ...." Dinda gelagapan. Entah mengapa jantungnya jadi berdebar kencang. Ada embus hangat menyapu dirinya ketika pemuda itu hadir.


Pemuda itu menempelkan kedua telapaknya di depan dagunya. "Saya Rahman, tadi lupa belum kenalan." 


"Saya Dinda ...." Sejenak waktu berhenti. Pertemuan ini rasanya bagian dari takdir besar kehidupan kami. Sebuah pertemuan yang dinantikan sekian lama. Seperti cinta pertama yang berulang.


Aroma feromon pekat di ruangan itu, kau bisa mencium embus merah jambu di udara. Namun, itu buyar ketika petugas berteriak

"Ratih Anggraini!" Ratih yang duduk di samping kiri Dinda seperti tersengat listrik mendengarnya. Langkahnya berat memasuki ruangan pengecekan administrasi.


Baru dua menit Ratih di dalam sana. Terdengar jelas isak tangis Ratih kala menjelaskan alasan ia membuat sendiri surat tugas itu.


"Dinda Fitriani!" Petugas kemudian memanggilnya menyusul Ratih ke ruang pengecekan administrasi.


"Jadi, yang punya kepentingan cuma kamu?" Menunjuk pada Ratih. "Kamu cuma mengantar?" Dinda hanya mengangguk. 


"Baik, saya beri izin Ratih dan sopir untuk melewati check point. Sedang Dinda terpaksa harus balik lagi." Kalimat itu membuat tanda tanya besar di benak Dinda bagaimana ia pulang?


"Maaf pak, bagaimana saya pulangnya?" Dinda bertanya dengan mata berkaca-kaca.


"Tenang, sudah ada petugas kami yang dipersiapkan untuk mengantar." Bapak berseragam itu menjelaskan.


"Rini, panggilkan Rahman!" Petugas itu kemudian berkata.

Bersambung 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENJADI BERBEDA

MENDAMBA

Perjalanan Membingkai Makna