RIMA DAN RAHMAN (5)

 RIMA DAN RAHMAN (5)


"Wah! Kayaknya kalau Rahman tahu nama lengkapmu. Dia pasti makin cinta deh!" Tanti menggoda sahabatnya.


Rima mendelik sebal ke arah Tanti. Rima baru tahu ternyata Rahman adalah penggemar raja dangdut Rhoma Irama. Sungguh berbeda dengan dirinya yang begitu keki dengan nama itu. 


Entah mengapa orang tuanya memberikan nama Rima Irama untuk dirinya. Hingga sejak SD sampai kuliah setiap yang tahu nama lengkapnya pasti menggodanya.


"Tenang, nanti kalau dah naik pelaminan namanya jadi Rima Rahman." Tanti kembali menggoda.


Rima tersenyum pendar gemintang di matanya. Tanti ikut tersenyum hatinya sungguh bahagia sahabatnya bisa kembali jatuh cinta. Sayup mengalun reff lagu Syahdu.


Bila kamu di sisiku hati rasa syahdu

Satu hari tak bertemu hati rasa rindu


‘Ku yakin ini semua perasaan cinta

Tetapi hatiku malu untuk menyatakannya



"Ya! Sudah siap semua." Tanti mengacungkan jempol. Sepanci sayur sop dan sepiring ayam goreng siap disantap.


Tanti keluar dapur mencari Rahman. Ia menemukan Rahman sedang berbaring di sofa. Foto pernikahan yang tergantung di dinding sudah tak ada. 


"Masakannya sudah siap. Biasanya ditaruh dimana?" Tanti bertanya sambil membawa sepiring ayam goreng.


"Waah! Makasih ya. Saya jadi gak enak. Ngerepotin." Rahman bangkit dari sofa. 


"Iya gak apa-apa. Rezeki yang lagi sakit." Tanti menjawab.


"Disini gak ada ruang makan. Gak apa-apa disini?" Rahman menunjuk meja tamu.


Tanti menaruh piring ayam goreng ke meja. "Makan mah bisa dimana aja." Tanti menjawab santai.


Tanti kembali ke dapur. Rima sedang menaruh sayur sop ke dalam mangkok. "Mmm wangi!" Aroma bawang mengitari dapur. 


***


Makanan menjadi jalan keakraban. Hangatnya sayur sop dan gurihnya ayam goreng menjadi jalan Rima dan Rahman mengenal satu sama lain.


"Sebenarnya saya ingin bisa sampai lulus kuliah. Tapi, ya masalah biaya. Ibu dan bapa hanya buruh tani. Saya membiayai sekolah sendiri sejak SMA. Untungnya paman montir sepeda juga. Saya belajar pada beliau." Rahman bercerita sekelumit perjalanan hidupnya.


"Eh, boleh tau gak? Kenapa di plang depan pake kalimat "Cahaya kasih sayang?" Rima bertanya sambil asyik mengunyah ayam goreng.


Tanti melirik ke arah Rahman. Dalam hati sebenarnya ia tahu artinya. Wajah Rahman terlihat kikuk dengan pertanyaan itu.


"Hmm sebenarnya itu ... Biar menarik perhatian saja. Itu diambil dari perpaduan arti nama almarhumah istri dengan nama saya." Rahman menjawab dengan ragu.


Mendengar jawaban Rahman ada bersit cemburu di dada Rima namun akal sehatnya berkata wajarlah itu kan memang istrinya. Ia saja yang tak jadi menikah begitu sulit untuk move on apalagi Rahman yang telah menikah.


"Gak apa-apa kok ..." Rima tersenyum ringan. Matanya menyapu dinding ruang tamu menyadari foto pernikahan Rahman dan almarhumah istrinya sudah tidak lagi tergantung di sana. Ia tahu Rahman pun menjaga perasaannya.


"Terima kasih, enak sekali masakannya." Rahman tersenyum sambil mengusap perut.


Adzan Ashar berkumandang. "Eh, udah sore ya? Gak kerasa!" Tanti teringat ia harus menjemput Adam dari sekolah.


"Maaf, Rim gak apa-apa kamu pulang naik ojol ya?" Tanti berdiri membawa tasnya.


Rima mengangguk kikuk. Ia kini hanya berdua dengan Rahman. 


"Mau sholat dulu?" Tanya Rahman memecah kesunyian selepas Tanti pergi.


"Saya gak bawa mukena. Nanti saja di rumah." Rima menjawab wajahnya tertunduk memesan ojol.


"Oh iya. Gak apa-apa ya ditinggal. Saya sholat dulu." Rahman menyeret kakinya menuju kamar mandi.


Waktu berjalan pelan. Rasanya satu abad menunggu ojol datang. Rahman keluar dari kamar mandi. Pendar wajah Rahman selepas wudhu memberikan ketenangan di hati Rima.


"Eh, itu sudah datang motornya." Rahman menunjuk ke arah pagar. Rima segera berdiri.


"Terima kasih ya sudah datang kesini. Insya Allah selepas sembuh saya datang ke rumah lagi." Rahman menatap lekat Rima. Rima tersenyum lalu mengangguk pamit.


***


"Bagaimana, Rima sudah pulang?" Tanti berbisik dari arah dapur. Rupanya Tanti tidak menjemput Adam. Ia tadi hanya keluar rumah Rahman lalu masuk kembali lewat pintu belakang.


"Bagaimana acting kaki bengkak saya. Mantap kan?" Rahman tersenyum bangga dengan sorot licik.


"Tenang! Saya yakin Rima sudah jatuh cinta padamu. Tinggal tunggu waktu rumah ia akan memberikan segalanya." ucap Tanti sambil mengunyah sisa ayam goreng di piring.


Terdengar suara pagar digeser. Pintu rumah Rahman masih terbuka belum ditutup selepas tadi Rima pamit. Raut Tanti dan Rahman begitu kaget melihat Rima yang balik lagi. 


"Lho!! Tan bukannya kamu mau jemput Adam?" Alis Rima berkerut menaruh curiga. "Dompet saya ketinggalan. Makanya balik lagi," ucap Rima sambil mengedarkan pandang ke penjuru ruang tamu. 


Rahman yang tak menyangka Rima akan balik lagi langsung berdiri tanpa acting kesakitan.


Rima menemukan dompetnya di bawah meja. Sorot Rima yang biasanya ramah kini berubah marah. Hatinya yang awalnya merah muda kini berubah hitam kelam. 


Bandung, 17 Juli 2022


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENJADI BERBEDA

MENDAMBA

Perjalanan Membingkai Makna