JEJAK-JEJAK KARYA
KALA SENJA
Seekor naga tua
Telah ringkih dan renta
Matanya lamur
Giginya ompong
Sembur nyala apinya
Telah lama padam
Diam di sudut rimba
Menghirup duka nestapa
Sesak menghimpit dada
Bandung, 18 September 2019
Ini adalah puisi yang saya tulis di tahun 2019. Sebuah puisi yang mengilhami lahirnya cerpen berikut yang saya tulis di tahun 2021.
Kisah Sang Naga Renta
"Uhuk ... uhuk!" Kepul asap tanpa api menyembur dari mulut sang naga renta. Naga tua duduk di sudut hutan. Sorot matanya nanar. Mengigil kedinginan. Tanpa seorang pun kawan.
Benaknya memutar kenangan kala sayapnya merentang di angkasa. Mengepak ke tempat-tempat jauh. Diperebutkan para penunggang kesatria dari seluruh penjuru istana.
Kini di usia senja, tubuhnya ringkih. Matanya rabun. Kobar api di mulutnya telah padam. Naga renta berjalan terseok menuju Raja Rimba untuk meminta perlindungan.
Mata tajam elang mengamati langkah Sang Naga dari angkasa. Elang hinggap di depan paduka raja rimba mengabarkan tentang apa yang dilihatnya. "Paduka, saya melihat seekor ular raksasa dengan sayap mirip kelelawar berjalan menuju istana!"
Paduka mengerutkan alisnya. Benaknya memutar, mencoba menemukan binatang apa itu. Rakyat manakah yang telah ia lewatkan? "Benarkah itu yang kau lihat, Elang?" ucap Raja Rimba dengan wibawa.
"Pengawal, siapkan pertahanan!" Paduka memerintah prajurit kerajaan untuk bersiaga.
Sang Naga sampai di depan istana Raja Rimba. Raut Naga heran mengapa banyak prajurit berjaga. Padahal ia hanya Naga yang renta. Naga mengucek matanya yang mulai rabun. Ia mencoba menajamkan lagi pandangannya.
Satu anak panah mulai mengarah pada dirinya. Aliran adrenalin mengalir deras. Membangkitkan buluh-buluh semangat yang layu. Ada sensasi yang sangat kuat ia rasakan. Matanya memejam, terbayang pertempuran yang pernah ia lalui di masa muda.
Naga merentang sayapnya. Mengepak sekuat tenaga. Ia telah lupa caranya terbang. Matanya membelalak tak percaya. Ia mengangkasa.
Anak panah mulai menyerbunya lagi. Refleks bertarung membuatnya mengembus api dari mulutnya. Awalnya hanya beliung asap yang keluar namun di embus yang kedua api mulai memercik dari mulutnya.
"Ini keajaiban!" sahut Naga tua gemetar tak percaya. Ia mengepak sayap makin kencang meninggalkan istana Raja Rimba.
Sambil mengendarai angin Naga renta menyadari mungkin selama ini ia tak berdaya karena ia hanya diam saja.
Bandung, 22 November 2021
Membaca ulang dua karya saya ini, membuat saya tersadar sesuatu:
1. Karya bisa jadi sesuatu yang tanpa kita rencanakan percik ide dari hal yang sebelumnya telah kita tulis.
2. Dokumentasi karya itu sangat penting. Saya menulis di google keep dengan folder yang saya namai setiap ikut challenge menulis.
3. Mengikuti challenge menulis sangat membantu saya menemukan ciri khas tulisan.
4. Membaca ulang karya kita yang lampau ternyata mencerahkan. Saya sendiri terheran-heran melihat pertumbuhan karya dari tahun ke tahun.
5. Perlu juga membandingkan tulisan kita kini dengan tulisan lampau (tak hanya membandingkan dengan tulisan orang lain). Kala kita konsisten menulis terasa ada perbaikan di perjalan waktu.
6. Penulisan titi mangsa di setiap karya yang kita tulis sangat penting karena dari situlah kita dapat menelusur kembali perjalanan karya kita.
7. Saya sungguh bersyukur Allah izinkan untuk terus bertumbuh dalam menulis.
Bandung, 12 Juni 2022

Iya benar. Kita bisa belajar dari mana saja. Dari tulisan orglain maupun dari tulisan kita sendri. Puisi dan cerpennya dalam makna, sy membacanya seperti terhanyut olehnya. Trslah brkrya, tukislah mnggoreskan pena dlm bntuk tulisan apa saja, kelak ia akn menemukan pembacanya sndri
BalasHapussemangat kak, semakin sering kita berlatih menulis maka tukisan pun akam semakin bernas kak, asalkan jangan berhenti menulis.
BalasHapus