Jambu Air di Pinggir Lapangan
JAMBU AIR DI PINGGIR LAPANGAN
Pagi ini saya berjalan mengelilingi lapangan sekolah. Langit biru membentang dengan angin sepoi yang menyegarkan. Tepat di samping lapangan basket ada beberapa pohon buah yang tumbuh. Ada pohon nangka, mangga dan jambu air.
Ketika mengayun langkah, kaki saya menendang buah jambu air yang sepertinya jatuh dari pohon. Dalam hati saya bergumam, sepertinya jambu air di pohon itu sudah matang sampai jatuh sendiri.
Sambil berjalan saya cermati lebih saksama pohon jambu air itu. Mata saya membelalak menangkap tiga buah jambu air menggelantung di dahan yang rendah. Sepertinya dengan berjinjit bisa dipetik.
Warna jambu air itu begitu memikat. Satu buah warnanya merah muda di bagian yang dekat tangkai semakin ke bawah berwarna hijau muda. Sedangkan yang satunya lagi hampir semua bagian berwarna merah muda. Ah, terbayang betapa segarnya memakan itu setelah jalan kaki 30 menit.
Setiap saya lewat pohon jambu air itu saya tatap dengan mulut yang tersenyum. Saya merencanakan akan mengambil kursi di dekat lapangan kalau berjinjit tidak bisa dipetik. Saya lirik terus setiap melewati dengan harap betapa akan menjadi moment istimewa bisa memakannya kelak. Ini pertama kalinya jalan kaki berhadiah buah. Wuih, asyik mata saya berbinar.
Saya lirik jam tangan. Tinggal satu menit lagi menuju 30 menit berjalan kaki. Ada debar di dada membayangkan peristiwa setelah ini. Tak sabar ingin memetik jambu air yang didamba.
Saya berdiri tegak di bawah dahan jambu air tadi. Kaki saya jinjitkan maksimal namun jari tangan tak juga menyentuh sang jambu air pujaan. Berarti kita gunakan rencana ke dua yaitu membawa kursi lalu naik untuk memetiknya. Saya berjalan ke pinggir lapangan kebetulan ada kursi di sana. Menaruh kursi tepat di bawah dahan jambu air. Hap, dua jambu saya petik.
Mekar bunga di hati kala impian jadi kenyataan. Terasa dingin di tangan kala merabanya. Ah, ini akan segar. Saya tekan dengan jari ternyata sangat keras. Tak bisa saya tekan dengan telapak agar terbagi dua. Ini mah, harus pakai pisau benak saya berbicara.
Saya melangkah ke ruang guru. Beberapa guru melihat jambu air di kepal tangan saya. Saya tersenyum menjelaskan tentang jambu air yang saya temukan di lapangan belakang. "Oh, itu saya juga pernah petik. Tapi, gak enak bu!" Seorang guru berceloteh. Perasaan jadi gak enak nih. Benarlah, setelah saya potong lalu gigit jambu airnya masih mentah di lidah terasa kesat dan pahit. "Iya bu, kalau sudah warnanya merah tua baru manis. Kalau gak salah itu namanya jambu bol," guru tersebut kembali menjelaskan.
Saya tersenyum lebar di permukaan wajah namun dalam hati mengembus kecewa. Ternyata tampilan yang begitu menarik dan menggiurkan di luar belum tentu rasanya manis dan menyegarkan.
Bandung, 13 Juni 2022


lihat gambar jambunya jadi pengen bu....tapi yah begtulah gak sesuai ekspektasi ya bu, hihihi...
BalasHapusHaha dont judge a book from that cover berlaku juga kah utk jambu air yg dikira seger dan manis itu tryt pahit dan kelat.. oh jambu bol trnyata😁
BalasHapusWaduh... Ternyata kenyataan tak seindah ekspektasi 😂
BalasHapussaya sering lho membeli buah yang menurut perkiraan saya manis ternyata tidak manis atau hambar. harus tanya dulu ke penjualnya apakah ini sudah matang dan manis? biasanya mereka akan memberikan pilihan mana yang masih mentah dan mana yang sudah matang
BalasHapusMemang ya, jangan sembarangan ambil makanan. Apalagi kalau sampai terkecoh sama tampilan luarnya yang tampak menggiurkan, eh sekali di makan malah tidak sesuai dengan harapan.
BalasHapusHarus paham dan ngerti soal buah buahan ya kak biar tahu buah itu manis atau enggaknya. Karna kalo nggak tahu sering salah kira, dikira udah mateng, manis eh ternyata rasanya nggak sesuai.
BalasHapusjadi pengen jambu air hehehe, biasanya segar dan manis karena banyak air
BalasHapusDi PHP-in sama jambu, ya Kak, hehehe :d
BalasHapusMungkin belum matang itu jambu nya mbak... Hehehe
BalasHapusiya emang jambu bol mah harus mateng banget
BalasHapuslangsung ketawa pas udah nyampe akhir soalnya perna juga ngalami tapi dengan versi yang berbeda ...hihihi..
BalasHapusHahaha... jadi keinget dulu saya waktu kecil suka metik jambu tetangga
BalasHapus